Ratih Kumala : Profesi Penulis Mampu Menghidupi.

“Aku berharap di negara kita suatu hari penulis bisa menjadi profesi yang benar-benar menghidupi mereka yang memilih untuk jadi penulis”

Ratih Kumala, masih seorang perempuan biasa yang benci menyisir rambutnya sendiri, masih menyukai kopi walau sedang berusaha mengurangi…juga selalu merasa geli melihat ulat di sayuran. Lahir di Jakarta tanggal 4 Juni 1980. Menulis novel pertamanya berjudul Tabula Rasa (Grasindo 2004) yang meraih juara 3 di Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003 dan novel keduanya berjudul Genesis yang masih dibaca teman-teman dekat saja.

Beberapa cerpennya dimuat koran dan antologi bersama (Machine Sex and Love, Metamorfosa Cicak di Atas Peta). Pernah masuk jadi semifinalis puisi berbahasa Inggris di International Open Poetry Contest 2001. Belum lama cerpen Nach Westen terpilih jadi salah satu cerpen terbaik di Sayembara Cerepn Horison 2004. Kadang-kadang tulisannya dimuat di media massa, kadang-kadang ditolak atau sama sekali tidak terdengar kabarnya gimana.

Suka kumpul-kumpul dengan teman-teman komunitas rumah baca Bumimanusia, Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Sketsa Kata. Penikmat teater dan tari, kadang diminta baca puisi, monolog cerpen atau jadi pembicara di forum. Mengganjili kegiatan-kegiatan sastra kalau dimintai tolong. Mencintai laut dan sempat ikut berlayar dengan kapal ekspedisi Majapahit walau sebentar. Belajar sastra Inggris di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Belajar menulis dari buku-buku yang dia baca (mungkin lebih tepatnya “meniru menulis”). Sekarang masih numpang hidup bersama orang tua dan dua adiknya; Dipa dan Indra di Solo. Bisa di kontak melaui e-mail: kumalaratih at yahoo dot com.

Berikut ini petikan wawancara dengan redaksi rayakultura Andre Birowo

Sejak kapan senang menulis? Apakah karena juga didahului dengan senang membaca?
Aku senang menulis mulai dari SMP, tapi lebih banyak untuk konsumsi sendiri. Sama sekali tidak pernah dimuat, cerpen-cerpen yang aku buat kadang tidak selesai. Sejak SD aku langganan majalah Bobo, suka sekali dengan cerpen-cerpen yang ada di majalah itu. Selain itu juga aku hobi baca buku-bukunya Enid Blyton. Mulai rada ABG bacanya buku-buku karangan Hilman. SMA aku vakum nulis, hanya baca saja. Saat kuliah aku mulai aktif nulis lagi dengan bacaan yang lebih berat. Kebanyakan buku-buku yang kumiliki adalah novel, baik itu novel berbahasa Inggris maupun Indonesia, sebagian pengembangan diri juga kumpulan Esai. Aku paling suka dengan Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohammad. Aku kagum dengan cara bertutur Remy Sylado, dan daya khayal JK Rowling. Aku menikmati tulisan Ayu Utami dan Oka Rusmini yang kadang membuatku merinding.

Budaya menulis bagi orang Indonesia belumlah terlalu lumrah. Kapan nich Ratih mulai senang menulis? Apa saja yang ditulis ketika baru menyukai menulis
Mungkin karena pengaruh latar belakang pendidikanku dari Sastra Inggris dan kami banyak belajar tentang karya-karya penyair yang klasik, aku memulai “pemanasan” nulis lagi (setelah vakum nulis saat SMA) waktu itu dengan menulis puisi-puisi berbahasa Inggris. Setelah itu baru berkembang ke cerpen dan novel. Saat aku menulis cerpen dulu, kebanyakan cerpen-cerpenku tidak ada judul dan sekarang menghilang entah kemana apalagi karena aku dulu sempat pindah kota.

Bisa diceritakan bagaimana prosesnya hingga ratih mengikuti lomba penulisan yang diadakan dewan kesenian jakarta tahaun 2003?
Aku menulis Tabula Rasa selama 1 tahun 8 bulan. Awalnya, ya…cuma ingin nulis novel aja. Kupikir novel itu proyek nulis yang besar dan lebih banyak menyita waktu dan pikiran. Beda dengan cerpen. Aku sempat keluar dari kerjaan tetapku hanya untuk nulis novel. Lagipula di tempat kerjaku waktu itu aku tidak merasa menemukan “jiwaku”, makanya aku memutuskan keluar dengan alasan yang konyol; ingin nulis buku. Setelah Tabula Rasa selesai aku minta beberapa teman untuk membacanya. Dan saat itu ada teman yang menyarankan untuk diikutkan ke lomba menulis novel DKJ 2003, tadinya novel ini mau aku ajukan ke perbit tapi karena ada lomba itu jadi aku ikutkan lomba.

Bagaimana rasanya ketika menjadi pemenang ke -3 dalam lomba tersebut?
Yang jelas senang. Nggak nyangka bisa menang, apalagi dengan saingan yang lebih berpengalaman di bidang nulis. Sedang aku, terdengarpun nggak. Kadang-kadang bertanya-tanya sendiri juga; kok bisa ya aku menang?

Apa sich yang menjadi motivasi utama bagi Ratih untuk menulis?
Sebetulnya nggak ada motivasi khusus, hanya karena ingin menulis ya…aku nulis aja. Dulu aku sempat rajin menulis diary setiap hari. Aku suka bercerita lewat tulisan tentang kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarku. Kupikir kalau dengan tulisan akan lebih bebas mengungkapkannya daripada dengan lisan, lebih luar juga cakupan penceritaannya. Nggak cuma bercerita kejadian tapi juga bisa menggali perasaan lebih dalam. Dan kalau mau melepas uneg-uneg dengan nulis itu sangat efektif lho, kita juga nggak harus menunjukkan tulisan kita ke orang lain.

Bagaimana awalnya sehingga Novel Tabula Rasa sehingga dapat diterbitkan oleh Penerbit Grasindo? Bagaimana perasaannya ketika diterbitkan?
Aku cukup beruntung sebagai penulis pemula karena tiba-tiba menang sayembara menulis. Sehari setelah aku menang, ada beberapa penerbit yang langsung menghubungi aku. Aku memilih untuk diterbitkan Grasindo karena beberapa alasan pertimbangan. Aku tahu ada banyak penulis pemula yang tulisannya bagus-bagus tapi mereka tidak seberuntung aku. Sangat sulit menembus penerbit agar bukunya bisa dibaca orang lain, harus melewati birocrazy yang berbelit-belit dan penolakan-penolakan yang beruntun. Dulu aku sempat berkhayal kalau pergi ke toko buku, wah…mungkin asik kali ya kalau bukuku bisa dipajang diantara buku-buku yang lain. Saat novelku benar-benar terbit dan itulah yang terjadi aku kadang nggak percaya aja.

Apa sich yang sebenarnya Ratih ingin katakan dalam Novel Tabula Rasa? Atau hanya mengalir begitu saja dalam proses penulisannya.
Tidak ada tujuan khusus atau hal-hal spesifik ingin aku ungkapkan, memang sebetulnya hanya mengalir begitu saja. Novel itu juga sebagian dari potret masyarakat yang aku lihat dan aku ingin membuka mata orang banyak bahwa ada kejadian seperti ini di luar sana. Itu saja.

Bagaimana proses penulisan Novel tabula rasa? Berapa lama prosesnya?
Awalnya aku punya draft yang kutulis kasar dengan tokoh-tokoh yang kuciptakan. Lalu aku mulai menulis, tapi di tengah jalan aku harus terganggu karena setting yang aku pilih adalah Rusia sedang aku tidak pernah ke Rusia. Makanya aku lalu mengumpulkan banyak referensi dulu yang kemudian aku pilah-pilah dan kutulis sebagai novel. Begitu terus, termasuk tentang narkoba juga. Proses menulis hingga titik lamanya 1 tahun 8 bulan, dengan waktu edit sana-sini kurang lebih 2 tahun.

Punya pengalaman yang menyedihkan dalam profesi penulisan? Lalu apa yang paling membahagiakan?
Kalau pengalaman sedih jadi ingat sekitar beberapa bulan lalu saat aku baru mulai nulis novel yang ke-2 komputerku error! Hard disknya rusak, aku kehilangan file. Kontan aku langsung histeris begitu tukang reparasi komputer bilang kalau hard disknya nggak bisa diselamatkan. Untung aku masih punya sebagian filenya di disket, aku terpaksa nulis ulang. Selain itu, penolakan-penolakan karya juga termasuk pengalaman yang menyedihkan bagi semua penulis. Termasuk aku juga merasakan penolakan-penolakan tersebut! Hehehe… Yang paling senang ya, kalau tulisanku bisa terbit dan dibaca orang banyak, tiba-tiba ada orang yang mengirimkan SMS dan kasih komentar baik itu memuji ataupun mencela. Rasanya senang aja, sebab bukankah penghargaan terbesar bagi seorang penulis adalah jika karyanya dibaca? ?

Beberapa waktu yang lalu (awal january 2005) saya melihat cerpen Ratih di Kompas. Sejak kapan nich mulai menulis cerpen?
Seperti yang aku bilang tadi, aku nulis diawali dengan cerpen-cerpen yang sebagian tidak selesai. Aku harus mengakui belum menemukan gaya menulis cerpen, tapi aku suka baca cerpen. Mungkin sedikit banyak aku meniru gaya tulis cerpenis-cerpenis yang aku suka. Aku punya banyak buku antologi cerpen dari cerpenis yang aku sukai; Oka Rusmini, Puthut EA, Veven SP. Wardhana, dan beberapa penulis lainnya.

Apakah punya suatu target atau mimpi dalam profesi kepenulisan?
Aku ingin bisa nulis novel untuk anak. Ada pesan moral dan berakhir bahagia. Hahaha… klise ya? Lagipula novel anak bisa dipaca oleh siapa saja tanpa orang tersebut merasa terlalu berat. Dan ternyata menulis untuk konsumsi anak lebih sulit daripada menulis cerita dewasa. Memasuki pikiran anak tidak semudah yang kita kira. Makanya aku sangat kagum dengan JK Rowling dengan Harry Potter-nya. Terakhir aku baca a Tale of Desperaux dan Life of Pi, novel anak yang bagus dan menghibur.

Bagaimana dunia kepedulisan di Indonesia? Khususnya di Solo tempat Ratih tinggal? Apa harapan Ratih untuk dunia kepenulisan di Indonesia? Saya juga mendengar bahwa Ratih kadang-kadang menulis untuk majalah daerah tanpa mengharapkan hasil dari copyrightnya.
Hehehe…iya, ada beberapa teman yang bikin sebangsa newsletter, majalah atau leaflet sastra. Mereka kadang minta aku untuk nulis di medianya, dan aku bersedia menulis walau dengan tanpa imbalan. Aku selalu mendukung kegiatan menulis apapun yang diadakan teman-teman, aku senang melihat teman-teman sama-sama di bidang nulis sebab aku juga merasakan sendiri susahnya merangkak di dunia nulis. Kalau tidak kita saling dukung, siapa lagi? Sayangnya di Solo dunia nulis belum terlalu berkembang, tidak seperti Jogja atau Bandung. Komunitas sastra di Solo hanya beberapa gelintir. Penulis-penulis di Solo mungkin bisa dibilang sebagian single fighter. Ada yang bilang juga kalo Solo cuma tempat singgah penulis-penulis saja. Aku mengharapkan penulis-penulis lebih punya banyak jaringan, agar lebih mudah juga bagi mereka untuk mempublikasikan tulisannya. Kalau masalah nulis sih, aku yakin kemampuan mereka sudah bagus, tapi yang kurang adalah kesempatan untuk keluar.

Bagi seorang penulis pada era saat ini, hal-hal apa saja atau ketrampilan apa saja yang akan menunjang kesuksesan sebagai seorang penulis?
Sukses jadi penulis ya? Mau minta tips ya? Yang lagi ngetrend kan chiklit. Kalo bisa nulis chiklit sekarang-sekarang ini lebih gampang boomingnya daripada sastra serius. Nulis aja chiklit, dan tidak perlu penelitian yang terlalu dalam dan memakan waktu. Gampang kan? Kalo ngomong soal faktor-faktor yang menunjang penulis bisa sukses ada banyak hal dan bisa-bisa masuknya ke politik budaya lho. Keterampilan menulis, aku yakin mereka yang suka nulis mesti piawai di bidang nulis. Hanya saja, apakah kita punya kekuatan untuk menyelesaikan sebuah tulisan itu sampai titik? Terutama kalau yang ditulisnya adalah sastra serius atau buku-buku yang butuh banyak melakukan penelitian terlebih dahulu.

Saat ini apakah Ratih hanya berprofesi sebagai penulis atau juga bekerja di bidang lain?
Aku tidak hanya jadi penulis, sebetulnya aku sudah beberapa lama menjadi research assistant. Aku bantuin dosenku di sebangsa lembaga penelitian. Hanya pekerjaan part time, jadi dapat duitnya kalau ada proyek saja hehehe… Ini juga membantu aku untuk latihan cari data. Sebetulnya sih pengennya suatu hari nanti bisa fokus di nulis aja. Tapi kita harus mengakui bahwa kehidupan penulis itu masih lebih banyak sulitnya daripada senangya. Teman-temanku yang penulis juga banyak yang kerja di bidang lain untuk mendapatkan penghasilan tetap (terutama yang sudah berkeluarga). Aku merasa pengharagaan untuk penulis di negara ini masih sangat kurang. Tidak bisa dipungkiri juga banyak penerbit yang tidak melakukan kewajibannya untuk membayar royalti penulis, ini aku tahu sendiri diatara teman-teman penulis lho. Hanya saja kita masih sungkan untuk mengungkapkannya. Padahal penerbit tersebut bisa hidup juga karena tulisan kita kan? Ada juga teman-temanku yang saking cintanya sama nulis, mereka memutuskan jadi pekerja buku; jualan buku di emperan dengan harga lebih murah, buka toko buku indie, mendirikan komunitas untuk sekedar kumpul-kumpul, mencari buku-buku second hand untuk dijual lagi dan mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan sastra.

Apa mimpi-mimpi Ratih dalam soal kepenulisan?
Aku berharap di negara kita suatu hari penulis bisa menjadi profesi yang benar-benar menghidupi mereka yang memilih untuk jadi penulis. Aku berharap negara kita bisa memberi penghargaan yang lebih tinggi untuk para penulisnya.

Comments

comments