Creative Writing

Referensi untuk Lomba Cipta Cerpen Genre Sastra Hijau

EMIL SALIM
BELAJAR PADA KEARIFAN RAHASIA ALAM

Gajah suka sekali makan durian
• Harimau menjaga manusia
• Beruk menunjukkan makanan bagi manusia
• Pacet bisa menjadi Kompas, petunjuk arah
• Novel Winnetou Kepala Suku Apache membuatnya jadi kutu-buku

“Ayah saya berkata, pandangi alam ini apa yang bisa dipelajari. Beliau berkata dalam pepatang Minang Kabau, Alam Ta Kambang Jadi Guru – alam yang terkembang adalah guru” – demikian kata Emil Salim yang kami kutip dari berita KBN Antara yang dipublikasi Sabtu 14 November 2015.

Nasihat tersebut disampaikan oleh ayahnya, Baay Salim, ketika Emil Salim masih anak-anak. Pada waktu itu Baay Salim bekerja di kantor Pemerintahan Belanda, tugasnya antara lain membangun jalan di wilayah Sumatera Selatan. Warga setempat berpesan kepada ayah Emil Salim agar jalur jalan yang dibuat oleh manusia jangan sampai memotong jalan yang biasa dilalui oleh kawanan gajah. Karena jalan tersebut merupakan jalur jalan untuk mencari makan kawanan gajah. Mereka adalah hewan yang sangat menyukai durian. Tapi yang mereka makan hanya durinya, duri durian, bukan isinya. Durian yang sudah dimakan oleh gajah dikeluarkan lagi bersama kotorannya. Kata Emil Salim, durian bekas dimakan gajah itu rasanya enak sekali. Harganya juga mahal, sepertihalnya kopi luwak.

Pelajaran berikutnya yang ia peroleh tinggal di pedalaman hutan. Ia kerap mendengar suara harimau yang mengaum di sekitar rumahnya. Ayahnya menasihati agar ia tidak takut. Karena harimau itu menjaga manusia, maka oleh orang Minang disebut datuk atau kakek.

BACA :   LOMBA MENULIS PUISI AKU CINTA INDONESIA

Ketika berusia 11 tahun, sebagai anak Minang Emil Salim belajar silat. Ia berguru kepada Guru Tora yang hebat, karena sudah lulus bersilat dengan harimau. Menurutnya harimau selalu mencari bukit atau daerah tinggi untuk menyerang lawan dari atas. Harimau tidak pernah menyerang yang dianggap lawannya dari bawah.

Untuk menaklukan harimau, menurut Guru Tora tidak harus menggunakan senjata tajam, pisau atau senjata yang dapat melukainya. Tetapi, Guru Tora melihat mata harimau, dan gerakan bahunya. Ketika ada kilatan di mata dan bahunya terangkat, artinya harimau sudah siap untuk menerkam. Maka pihak lawan harus menunduk dan pengalaman Guru Tora menurut Emil Salim, menendang kemaluan si harimau yang langsung kalah. Singkat kata, untuk menaklukkan harimau tidak perlu menggunakan senjata. Melainkan,cukup mempelajari gerak tubuhnya.

Selama tinggal di hutan, ayah Emil Salim mengajarkan harus bisa mencari makanan yang ada di hutan. Mencarinya pada siang hari. Kalau ada suara beruk, kera, siamang, monyet atau sebangsanya ramai bersahut-sahutan itu pertanda mereka selesai makan dan meninggalkan bekas buah yang mereka makan.

“Apa yang dimakan oleh beruk dan sebangsanya, bisa dimakan oleh manusia.” Cerita Emil Salim ketika kami wawancara awal September 2018 di kediamannya.

“Kita ke hutan masuk ke alam yang indah, Alam ciptaan Tuhan, kalam Ilahi. “Maka jangan kita rusak.” Pesannya.
Selain ayahnya yang mengajarkan tentang alam, juga gurunya, de Joong, ketika Emil Salim duduk di bangku setingkat di Sekolah Dasar di Lahat Sumatera Selatan. Ia mengenangnya dengan baik. Setiap hari Sabtu Pak Guru de Joong mengajak murid-murid masuk hutan, tepatnya di kaki bukit Serelo. Sambil berjalan di hutan, gurunya menjelaskan berbagai flora dan fauna yang ada di hutan tersebut. Salah satu fauna yang dijelaskannya adalah pacet, yang dikenal sebagai penghisap darah manusia. Ternyata pacet bisa dijadikan kompas – penunjuk arah.

BACA :   Menyowani Alam Melalui Aksara (SASTRA HIJAU)

Pak Guru de Joong juga mengajak murid-muridnya minum madu dari sejenis bunga sebagai pengganti air dan memakan buah-buahan yang juga dimakan beruk. Apa yang diajakan gurunya tersebut membuat Emil Salim berpikir bahwa hutan itu bisa dijadikan buku pembuka rahasia alam. Maka buku itu jangan sampai rusak. Hutan harus dipelihara eksistensi dan fungsinya.

Bila tidak mengajak murid-muridnya ke hutan, Pak Guru de Joong membacakan buku cerita pada jam pelajaran terakhir. Menurut Emil Salim, gurunya itu mahir sekali dalam gaya membaca, suaranya bisa ganti-ganti sesuai dengan tokoh dan karakter yang ada di dalam buku cerita yang dibacanya. Sehingga suasananya menjadi terasa hidup. Buku cerita yang mengesankan Emil Salim adalah serial Winnetou Kepala Suku Apache karya Karl May, pengarang asal Jerman.
“Saya sangat terkesan dengan tokoh Old Shatterhand dengan sahabatnya, Winnetou, kepala Suku Appache,” tutur Emil Salim sambil tersenyum.

Sebab, gurunya selalu membacakan di bab-bab yang seru ceritanya. Emil sangat sedih ketika Winnetou tertembak dan ia mencari tahu kelanjutannya dengan membeli buku cerita serial tersebut. Tidak hanya itu saja, ia bersama teman-temannya jadi ‘tersihir’ melakonkan karya Karl May tersebut. Waktu liburan tiba ia bersama teman-temannya menjelajah hutan memerankan tokoh-tokoh yang ada di buku karya Karl May tersebut antara lain Old Shatterhand, Winnetou dan Kara-ben-Nemsi. Mereka membawa semur daging dan di panggang di pinggir Sungai Lematang, meniru suku Indian. Agar pulangnya tidak tersesat mereka memberi tanda di sepanjang jalan yang mereka lewati ketika masuk hutan.

BACA :   Buku Sabda Pena Akan Terbit Maret 2015

Bagi Emil Salim membaca buku Winnetou sungguh asyik. Karena Karl May membawa pesan kedamaian, keikhlasan, keadilan, kebenaran dan ketuhanan,. Ia mengaku, setelah selesai membaca buku “Kematian Winnetou”, ia termenung air matanya meleleh: Alangkah agungnya pribadi Winnetou, kepala Suku Indian Apache!.

Sumber dan Referensi
Wawancara dengan Emil Salim, 7 September 2018 di Patra Kuningan Jakarta Selatan
https://www.antaranews.com/…/kisah-bijak-emil-salim-di-alam…
https://beritagar.id/artik…/…/emil-salim-sang-pelintas-zaman
https://tokoh.id/…/1-ensiklopedi/mencari-kearifan-masa-lalu/

Tags

Related Articles

Back to top button
Close