Renny Yaniar : Bagaimana Saya Menulis Cerita Anak

Renny Yaniar adalah salah satu penulis cerita anak yang cukup produktif. Karya yang sudah dihasilkan yaitu sekitar 250 cerita anak berbentuk cerpen, dongeng, cergan dan komik anak. Ia juga telah menghasilkan 31 buku cerita anak. Salah satu bukunya menjadi Juara pertama penghargaan Adikarya Ikapi untuk buku cerita anak “Lautan Susu Cokelat” beberapa tahun yang lalu. Sesudah dirinya, tidak ada yang berhasil memperoleh juara pertama karena dianggap tidak ada yang layak oleh dewan juri hingga pada tahun 2005 ini. Saat ini ia adalah Pemimpin Redaksi Majalah Anak-anak Mombi, dan sebelumnya pernah bergabung di Majalah Bobo selama bertahun-tahun. Renny sangat mencintai dunia penulisan anak seperti napasnya sendiri.

Dibawah ini adalah pendapatnya yang telah disampaikan pada diskusi PENAKOM tentang pentingnya penulisan karya untuk anak pada tanggal 14 Mei 2005.

Sejak kapan mulai ‘Menulis Cerita Anak’?

Awalnya karena saya suka membaca. Saat saya kecil, orangtua saya menyediakan saya beberapa jenis bacaan, seperti Majalah Bobo, komik-komik Nabi, dan majalah-majalah lain. Namun majalah Bobolah yang paling banyak memengaruhi saya.

Saya senang melihat gambar rumah Bobo yang sangat nyaman. Saya membayangkan betapa senangnya tinggal di sana, dan mengalami banyak hal-hal lucu. Ada Bobo yang cerdik, Bibi Tutup Pintu yang gemar berseru,”Tutup pintu!”, Coreng yang gemar menggambar, Tut Tut yang suka main kereta api, dan Paman Gembul yang suka makan wortel.

Di majalah Bobo pula, saya berkenalan dengan dua hewan yang bersahabat. Persahabatan mereka sangat menyentuh hati. Rong Rong kucing dan Bona gajah kecil berbelalai panjang. Belalainya bisa disulap menjadi apa saja, untuk menolong orang-orang di sekitarnya.

Ada juga kisah Negeri Dongeng yang gambarnya luar biasa indah. Kisah-kisahnya sungguh membawa kita bertualang ke dunia dongeng. Bersama Nirmala dan Oki, kita melihat permadani terbang, kuda sembrani bersayap emas, kunjungan ke angkasa dan dasar laut, bertemu makhluk-makhluk ajaib, melihat pabrik pelangi. Sangat imajinatif.

Membaca petualangan Deni Manusia Ikan pun sangat menggemaskan dan menegangkan.Hati bertanya-tanya, kapankah Deni bertemu orang tuanya? Kapankah makhluk setengah ikan itu mendapatkan kebahagiaan yang dicarinya?

Cerpen-cerpen dan dongeng-dongengnya pun bagus. Banyak di antara cerita itu yang menggambarkan kebaikan hati, kesabaran, dan ketabahan tokoh-tokohnya dalam menjalani hidup yang sulit, atau dalam memperjuangkan sesuatu. Cerita-cerita itu mengalir saja. Mengilhami dan mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik, dan tidak menyerah dalam mencapai sesuatu.

Semua tulisan itu sangat berkesan buat saya. Saya pun jadi ingin menulis cerita anak. Karena saya pun memiliki sesuatu yang ingin dibagi. Baik itu ide cerita yang ada di benak saya atau pun pengalaman sehari-hari. Itulah awal saya menulis cerita anak.

Saya pun mulai menulis. Namun cerita-cerita itu hanya saya simpan. Bertahun-tahun kemudian, saat saya kuliah di jurusan jurnalistik, saya mencoba mengirim karya-karya saya, termasuk karya yang saya tulis sejak kecil. Saya mencoba mengirimnya ke berbagai media yang memuat cerita anak, termasuk Bobo. Sebagian di antara cerita-cerita itu ada yang dimuat, sebagian lagi dikembalikan atau tidak ada kabarnya.

Siapa saja yang berjasa dalam mendorong Renny menulis khususnya menulis cerita anak?

Banyak orang yang berjasa, sehingga saya punya keberanian untuk terus menulis. Hampir semuanya saya kenal saat saya masih kuliah. Ada Benny Rhamdani, teman saya sewaktu di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Melihatnya rajin menulis dan menceritakan pengalamannya menulis, saya pun jadi ingin rajin menulis seperti dirinya.

Ada Bapak Isman Santosa, editor cerita anak dari Majalah Bobo. Beliau rajin mengembalikan karya-karya saya yang tidak bisa dimuat dan memberi catatan-catatan untuk perbaikan. Ada Bapak Soekanto SA yang saat itu editor Gaya Favorit Press. Saya bertemu Pak Soekanto saat menyerahkan naskah. Sayangnya, naskah itu belum bisa dimuat. Dan Pak Soekanto beberapa kali mengirim buku-buku terbitan Gaya Favorit Press, disertai catatan, buku seperti inilah yang bisa dimuat. Mungkin banyak lagi orang yang berjasa, sehingga saya senang menulis. Dan saya sangat berterima kasih pada mereka.

Berapa banyak cerita atau buku anak yang telah diterbitkan?

Sampai saat ini saya sudah menulis sekitar 250-an cerita anak (cerpen, dongeng, cergam, dan komik). Karya-karya tersebut sudah dimuat di Majalah Bobo, Ananda, Suara Pembaruan, Bocil, Mombi, dan Kompas Anak. Saya juga sudah menulis 31 buku cerita anak. Dan saya sangat berharap, saya bisa menulis lebih banyak lagi cerita anak. Cerita-cerita yang lebih bagus dari yang pernah saya tulis sebelumnya. Karena sampai saat ini pun saya masih terus belajar menulis cerita anak yang baik.

Bagaimana komentar pembaca yaitu orang tua atau anak-anak yang membaca karya Renny?

Respon atau feedback dari pembaca buat saya sangat penting. Itu setidaknya memberi gambaran pada saya, apakah cerita-cerita yang saya tulis bisa menyentuh hati pembacanya atau tidak. Misalnya ada dua ibu yang bercerita pada saya, bahwa anaknya setiap malam ingin dibacakan buku The Dancing Fishes (Ikan-Ikan Penari). Ada juga seorang ibu yang bercerita, setiap malam sebelum tidur, anaknya berpura-pura menjadi tokoh Ringrang sambil berguling-guling. Anak itu mengatakan, “I dont want to swim, I don’t want to swim!” persis seperti berang-berang yang ada di buku Ringrang is Afraid to Swim (Ringrang Takut Berenang). Ada juga anak yang mengirim email pada saya, menanyakan apakah lumba-lumba pelangi itu benar-benar ada? Anak itu senang lumba-lumba dan sudah membaca semua hal tentang lumba-lumba, tapi tak mendapati tulisan tentang lumba-lumba pelangi seperti yang ada dalam buku Lumba-Lumba Pelangi Terakhir. Ada juga kritik yang dilontarkan seorang bapak pada saya, katanya cerita-cerita kurang action yang seru.

Apa pun bentuk feedback, pujian atau kritik, menurut saya akan sangat berguna bagi kemajuan seorang penulis.

Perlu saya katakan di sini, saya bukan ahli bacaan anak, saya juga bukan pengamat bacaan anak. Saya adalah orang yang senang menulis cerita anak, dan

Bagi penulis pemula salah satu faktor penghalang dalam menghasilkan cerita anak adalah masalah ide.? Bagaimana Renny memperoleh dan mengelola ide itu?

Ide itu itu bisa didapat dari mana-mana. Ada yang mengatakan, ide bisa didapatkan melalui bacaan, pendengaran, perasaan, penglihatan, dan pengamatan. Ide bisa didapatkan ketika membaca koran, buku, dan majalah. Ide bisa didapat saat menonton televisi, melihat pemandangan, bertemu dan berbicara dengan orang lain. Ide juga bisa didapat dari apa yang sedang kita rasakan, seperti sedih, marah, jengkel atau gelisah.

Itu memang benar. Saya mendapat ide saat melihat suatu peristiwa, mengobrol, menonton, dan jalan-jalan. Tapi membaca pun menyumbang sangat banyak ide. Membaca buku ilmu pengetahuan, membaca koran, membaca cerita anak. Bahkan melihat ilustrasi cerita anak yang bagus pun bisa mendapat ide baru, yang sama sekali berbeda dengan cerita yang dibaca tersebut.

Kalau kita mendapat ide, sebaiknya cepat dicatat. Karena menurut pengalaman saya, kalau ide-ide itu tak dicatat, ide itu akan terlupakan. Memang, sampai saat ini saya tidak selalu mencatat ide-ide yang terlintas. Kalau itu terjadi, sayang sekali. Karena biasanya saya tidak bisa mengingat ide yang sama persis, dengan ide yang terlintas saat itu. Padahal bisa jadi ide itu sangat bagus.

Ada saatnya ide-ide bermunculan dengan mudah. Namun ada kalanya sama sekali tak ada ide untuk dijadikan cerita. Kalau ini terjadi carilah ide sampai dapat, jangan menunggu sang ide datang.

Bagaimana Renny mendapat ide untuk beberapa buku cerita anak

Buku Jojo, The Green-Pencil-Tailed Gecko (Jojo, Tokek Berekor Pensil Warna) menceritakan tentang sekelompok tokek yang berekor pensil warna. Mereka adalah tokek yang senang berkelompok dan gemar menggambar. Sampai akhirnya timbul masalah saat Jojo, tokek berekor pensil warna hijau, merasa menjadi tokek yang paling penting. Saya mendapat ide cerita itu saat melihat cecak berlari di dinding. Cecak itu ekornya telah potus, dan sedang tumbuh ekor baru yang belum sempurna, sehingga bentuk ekornya seperti pensil. Saat itu saya bepikir, bagaimana ya kalau cecak mempunyai ekor pensil warna? Lalu ide pun berkembang menjadi sebuah cerita.

Buku Air, Selamat Datang! Menceritakan tentang seorang anak kecil yang menyadari betapa pentingnya air, karena merasakan betapa sengsaranya tidak ada air, karena air di kerannya tak mengalir. Sampai-sampai keluarganya harus minta air ke tetangga. Anak itu pun memutuskan untuk berhemat air, saat air sedikit atau pun melimpah. Ide itu didapat saat di rumah saya air tidak mengalir.

Buku Kebun Binatang 2158 mengisahkan kehidupan di masa depan, ketika banyak binatang sudah punah, sehingga anak-anak di masa itu hanya bisa melihat robot-robot di kebun binatang. Idenya timbul dari keprihatinan banyaknya hewan-hewan yang terancam punah.

Bagaimana Renny memulai Menulis Cerita Anak? Hal apa sebagai pendorong utama?

Keinginan yang kuat menulis. Itulah salah satu hal terpenting dalam menulis cerita anak. Tanpa keinginan yang kuat, sebuah cerita anak yang paling sederhana pun rasanya sulit terwujud. Mungkin kita bisa mengatakan, kita kekurangan waktu. Itu bisa jadi benar, tapi sebenarnya kalau menulis itu sebuah kebutuhan, menulis akan menjadi sebuah keharusan. Sehingga kita akan menyediakan waktu setidaknya setengah jam, satu jam, atau dua jam setiap harinya, khusus untuk menulis.

Nah, kita sudah mengharuskan diri kita menulis dan menyediakan waktu, kita bisa mencari ide dan tema untuk cerita kita. Atau membuka kembali buku catatan yang berisi ide-ide kita.

Tulislah hal-hal yang berarti untuk kita atau hal yang kita sukai. Lebih mudah kalau kita membuat kerangka cerita terlebih dahulu. Bagaimana alur ceritanya, siapa saja karakternya, bagaimana dan kapan setting ceritanya, bagaimana endingnya. Setelah kita mulai menulis dan terus menulis.

Usahakan, selesaikan dulu satu cerita, dan jangan berhenti. Tulisalah cerita semenarik yang kita bisa. Setelah kita menyelesaikan sebuah cerita, tinggalkan. Simpanlah tulisan untuk beberapa hari, lalu baca lagi. Saat itu biasanya kita akan menemukan beberapa kesalahan, dan itulah saat untuk memperbaikinya. Setelah itu editlah tulisan sampai bagus.

Bagaimana proses penulisan dari salah satu buku cerita anak karya Renny?

Saya beri contoh tentang proses saya menulis cerita Lautan Susu Coklat. Ide cerita itu muncul ketika saya ketika saya memikirkan susu coklat. Saya memang sangat suka rasa susu coklat. Saat itu terpikir oleh saya, apakah ada orang yang belum pernah meminum susu coklat, sehingga sangat ingin tahu bagaimana rasanya? Saya pikir, menarik juga menulis cerita seperti itu.

Setelah itu saya mencari tokoh untuk cerita saya. Setelah mencari-cari, akhirnya saya menemukan anak laki-laki bernama Tio yang berusia 8 tahun. Tio adalah salah seorang penghuni Panti Asuhan Kasih, milik Ibu Swasti yang penuh kasih.

Masalah dalam cerita ini adalah keinginan Tio untuk mengetahui rasa susu coklat. Tio menanyakan rasa susu coklat pada Ibu Swasti, tapi itu membuat Ibu Swasti sedih, karena ia tak mampu membelikan Tio susu coklat. Tio menanyakan rasa susu coklat pada teman-temannya, tapi teman-temannya malah menertawakan Tio. Mengapa? Karena karena susu coklat bukanlah hal yang asing buat mereka. Mereka meminumnya hampir setiap hari. Tio begitu ingin tahu rasa susu coklat, sampai-sampai memimpikannya. Di akhir cerita, Tio mendapatkan apa yang diinginkannya.

Saya suka akhir cerita yang menyenangkan, karena itu memberi harapan. Memang, ending cerita tidak harus selalu menyenangkan. Tapi setidaknya melegakan atau memuaskan pembacanya.

Ada saran untuk penulisan cerita anak?

Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam penulisan cerita anak . Kta memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, misalnya pengetahuan, informasi, dan hiburan. Dalam menulis cerita, kita ingin menyisipkan pesan moral. Sangat baik kalau cerita tidak menggurui. Biarlah anak menyimpulkan sendiri cerita yang kita tulis.

Kemudian bagaimana cara menyajikannya ? Tentu yang menarik lebih disukai. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana, jangan menggunakan kata-kata yang bersayap dahulu. Gunakan bahasa yang baik dan benar, tapi tetap ceria.

Karena anak-anak itu seperti gelas yang kosong. Kita ikut mengisi gelas itu. Yang mendidik anak adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat (termasuk kita media massa dan para penulis cerita anak). Karena pertanggungjawaban moral kita lebih besar, karena kita ikut mendidik.

Bisa memberi saran soal bagaimana mengirimkan cerita anak yang telah kita selesaikan?Juga bagaimana menentukan media anak mana yang pas dengan karya kita?

Kalau kita sudah selesai menulis cerita, mau diapakan cerita itu? Disimpan? Bisa saja, tapi sayang, bukan? Membuat sebuah cerita adalah satu prestasi, karena kita sudah melalui berbagai rintangan. Rintangan melawan rasa malas sehingga kita mau menulis. Rintangan mencari ide yang menarik, lalu mengembangkannya dalam cerita sampai selesai. Alangkah baiknya kalau kita mengirim cerita itu ke majalah kalau itu berupa cerpen, atau ke penerbit kalau karya kita berupa buku.

Sebelum mengirim cerita, pelajari dulu media atau penerbit yang akan kita kirimi naskah. Apakah mereka memuat atau menerbitkan cerita anak? Jenis-jenis cerita anak seperti apa yang mereka muat atau terbitkan? Kita bisa membeli dan mempelajari majalah atau buku yang diterbitkan. Apakah cerita yang kita tulis sudah sesuai dengan misi majalah atau penerbit tersebut? Kalau sudah demikian, kita bisa mengirimnya.

Saat saya mengirim cerita ke majalah dulu, saya menyertakan surat pengantar pada editor, berisi permintaan untuk dikembalikan dan dikoreksi, apabila cerita saya tidak bisa dimuat. Saya juga sertakan perangko pengembalian. Setelah saya lebih mengenal para editornya, itu lebih menyenangkan karena saya bisa berdiskusi tentang cerita anak itu secara langsung.

Mengirim cerita anak pada penerbit pun tak jauh beda. Di surat pengantar, kita bisa menceritakan ringkasan ceritanya, ditujukan untuk usia berapa buku tersebut, dan usulan kita tentang bentuk bukunya.

Jadi mengirim cerita anak kepada majalah atau penerbit, bisa lewat pos. Namun kalau media anak atau penerbit itu satu kota dengan tempat tinggal kita, apa salahnya menyerahkannya langsung. Siapa tahu kita bisa berkenalan dengan editornya. Siapa tahu dari pertemuan itu kita bisa mendapat banyak masukan yang berguna dan mendapatkan kemungkinan-kemungkinan lain.

Saya rasa, ada banyak majalah yang bisa kita kirimi cerita anak. Belum lagi para penerbit yang sangat banyak jumlahnya. Namun kita harus sabar menunggu pemuatan, karena biasanya banyak sekali stok cerita yang siap muat. Mudah-mudahan saja media anak yang cukup banyak itu bisa menjadi ladang yang subur untuk melatih keterampilan kita dalam menulis cerita anak.

Comments

comments

Tags: