Resensi Cerpen Kepada Tiankong, Langit yang Jauh

Identitas Cerpen

  • Judul : Kepada Tiankong, Langit yang Jauh
  • Pengarang : Naning Pranoto
  • Dimuat : Kompas 12/15/2002
  • Sumber : www.sriti.com/story_view

Cara dan Lama Baca

Dalam membaca cerpen Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini, saya membacanya sambil duduk, dan untuk menyelesaikan membaca cerpen ini, saya menghabiskan waktu sekitar tujuh menit.

Sinopsis

Cerpen berjudul Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini bercerita tentang pertemuan secara tidak sengaja antara seorang pemuda asal Indonesia dengan seorang gadis di sebuah pesawat terbang menuju Indonesia. Gadis itu berwajah sangat cantik dengan pakaian yang sangat sesuai ditibuhnya sehingga menarik perhatian setiap orang terutama bagi para laki-laki.

Tanpa diduga, ternyatab gadis itu duduk di samping kursi si Aku (si pemuda). Hal itu membuat jantung Aku berdetak sangat kencang, sehingga ia menjadi gugup dibuatnya. Keberuntungan bagi si Aku pun berlanjut, ternyata gadis itu ramah dan gadis itulah yang memulai pembicaraan diantara mereka.

Setelah pembicaraan berlangsung, ternyata diketahui bahwa gadis itu bernama Peony Wu, ia pergi ke Indonesia untuk mengunjungi Tian-Tiangkong untuk melaksanakan li, yaitu berbakti kepada keluarga. Tetapi tempat tujuan Peony membuat si Aku kebingungan, seumur hidup ia belum pernah mendengar tempat di Indonesia yang bernama Tian-Tiangkong. Untuk mengusir kebingungannya itu, ia pun menanyakannya pada Peony prihal Tian-Tiangkong tersebut.

ernyata Tian-Tiangkong itu berasal dari bahasa Mandarin yang berarti Langit. Tapi, bisa juga dimaknakan Surga atau Langit, Langit Yang Jauh…! Mendengar penjelasan singkat itu, si Aku tetap tidak mengerti maksud sesungguhnya, dan si Aku pun menanyakan kembali mengenai hal tersebut, lalu Peony pun menjelaskannya kembali.

Dahulu Di kota Batu-Malang nenekn Peony lahir, dibesarkan dan menikah serta punya tiga anak. Setelah menikah, ia dagang palawija, di Surabaya. Waktu perang kemederkaan ia menyumbangkan dagangannya untuk dapur umum, memberi makan para pejuang. Itu, karena kecintaannya terhadap Indonesia. Ironisnya, tahun ’62, ia dipulangkan oleh pemerintah Indonesia ke Tiongkok, karena ia tidak mau ganti nama Indonesia. Akhirnya ia terkena PP-10.

Karena PP-10 itu neneknya kembali ke Tiongkok. Karena ia lahir dan besar di Indonesia, maka ia merasa asing terhadap Tiongkok. Keterasingannya itu membuatnya gamang dalam menjalani hidup,di Tiongkok, apalagi ketika Mao Zedong memproklamirkan Revolusi Kebudayaan. Neneknya sempat gila karena disiksa oleh student yang menjadi Red Guard Mao. Itu, gara-gara nenekmya penganut Kong Hu Chu yang taat. Untung, ia bersama sepupunya berhasil melarikan diri ke Macao. Tetapi kedua anaknya hilang. Yang hidup tinggal ibunya yang kemudian menikah dengan orang Portugis

Neneknya meninggal dua bulan yang lalu, usianya 78 tahun. Ketika ia dipulangkan ke Tiongkok, usianya 38 tahun. Jadi, selama 40 tahun ia merindukan Indonesia yang disebutnya sebagai Langit Yang Jauh. Ia menyebut demikian karena untuk ke Indonesia baginya tidak mudah. Ia takut, kedatangannya ditolak pemerintah Indonesia. Maka, ia lalu berpesan, ketika meninggal minta dikremasi dan abunya ditaburkan di Gunung Sriti-Batu. Katanya, tempat itu sangat indah bak surga. Di Gunung Sriti ia punya kenangan manis, bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Sayangnya, suaminya itu tidak mau menyertainya kembali ke Tiongkok. Ia memilih tinggal di Indonesia, mengganti namanya dengan nama Indonesia dan kemudian ia menikahi perempuan Boyolali. Kabarnya, ketika meletus G 30 S PKI, suami nenek Peony dibunuh dengan cara yang keji oleh penduduk setempat, karena ia dituduh PKI! Tapi, bagaimanapun nenek Poeny tetap menganggap Indonesia adalah Tiankong, sebuah Surga dan ia ingin menjadi salah satu penghuninya

Akhirnya si Aku pun mengerti maskud dan tempat Tian-Tiangkong, lalu Poeny pun mengajak si Aku ke Batu-Malang, untuk melaksanakan li bagi neneknya.

Tanggapan

Cerpen ini memang sangat menarik dan memberikan banyak pelajaran bagi para pembacanya. Kita bisa mengetahui keadaan pada saat zaman setelah kemerdekaan dan bagaimana kehidupan yang dialami oleh warga-warga keterununan. Adapun tema cerpen ini adalah mengenai kerinduan.

Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang memang sederhana tetapi syarat akan makna. Para tokohnya pun seperti Aku, Peony Wu, dan nenek digambarkan secara jelas sehingga pembacanya bisa membayangkan bagaimana sosok dari para tokohnya. Aku adalah seorang pemuda biasa yang mudah tertarik pada wanita cantik serta memiliki sifat malu-malu. Poeny Wu digambarkan sebagai sosok wanita yang ramah, modis dan sangat cantik. Sedangkan nenek adalah seorang wanita tangguh, berpendirian dan sangat cinta Indonesia.

Alur dari cerpen ini bersifat mundur karena inti cerita ini adalah mengenai nenek Poeny Wu dan hal itu terjadi pada zaman dahulu, sehingga si penulis menggunakan cara penyampaiannya dengan cara Poeny Wu menceritakan kembali mengenai kehidupan neneknya kepada si Aku (pemuda). Adapun alur lengkapnya adalah sebagai berikut.

  • Masuknya Poeny Wu ke dalam pesawat
  • Bersebelahannya tempat duduk Poeny Wu dengan si Aku
  • Dimulainya pembicaraan diantara kedunya
  • Penceritaan mengenai nenk Poeny Wo dari semenjak ia dipulangkan sampai akhirnya meninggal
  • Pelaksanaan li bagi neneknya di Batu-Malang

Adapun sudut pandang yang digunakan oleh pengarang ialah sudut pandang orang pertama dimana hal itu cukup bagus, membuat para pembacanya seolah-olah dapat terlibat langsung ke dalam cerita tersebut.Adapun amanat yang dapat saya petik adalah kita harus cinta dan bangga akan tanah air kita Indonesia, seperti yang dirasakam oleh nenek Peony. Karena Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat indah bagaikan di Tian-Tiangkong

Cerpen ini memang sangat bagus umtuk dibaca oleh semua kalangan karena sangat merik dan mengandung bayak pelajaran yang dapat dipetik darinya.

Sumber:http://ithasartika91.blogspot.com/2011/04/resensi-cerpen-kepada-tiankong-langit.html

Comments

comments

Tags: