Rindu Embun Kelopak Tanganmu


Rindu aku memetik embun yang tetes dari kelopak tanganmu
Dulu, aku menguntainya sambil nembang bersama jiwaku
Kujadikan penghias ranjangku – ranjang kita, katamu
Kini ranjang dan embun itu tiada
Tapi wanginya menyisa

Lima windu kita bersama
Menanam pohon-pohon berdaun mutiara merah
Bibirku kau poles gincu dengan kemilaunya pancaran mirah
Aku pun fasih melafalkan puisi tentang aroma nafas manusia
Tapi aku jadi terasing
Kau biarkan aku sendirian di sudut gelap
Katamu, “Tak mengapa – hatimu berlampu bak kunang-kunang!”

Kemarau panjang tiba
Tetes tetes embun kelopak tanganmu memasir
Kau lupa bawa benang sutera jurai penguntai
Sementara, jemariku lelah menanti begitu lama
Kumerindu dan merindu, ‘tuk menguntai tetes-tetes embun kelopak tanganmu
Kala aku menoleh, kelopak tanganmu menitikkan butir-butir darah
Kau berbisik: “Aku lelah luka, lukaku lelah. Lelah lukaku.”
Kukecup keningmu, kau pun tertidur dalam damaimu
Sungguh indah, kau telah djadikan-Nya putih
Aku menyusul, meniti sulur-sulur agung-Nya
Kita teruntai di keabadian: mereguk tetes-tetes embun kelopak hasta-Nya

Gunung Pancar Bogor, Awal April 2012

Comments

comments