Puisi

Samar Tapi Mekar

Puisi Naning Pranoto

PROF. DR. SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA
(Pohon Payudara Ilmu)

STA demikian kesohornya
Sastrawan Angkatan Balai Pustaka eksistensinya
Filsuf kebudayaan dan ahli hukum pakarnya
Menekuni Ilmu Linguistik keahlian lainnya
Membuat karyanya tak terbilang banyaknya

“Layar Terkembang” novel feminis yang membuatku ingin dekat dengannya
Novel Filsafat “Grotta Azzura” karyanya membuatku kagum padanya
Kucari dia di Universitas Nasional yang didirikannya
Kujabat tangannya, sejak itu aku berguru padanya
Hampir setiap waktu aku mengasah otak di mindanya
Aku tak peduli orang mengkritiknya karena beda aliran pemikirannya

Anak kalimat. Cucu kalimat hingga cicit kalimat adalah ciri khas bertutur gaya penanya
Konsep globalisasi ia cetuskan dalam ilmiah wicara
Hanya mereka yang mampu mencerna pemikiranya bisa paham ke mana arah diksi berliannya
Jujur, aku kadang lelah mengejanya tapi aku menyala timba ruh ilmunya yang mencahaya
Maka karena STA aku menikah dengan bahasa
Juga mengkonsumsi perbedaan Timur dan Barat falsafahnya

Aku pohon yang berkluster pada genus STA
Juga pada Pramoedya Ananta Toer. Amir Hamzah. Iwan Simatupang. DJ. Driyarkara.
Memang tak sepenuhnya, karena aku juga mencangkok pada mahaguru mancanegara:
Sartre. Gandhi. Umberto. Maya Angelou. Nawal El Sadaawi. Toni Morrison. Virginia Wolf. Hemingway. Orwell. Nietzsche. Kong Fu Cu. Gabriel Garcia Marquez. Camus…

Masih sederet lagi aku menyusu pada pohon-pohon payudara pemikir
Membuatku bahagia bukan berakar pada standar kaya miskin, tapi apa esensinya?
Menyusu dan terus menyusu hingga akhir hidupku
🙏❤

BACA :   TOTALITAS & RETORIKA DALAM AKSI PANGGUNG PUISI

Foto: Kala aku diwisuda STA tahun 1986

Comments

comments

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Check Also

Close
Back to top button
Close