Sastra Hijau dan Eksistensi Bumi

Oleh Naning Pranoto

Naning Pranoto, Diknas, Rayakultura.netBumi terancam kehancuran yang luar biasa. Ancaman kehancuran timbul akibat ulah manusia yang mengeksplorasi bumi tanpa perhitungan hingga menghancurkan lingkungan hidup yang sudah melebihi batas toleransi. Eksplorasi bumi dengan berbagai motif ekonomi sulit dikendalikan karena dilakukan oleh pihak-pihak yang kuat dan berkuasa di dunia. Keadaan seperti itu tidak bisa dibiarkan. Bagaimanapun, bumi yang hanya satu itu harus diselamatkan. Sebab kehancuran bumi berarti kehancuran seluruh warga dunia.

Umat manusia belum terlambat untuk menyelamatkan bumi, di mana kita semua berada dan hidup di dalamnya. Tentu tidak mudah, sebab memang tidak ringan perjuangan untuk menyelamatkan bumi kita. Kita masih berhak untuk memiliki optimisme, sebab di dunia ini, di berbagai negara, masih banyak warga bumi yang memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam gerakan penyelamatan bola dunian yang sangat kita cintai ini.

Sudah tiba waktunya untuk setiap warga dunia, baik selaku individu ataupun lembaga (instituasi) bergerak, bekerja secara serius dan efektif, sesuai dengan kapasitas dan potensinya masing-masing. Langkah-langkah nyata, mulai dari gerak preventif hingga kuratif perlu secera dilancarkan secara saksama dan berkesinambungan. Satu di antara langkah nyata itu adalah gerakan penyadaran (conscientization), sejak aksi lokal, nasional, regional hingga bertaraf global.

Salah satu upaya penyelamatan melalui proses penyadaran bisa dilancarkan melalui gerakan budaya (cultural) terutama dengan memanfaatkan kekuatan sastra, baik dalam bentuk prosa maupun puisi. Kelebihan dan keunggulan sastra, ia memiliki potensi yang ampuh dalam menyadarkan hati nurani manusia sejagat, tanpa harus bernada menggurui atau propaganda yang terlalu bombastis.

Sehububungan dengan pemikiran itulah, kami sosialisaikan Gerakan Sastra Hijau. Yakni, sastra yang menawarkan inspirasi dan ajakan untuk menyelamatkan bumi. Antara lain menjaga kehijauan lingkungan secara berkesinambungan, khususnya terhadap hutan tropis kita, berikut melestarikan cadangan air tanah. Selain itu juga merawat dan mengembangkan kehijauan desa, kota, pulau-pulau dan semua benua yang ada di dunia.

Sastra Hijau telah menjadi gerakan sastra di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Cina dan beberapa negara di Eropa seperti Swedia, Swiss, Inggris, Belanda dan Jerman. Di Indonesia gerakan Sastra Hijau dimotori oleh PERHUTANI, dalam bentuk penerbitan buku yang akan terbit akhir tahun ini: Judulnya SENI MENULIS SASTRA HIJAU. Buku ini berisi arahan cara menulis puisi berikut contoh-contohnya. Selain itu, juga arahan cara menulis fiksi hijau: novel.

*
Sastra Australia, khususnya puisi, telah menyajikan Sastra Hijau sejak awal Abad 19 yang mereka sebut sebagai ‘Era Sastra Kolonial’. Puisi mereka dikenal dengan sebutan bush poetry dan penyairnya disebut bush poet. Kata ‘bush’ jika diterjemahkan secara harafiah adalah ‘semak-semak’. Dalam kenyataannya bush adalah hutan ringan khas Australia yang ditumbuhi aneka cemara, aneka gum, tanaman obat dan bunga serta aneka ilalang dialiri sungai-bunga berair bening. Bush selain dihuni oleh bushman, juga sebagai arena jelajah alam dan berkemah musim panas bagi warga Australia yang umumnya pemuja alam.

Bush poetry dipelopori oleh Henry Lawson (186 –1922), Banjo Paterson (1864-1941) dan Dorothea Mackellar (1885-1968). Puisi-puisi karya ketiga penyair ini dijadikan bacaan wajib bagi pelajar tingkat dasar hingga pendidikan atas di Negeri Kanguru. Juga digubah menjadi lagu. Bahkan puisi karya Banjo Paterson yang berjudul Walzting Matilda menjadi lagu rakyat yang sangat populer. Bahkan dianggap sebagai ‘lagu kebangsaan tak resmi’ dan dijadikan ilustrasi musik beberapa film Australia, hingga membuat lagu ini mendunia.

Henry Lawson yang semasa hidupnya memilih tinggal di ‘rumah pohon’, tidak hanya menulis puisi saja, tapi juga menulis cerita pendek. Ia menamai karya-karyanya sebagai ‘sastra balada’ – ekspresi suara jiwa manusia yang mencintai alam dengan sepenuh hati. Maka ia hidup dengan menjauhi hiruk-pikuk kota, yang dianggapnya sebagai sumber polusi yang mencemari alam. Jejak hidup Lawson kini banyak diikuti oleh generasi muda bush poet yang menamakan diri sebagai ‘penyair desa’. Mereka ini berkarya dan pentas membacakan karya-karya di dalam pelukan kerindangan bush. Siapa saja boleh bergabung dengan penyair aliran bush ini.
Gerakan Sastra Hijau di Amerika Serikat ditandai dengan terbitnya novel-novel yang ‘menyuarakan’ alam. Pelopornya William Faulkner (1897-1962), sastrawan agung yang mengaku dirinya hanya sebagai ‘petani’ yang gemar menulis. Padahal ia diakui dunia sebagai mahaguru bagi banyak sastrawan di muka bumi ini.

Dalam novelnya yang berjudul Big Woods, ia mengecam keserakahan manusia dalam mengendalikan dan mengubah alam. Novel yang ditulisnya tahun 30-an ini kini dianggap menjadi pencerah era kelam perusakan alam.

Di samping itu, novel karya-karya Faulkner lainnya, kini juga jadi inspirasi para aktivis penyelamat lahan pertanian dan para sastrawan masa kini yang bertekad menyelamatkan bumi melalui karya sastra yang dikenal pula dengan sebutan green-pen (tinta hijau).

Salah seorang sastrawati yang menjadikan senafas dengan Faulkner antara lain Annie Dillard. Ia pun tampil dengan novel-novel genre sastra hijau. Antara lain, novelnya yang berjudul The Living jadi national best-seller, bercerita tentang keindahan dan kesuburan bumi. Tapi, juga menyajikan pandangan yang realistis tentang penderitaan lahan pertanian. Sastrawati pemenang Pulitzer Prize kelahiran 30 April 1945 ini, adalah dosen bahasa Inggris di Universitas Wesleyan, juga menulis puisi, esai dan melukis. Semua karyanya sejak awal berisikan misi ‘hijau’ untuk menyelamatkan Planet Bumi.

Ia punya semboyan tegas yang ia siratkan pada karyanya – fiksi maupun nonfiksi dan lukisan, yang menjadi ciri khasnya, “Aku hidup bersama sungai dan pohon-pohon!”

Semboyannya ini mengobarkan spirit para pembaca karyanya untuk peduli pada kebersihan sungai-sungai alam dan melakukan gerakan penghijauan lingkungan.

Amerika Serikat juga punya penyair agung yang diakui sebagai pelopor puisi hijau yang menyuarakan alam. Dialah Emily Dickinson (1830-1886), perempuan lembut berpena ‘api’ dalam mengecam para perusak alam. Sejak ia menggoreskan penanya untuk menulis puisi dalam usia pra-remaja, Emily telah menunjukkan bahwa dirinya adalah sahabat alam, kembaran bumi yang bernafas aroma flora melagukan kidung burung-burung dan kupu-kupu. Baginya, Tuhan sebagai Sang Pencipta merupakan sumber kekuatan dan telaga inspirasi untuk berkarya.
Hampir setengah abad lamanya ia menulis puisi, tanpa pernah meninggalkan rumah dan kebunnya, membuahkan karya hampir 2000 judul. Karya-karyanya dicatat oleh sejarah sastra Amerika sebagai puisi klasik sepanjang masa. Puisi-puisi Emily menyuarakan keindahan dan rintihan alam berikut isinya dan keagungan penciptaNya. Nafas-nafas puisi-puisi Emily mengilhami pembacanya untuk mencintai bumi dan isinya, agar bumi tetap eksis dan menjadi ‘rumah’ yang nyaman dan damai bagi semua makluk ciptaannya. Maka tak heranlah, apabila karya-karya Emily tidak hanya dianggap sebagai karya sastra, tapi juga jenius dan futuristik. Beberapa karyanya diseleksi, sebagai pembawa pesan bagi generasi pewaris bumi agar senantiasa mencintai dan menyelamatkan bumi.

Di Inggris, gerakan Sastra Hijau digebrak oleh Brian Clarke, seorang wartawan yang dikenal suka ‘memancing perdebatan’ seputar isu tentang pencemaran lingkungan . Ia pun menulis novel berjudul The Stream, mendapat penghargaan Natural World Book Prize Britain. Alur novel tidak sangat lugas, menyajikan tentang kisah pilu dan ngenes dampak dari limbah-limbah industri yang mencemari sungai-sungai pengair lahan pertanian. Betapa kejamnya limbah industri. Ia tidak hanya merusak lahan pertanian dan tanamannya, tapi juga memunahkan aneka ikan, cacing penyubur tanah, burung-burung pemakan hama padi dan kawanan serangga indah penghias alam. Artinya, juga siap memunahkan manusia.

Novel The Stream benar-benar menantang kita untuk berupaya mengubah limbah industri yang ganas dan kejam menjadi limbah yang ramah lingkungan. Tapi, bagaimana caranya?
Jawabannya: Sastra Hijau harus terus bergerak dan berkembang di seluruh muka bumi, ditulis oleh pena-pena yang punya nurani menyelamatkan eksistensi bumi. Mari, kita mulai menulis puisi atau fiksi hijau, dengan sepenuh hati

MELIHAT POHON HAYAT
Naning Pranoto

Pohon hayat
Tumbuh di arah kiblat
Tegak subur berdaun makrifat
Hidup tegar berbatang syahadat
Lestari abadi bertumpu hakikat

Pohon hayat tegak di pusat dunia
Anugerah dari yang Satu,
Bagi yang jamak
Tempat berlindung
Kaum yang selamat

Pohon Hayat
Berbuah dua
Bagai Adam bersama Hawa
Nenek moyang umat manusia
Meniti hidup di alam fana

Pohon Hayat
Hijaumu abadi
Daun-daunmu tak pernah layu
Walau musim silih berganti
Dahan dan rantingmu tahan waktu

Pohon Hayat,
Cabang-cabangmu mendongak ke atas
Menuding ke arah langit tinggi
Bagai menunjuk arasy Ilahi
Memberi petunjuk umat insani
Untuk berdoa sambil memuji

Pohon Hidup
Sinarmu tak pernah redup
Melindungi semua yang ada
Bunga sucimu tak pernah kuncup
Gambaran nyata alam semesta.

Comments

comments