SATRIA DAN SEBUAH KITAB KACA

Konsep Cerita Pementasan Wayang Ijo

SATRIA DAN SEBUAH KITAB KACA

Tokoh
1. Satria (Anak Petani)
2. Pohon Purba (Pohon Hayat)
3. Kitab Kaca (Laptop)

Setting
Bumi Hijau.

Paparan Cerita

Satria, seorang anak petani di kaki Pegunungan Kapur yang gersang. Ia bersekolah di SD Kembang Wangi 2, kelas lima. Gurunya bercerita bahwa Satria itu seorang murid yang rajin, tidak nakal tapi suka melamun. Hobinya menggambar. Yang paling ia sukai menggambar pemandangan alam. Ia pernah ikut lomba menggambar dan menjadi juara pertama se-kabupaten di mana ia tinggal.

“Mengapa kau suka menggambar pemandangan alam?” tanya Pohon Purba, Ketua Dewan Juri Lomba Menggambar.
“Pemandangan alam yang indah, membuat hati saya tentram – adem, begitu.” Sahut Satria.
“Makanya, kau gambar pemandangan yang indah-indah? Padahal pemandangan di sekitar lingkunganmu gersang.” Pohon Purba memandangi Satria dengan seksama.
Satria tersenyum, “Benar, Ki Purba. Itulah yang saya lamunkan siang dan malam. Tapi, saya ndak tahu caranya buat lingkungan sekitar saya menjadi hijau seperti yang saya gambar.” Sahut Satria, jujur.

Pohon Purba dan dewan juri Lomba menggambar saling berpandangan mendengar jawaban Satria.
“Maaf,kalau ucapan saya salah.” Satria salah tingkah. Keringat dingin tiba-tiba membasahi keningnya.
“O, kau tidak bersalah. Kau jujur. Aku akan memberitahumu bagaimana caranya menghijaukan lingkungan sekitarmu seperti apa yang kau gambar.” Tutur Pohon Purba dengan bijak.
“Bagaimana caranya, Ki Purba?” Satria ternganga, “Mana mungkin saya bisa?”
“Kalau kau kerjakan sendiri tentu tidak bisa. Ajaklah teman-temanmu.” Pohon Purba memberi semangat.
“Apakah Ki Purba akan mengajari saya dan teman-teman saya?” tanya Satria tak sabar.
“Ya. Aku akan mendampingi kalian. Dan…Kitab Kaca yang akan membimbingmu.” Pohon Purba menjelaskan, sambil memegangi kotak dan diberikan pada Satria, “Inilah…Kitab Kaca itu. Untukmu. Hadiah sebagai pemenang lomba menggambar – Juara Utama.”
“Laptop? Inikah yang namanya laptop? Kitab Kaca?” mata Satria membelalak. Baginya baru pertama kali itu ia melihatnya secara dekat dan dipeganginya erat-erat. “Bagus sekali. Selama ini hanya saya lihat di tivi.” Sambungnya penuh haru, “Ki Purba, bagaimana caranya menggunakan laptop ini?”

Pohon Purba lalu mengajari Satria menggunakan laptop yang disebut pula sebagai Kitab Kaca. Satria diajaknya berkelana di Kitab Kaca, yang disebut browsing.
“Sebelum mencari tahu cara menghijaukan tanah gersang,kau harus tahu dulu, berapa usia Bumi – rumah kita satu-satunya…,” Pohon Purba mengarahkan. “Nah, kita klik di sini…kata kuncinya Usia Bumi.”

Munculah sebuah artikel:
Ahli geokimia Universitas California Los Angeles( UCLA) menemukan bukti bahwa kehidupan telah ada di Bumi setidaknya 4,1 miliar tahun lalu, 300 juta tahun lebih awal dari dari yang sebelumnya diperkirakan. Penemuan ini menunjukkan bahwa kehidupan di Bumi muncul tak lama setelah planet tersebut terbentuk sekitar 4,54 miliar tahun lalu.
“Wowww…,” seru Satria. “Ternyata bumi seperti manusia ya, Ki Purba. Punya umur.”
“Benar. Bumi seperti kita. Punya umur. Ia hidup dan semakin menua. Ia perlu dirawat karena saat ini sudah sakit-sakitan akibat ulah manusia yang merusak bumi. Mari Bumi kita rawat agar panjang umur.” Pohon Purba menegaskan.

Kemudian Pohon Purba menjelaskan sekilas cara mengawali merawat Bumi secara mudah.
Penghuni Bumi, terhitung pada tanggal 1 Juli 2015 diperkirakan sebanyak 7,324,782,225 jiwa atau bertambah 1.1182% dari tahun sebelumnya yang diperkirakan berjumlah 7,243,784,121 jiwa.

Data tersebut berdasarkan hasil laporan dari Divisi Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebanyak itu pula yang harusnya merawat dan mencintai Bumi. Kini Bumi sudah menua, beragam masalah terus dihadapinya. Yang paling serius, ialah perubahan iklim. Perkembangan zaman memaksa Bumi harus menerima segala perubahan yang akhirnya berdampak tidak baik.

Melalui Hari Bumi, warga dunia diajak berkomitmen untuk mencintai dan merawat Bumi agar ia tetap lestari.
Bagaimana mencintai dan merawat Bumi dengan cara mudah?
Pertama, mengurangi penggunaan energi, caranya sederhana. Coba gunakan transportasi ramah lingkungan seperti sepeda, atau berjalan kaki. Selain sehat, cara ini juga menyehatkan Bumi.
Kurangi makan daging. Industri daging telah menghasilkan seperlima emisi gas rumah kaca di seluruh dunia.

Kembangkan pupuk kompos. Lebih dari satu miliar pon makanan dibuang tiap tahun. Untuk mengurangi limbah makanan sisa, mengapa tidak mulai membuat pupuk kompos?

Sesuaikan suhu air. Kita pengguna pemanas air untuk mandi? Jika ya, bijaklah cara menggunakannya. Karena limbah pemanas air ternyata juga memberi dampak buruk bagi Bumi.

Berhenti gunakan kantong plastik. Cintai Bumi dengan kurangi penggunaan plastik. Bahan dasar plastik sangat sulit dan membutuhkan waktu lama untuk dapat hancur.

Belilah produk lokal yaitu yang terdekat dari tempat tinggal kita. Apa hubungan produk lokal dengan mencintai Bumi? Ternyata ada hubungan antara produk lokal dengan Bumi. Ketika kita menggunakan produk lokal, maka jarak antar pun ikut berkurang. Dengan demikian, kita telah mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari kendaraan pengantar.

Jangan lupa matikan listrik. Mulai sekarang sebelum pergi, tak ada salahnya untuk mengecek setiap sudut rumah agar tidak ada peralatan listrik yang tertancap pada sumber listrik (kecuali kulkas) dan jangan biarkan lampu menyala terus menerus.

Praktikkan gaya hidup ramah lingkungan dengan penerapan budaya 3 R (Reduce, Reuse, Recycle). Penerapan 3R tersebut dapat menjadi salah satu solusi permasalahan sampah yang menggunung. Sampah itu selain sumber penyakit juga penyebab banjir.
“Hijaukan lingkungan sekitarnya dengan menanam tanaman dan pohon.” Ki Purba memberi pengarahan.

“Siap!” kata Satria penuh semangat..
Ia pun mengajak teman-temannya mulai merawat dan mencintai Bumi.
Mereka belajar dari Kitab Kaca.

Comments

comments