Karya Fiksi Peserta

SEHELAI BAJU BERBICARA

Penulis : Nur Badriyah

Pagi berkabut, sepi dan dingin. Kota ini separuh bernyawa ketika kapal laut milik Pelni yang kutumpangi berhenti di Pelabuhan Tanjung Perak. Kusibakkan rambu yang menutup sebagian wajahku sejak kapal merapat. Aku berjalan di selasar anjungan kapal, menunggu antrian turun ke bawah. Tiga hari dua malam aku berada di kapal yang telah mengguncangku hingga mual-mual, dan kepalaku pening. Deburan ombak yang membuncah, serta angin yang bertiup kencang, masuk ke dalam celah kamarku yang bersekat. Aku orang kampung yang tak pernah bepergian jauh.

“Tanjung Perak! Tanjung Perak!” suara bariton petugas kapal memecah lamunanku. Kulirik sekilas jam tangan usang yang melekat di lenganku, tepat jam tujuh. Aku bergegas menyandang tas ransel warna biru donker, tergesa-gesa menuruni anak tangga, bergantian dengan penumpang lainnya. Mualku menjadi-jadi, mataku mengabur. Terbungkuk-bungkuk aku berlari.

“Yenny!” seorang perempuan menepuk pundakku dari belakang. Aku tersentak kaget, ternyata Luna, kakakku. Ia bersama seorang laki-laki muda berperawakan tinggi, kurus, dan berkulit coklat.
Aku lalu berjalan beriringan bersamanya menuju tempat parkir mobil. Selanjutnya mobil melaju dengan cepat menuju rumah majikan Luna. Setibanya di rumah itu, aku membersihkan diri di kamar mandi yang ditunjukkan Luna. Aku diberi sarapan nasi kuning dalam kemasan bungkus olehnya. Sambil sarapan di dapur, aku berbincang sejenak dengannya.
“Nanti aku kenalkan kamu dengan kedua majikanku, Nyonya Christina dan Pak Hans, suaminya. Nanti kalau kamu ditanya, jawab saja kamu mau kerja di sini,” ujar Luna.
Bunyi pintu dapur yang tiba-tiba dibuka, membuatku melangkah mundur, tubuhku terbentur dinding. Sepasang suami istri pemilik rumah muncul di hadapanku.
“Kamu, Yenny?”
“Iya. Saya adik Luna, Cik,” jawabku.
“Mulai hari ini kamu kerja di sini membantu kakakmu, ya. Tugasmu memasak dan membersihkan rumah,” jelasnya.

Meski awalnya aku ingin bekerja di sebuah rumah makan atau toko, aku tak bisa menolak. Kakakku telah mengingatkanku agar aku menerima tawaran bekerja. Aku mencoba melakukan pekerjaanku. Hari demi hari kulalui bersama Luna, dan kami saling membantu. Semua yang kulalui tidak berjalan seperti harapan. Di tengah perjalananku di rumah majikan, terjadi peristiwa yang mencabik-cabik diriku. Aku bingung dan limbung, tak kuasa menghadapi itu semua.
*
Di satu sore setelah peristiwa itu, tatkala aku sedang menyapu halaman belakang, pundakku ditepuk dari belakang oleh nyonya majikan.

“Yen, aku mau ambil anak asuh. Kamu nanti yang merawat anak itu,” katanya.
Aku terdiam, tanganku gemetar hingga sapu ijuk yang kupegang jatuh ke tanah. Menjelang kedatangan bayi angkat nyonya majikan, aku semakin merasa gelisah. Ada perasaan yang tak mampu kuungkapkan. Tak menunggu waktu yang lama, hari yang dinantikan nyonya majikan itu, tiba.

Seorang perempuan paruh baya, agak gemuk dan tak terlalu tinggi, turun dari sebuah becak di depan rumah. Ia menggendong seorang bayi dan membawa sebuah tas yang isinya dipastikan berupa perlengkapan bayi. Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi. Ketika pintu dibuka, Tacik Nina, nama perempuan itu lantas melepas selendangnya. Ia menyerahkan bayi yang di bawanya kepada nyonya majikan. .Bayi yang sudah berada dalam gendongan nyonya majikanku, tiba-tiba menangis kencang karena sudah saatnya ia minum susu.

“Yen, bayi ini haus! Kamu buatkan susu,” ujar nyonya majikan.

“Baik,” aku bergegas membuatkan susu.

Setelah puas minum susu, bayinya mengantuk. Nyonya menyerahkan kepadaku untuk ditidurkan di kamar yang telah disediakan, Ketika akan mengganti popok dan bajunya, jantungku berdegup kencang. Aku melihat inisial sebuah nama yang pernah kutulis beberapa bulan yang lalu.

BACA :   DANDELION

Masih lekat dalam ingatanku, aku pernah melahirkan seorang bayi, namun beberapa hari kemudian dinyatakan meninggal. Aku tak percaya begitu saja, tapi aku tak punya keberanian menyanggahnya. Kucoba bertanya pada semua perawat di rumah sakit, semua sia-sia. Mereka mengatakan bayiku sudah meninggal.

Tak berapa lama sesudah itu, seorang perawat mengatakan yang terjadi. Bayi laki-lakiku dititipkan majikanku ke sebuah tempat penitipan bayi, yang tak jauh letaknya dari rumah sakit tempat aku melahirkan. Apa yang harus kuperbuat? Aku tak mungkin merawat bayiku dalam keadaan aku bekerja di rumah majikanku. Kucoba membelikan baju untuk anakku, aku berharap dapat melihatnya di tempat penitipan.

Pemilik rumah penitipan bayi itu ssedang tak berada di tempat. Aku tetap tak diperkenankan melihat anakku sendiri. Kutitipkan baju-baju itu kepada Dina, anak pemilik rumah itu, dan berharap suatu hari nanti aku bisa melihat anakku.
*
Peristiwa sebelum aku melahirkan sangat membekas di hati dan ragaku. Mulanya aku cukup senang bekerja di rumah itu, terlebih ada Luna. Gelagat kurang baik kurasakan saat aku sedang bersih-bersih rumah seperti biasa. Majikan laki-lakiku mendekapku tiba-tiba. Aku terkejut dan berteriak kencang hingga terdengar oleh Luna. Kedatangan Luna untuk sesaat menyelamatkanku dari perlakuan tak senonoh laki-laki itu. Laki-laki itu rupanya tak berhenti sampai di situ. Ia melakukan bermacam cara.

“Yenny, nanti kamu pijat bapak di kamar, setelah pekerjaanmu selesai,” perintah majikan perempuanku.
“Tapi, Cik. Saya nggak bisa mijit,” aku mengelak

Mendengar aku menolak, dengan kasar Cik Christina memegang tanganku.
“Kamu punya dua tangan, laksanakan apa yang saya suruh. Bapak bisa marah sama saya kalau kamu engga memijatnya,” hardik majikan perempuanku,

Aku masih terpaku diam ketika Cik Christina berlalu dariku. Dengan berat hati dan terpaksa, aku mengikuti perintahnya seraya berpesan pada Luna untuk mengawasi saat aku memijat Pak Hans.

Benar dugaanku, dalih meminta pijat rupanya sebuah siasat. Laki-laki itu meraba bagian tubuhku, berusaha menciumku, mendekapku kencang. Aku berontak sekuat-kuatnya, berusaha melepaskan tangannya yang hitam legam dan sedikit berotot. Aku terjatuh dari tempat tidur, lalu cepat berlari dari kamar itu dengan wajah sedikit memar.

“Kak! Aku takut! Aku nggak suka perlakuan laki-laki itu. Aku ingin ke pergi dan kerja di tempat lain,” aku menangis di pelukan Luna.

“Jangan gegabah, kita cari waktu yang tepat agar kamu bisa keluar dari rumah ini,” Luna menenangkanku.

Aku mencoba menepis rasa takut dan bingung, sambal terus berharap bisa pindah secepatnya. Bekerja dalam keadaan tak nyaman begini, rasanya jarum jam berputar sangat lama.
“Yenny, kemari!” panggil majikan perempuan.
“Iya, Nyonya?”
”Sabtu minggu depan kamu ikut suami saya ke luar kota. Kamu bantu suami saya membersihkan rumah sarang burung walet di Bojonegoro,” katanya.
“Apa Luna juga ikut?”
“Tidak!” jawabnya dengan ketus..

Mendekati hari keberangkatan, hatiku semakin tak menentu. Takut dan tidak berdaya. Laki-laki itu menghampiriku lagi ketika sedang mencuci peralatan makan dan masak di dapur. Ia langsung memeluk dan mencoba menggerayangiku

“Praang!” suara piring jatuh ke lantai. Aku berlari ke luar sambil berteriak histeris, meminta pertolongan. Tak ada satu pun orang di halaman belakang. Aku berlari ke halaman depan dan menemui kakakku, lalu menceritakan kejadian yang baru kualami.

BACA :   MAGNET CINTA

“Nyonya, saya mohon Luna ikut temani saya ke luar kota nanti malam bersama tuan.”
“Tidak! Kamu berangkat dengan suami dan anak saya, Hendrik!”
Sabtu sore menjelang maghrib, kami berangkat ke rumah sarang burung walet. Selama dalam perjalanan, aku tak bisa tenang. Aku duduk di depan bersama Pak Hans, anaknya duduk di jok tengah belakang, Mobil Ford Everest melaju dengan kencang di tengah senja yang riuh..

Kami tiba di rumah sarang burung walet yang sinarnya agak redup bila terlihat dari luar. Aku segera menurunkan beberapa peralatan yang dibutuhkan, sapu ijuk, serokan, alat pel, ember dan keperluan makan. Aku langsung menyapu dan membersihkan sebuah ruangan yang berisi tempat tidur dengan kasur seadanya, serta selembar tikar. Setelah selesai membersihkan ruangan, malam telah larut, Aku diperintahkan Pak Hans untuk tidur di tempat tidur yang ada. Hendrik dan ayahnya sang majikan tidur di bawah, menggunakan kasur gulung beralaskan tikar.

Saat tengah malam, aku melihat sekelebat bayangan orang dan langsung terjaga. Tiba-tiba ada tangan yang menggerayangi dan menindih tubuhku. Saat aku ingin berteriak, mulutku dibekap. Dipan kayu yang berderit-berderit menjadi saksi bisu kebiadaban keji yang sedang menimpaku. Aku diperkosa!

Suaraku parau, tubuhku lunglai. Aku telah melakukan perlawanan yang tak seimbang. Tubuh laki-laki tinggi besar itu dengan rakus telah melumat kegadisanku..Kegaduhan yang terjadi membangunkan anak majikanku. Ia melihat tubuh kekar ayahnya yang tak berbalut pakaian berada di atas tubuhku. Anak laki-laki kecil itu menangis, tak tahu apa yang telah terjadi. Ia terduduk sesaat, namun akhirnya tertidur kembali.

Laki-laki tak bermoral itu menyuruhku membersihkan tempat tidur yang telah ada bercak darah dan ceceran spermanya. Aku mengigil kedinginan, mataku nanar, pedih, ngilu, merasakan kesakitan yang amat sangat. Suara burung walet yang beterbangan di langit-langit rumah, ikut memecah malam jahanam yang menghujam diriku. Burung yang berjumlah ratusan itu seolah-olah mencibir dan mengejekku sebagai perempuan yang tak berdaya. Laki-laki bejat yang usai menggagahi dan melampiaskan nafsunya, tertidur pulas. Dengkurnya menggaung di atas ranjang tua, tempat ia menodaiku.

Esok paginya seolah tak terjadi apa-apa, lelaki bejat itu berusaha merayuku, membelai dan menciumku. Ia meminta berhubungan badan kembali sebelum balik ke Surabaya.
“ Jangan! Jangan! Pergi pergi!” suaraku yang melengking kencang, membangunkan Hendrik, puteranya. Ia menangis dan meraung-meraung, namun lelaki bejat itu tidak menghentikan tangisan anaknya. Ia marah-marah dan meludahi wajahku.
*

Beberapa minggu setelah peristiwa direnggut paksa kegadisanku, aku mengalami hal yang tidak pernah kualami. Aku sering mual-mual dan muntah, badanku sering pegal dan kelelahan tanpa sebab. Saat mencuci pakaian tiba-tiba aku merasa mual, langsung ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang telah aku makan tadi pagi.

“Kamu hamil? Siapa laki-laki yang menghamili kamu, ayo ngaku kamu!” hardik Luna pada Yenny.
Aku menangis tersedu-sedu, bersimpuh di kaki Luna. Aku bingung, tak bisa berkata-kata. Luna mengangkat tubuhku, mendudukkanku di kursi dekat halaman belakang.
“Aku, aku diperkosa Pak Hans, Kak. Kemarin waktu bersihkan rumah sarang burung waletnya.”
“ Apa? Lantas kamu tidak berusaha melawan?” tanya Luna dengan gusar.
“Aku sudah berusaha melawan sekuat tenaga, bahkan sempat terjatuh dari ranjang kayu. Setelah terjatuh, tubuhku diangkat dan ditelentangkan, mulutku dibekap dan tubuhku ditindih.”
Hari demi hari perutku semakin besar, tak bisa kusembunyikan. Nyonya majikan tiba-tiba datang menghampiriku. Rupanya Luna menemui Cik Christina dan menceritakan peristiwa di rumah sarang burung beberapa bulan yang lalu. Ia memberikan ramuan untuk kuminum. Tujuannya agar janin di kandunganku bisa digugurkan. Upayanya tidak membuahkan hasil.
“Nanti sore kamu siap-siap ke dokter kandungan bersama saya,” nyonya majikan memerintahkan Yenny.
Bersama nyonya majikan, aku ke tempat praktik dokter kandungan, di sebuah Ruko tak jauh dari tempat tinggal majikanku.
“Sudah berapa bulan?” dokter bertanya padaku. Aku cuma menggelengkan kepala, karena tidak tahu dan belum pernah hamil,
“Kapan terakhir kamu mengalami menstruasi” tanya dokter lagi.
“Jika tidak salah, enam bulan yang lalu,” aku tertunduk lesu.
“Dokter, tolong ini di aborsi saja,” nyonya majikan berkata pada Dokter Tony. tegas.
“Tidak bisa, saya tidak bersedia melakukan aborsi. Usia kandungannya sudah masuk tujuh bulan, terlalu riskan, dan itu melanggar kode etik,” ucap dokter dengan tegas.
Ketika usia kandunganku sudah sembilan bulan, aku di bawa ke rumah bersalin dengan mobil bersama nyonya majikan dan sopirnya. Tiba di rumah bersalin, aku di bawa ke sebuah ruangan. Tepat jam satu siang, aku melahirkan seorang bayi laki-laki.
*
Kini kupandangi bayi mungil berparas tampan di hadapanku. Kulitnya putih oriental. Teringat anakku yang dinyatakan meninggal oleh majikan perempuanku. Andai anakku masih hidup, mungkin seumuran dengan bayi ini. Mengapa tega sekali orang tuanya menyerahkan bayinya kepada orang lain?
Bayi laki-laki yang dipanggil Wawan ini, tumbuh menjadi balita yang lucu, pintar, tampan, dan menggemaskan. Aku yang bertugas menjaga dan merawatnya.
“Jangan dipukul! Kasihan dia masih kecil!” aku berteriak pada Hendrik yang sedang memukuli kepala dan menendang tubuh wawan.

BACA :   HANTARAN UNTUK GALUH

Mendengar teriakanku, Cik Christina datang membela Hendrik, anaknya. Aku segera mengobati luka Wawan sambil menggerutu. Lain kali, aku tak akan diam bila ada yang menyakiti Wawan, kataku dalam hati.
“Jangan-jangan, Wawan ini anak saya. Tubuhnya memang kuning waktu itu, dan masih harus dirawat, sedang aku sudah boleh pulang. Apa nyonya berkata benar anakku meninggal?” Yenny bertanya pada majikannya sambil menggendong wawan yang masih menangis.

Nyonya majikanku tak berkata apa-apa, dan berlalu begitu saja. Aku yakin, ini anakku yang sedang kuasuh. Anakku belum mati.*

Surabaya, 24 Agustus 2021

Profil Nur Badriyah

Perempuan berprofesi advokat ini lahir di Surabaya, 8 Pebruari 1969. Aktivitas sosialnya yang padat membuatnya banyak bergaul dengan beragam kalangan. Beberapa kasus fenomenal pernah ia tangani antara lain, kasus aktivis PRD, Kongres PDI Medan, umat Khonghucu, Terorisme, Pilkada, Pelanggaran HAM, Pembunuhan, Tindak Pidana Korupsi, Perempuan, Anak dll.

Di tengah kesibukan di bidang hukum, perempuan ini menyukai kegiatan heritage, travelling, mengoleksi pensil, bros, souvenir unik, membuat roti, kue, cake, puding dan beragam camilan legendaris. Usaha kulinernya diberi nama Jajanan Ning Nur.

Tiga buku antologinya yang sudah terbit: Antologi Essay, Hidup Ini Indah, Beib, Serial “Single Fighter Woman” 2018, Antologi Essay Hidup Ini Indah Beib serial Dear Ayah, “ Lelaki Pertamaku” 2019, Antologi Essay Jejak Kehidupan “Ketika Hidup dalam Titik Terendah” 2021.

Ia bisa dihubungi melalui :FB: Nur Badriyah, IG: nurbadriyah_ WA: 08852557087
Email: noer_badriyah@yahoo.com

Comments

comments

Tags

Karya Fiksi Peserta

Naning Pranoto Creative Writing Corner | Editor : Shinta Miranda

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Back to top button
Close