SEJARAH EMAS MUHAMMADIYAH

Oleh Sides Sudyarto DS

Sedikitnya ada dua titik kewaktuan yang pantas dicatat dengan tinta emas dalam sejarah kehidupan Muhammadiyah. Titik kewaktuan pertama yang sangat bersejarah ialah saat oraganisasi massa religius itu didirikan tokoh harum yang bernama K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta sekitar satu abad yang lalu.

Titik kewaktuan yang kedua ialah ketika Prof. Dr. Amien Rais yang menembus dinding-dinding kampus untuk berkeliling menantang tembok beton kekuasaan Orde Baru yang repressif itu. Saat itu belum ada orang yang berani melawan secara terbuka terhadap kekuasaan dan kekuatan Orde Baru.

Universitas, dalam sejarah tercatat sebagai penyemai utama kaum intelektual. Secara sederhana bisa dikatakan, bahwa seorang intelektual ialah yang berani mengatakan kebenaran (to tell the truth) di hadapan kekuasaan. Untuk penguasa yang tidak benar, seseorang yang mengatakan kebenaran sudah dinilai sebagai perlawanan.

Dengan menembusi dinding kampus, Amien Rais menciptakan suatu ruang publik (public space) untuk dirinya dan untuk masyarakat bangsanya. Dengan demikian Amien Rais melakukan suatu lompatan besar, tranformasi dahsyat yang mengubah dirinya dari seorang guru besar universitas, menjadi seorang intelektual.

Saat itu tidak banyak, atau bahkan tidak ada intelektual lainnya. Kita punya banyak politisi, tetapi di zaman Orde Baru para politisi takut ditangkap, diciduk, dipenjara atau diculik dan hilang tak tentu kuburnya. Di zaman Orde Baru juga sudah banyak profesor. Tetapi profesor umumnya tidak memilih menjadi intelektual. Mereka lebih suka mukim dalam kampus dan kegiatannya tertuang dalam silabus. Tidak kenal ruang publik mereka itu, hanya kenal ruang kelas perkuliahan.

Apakah kaum profesor tidak dengan sendirinya intelektual? Seperti yang dikatakan Anotino Gramsci, semua orang bisa disebut intelektual. Masalahnya dan itu yang terpenting, apakah mereka memiliki peran intelektual dalam masyarakatnya. Saat menyaksikan atau mendengar Amien Rais berbicara dengan lantang dan gagah berani menantang despotisme, banyak orang khawatir, bahkan takut jika satu saat Amien Rais ditangkap atau dihilangan secara paksa dari atas dunia ini.

Aneh tetapi nyata, mengapa Amien Tidak ditahan, ditangkap atau diculik, mengingat saat itu kekuasaan bagaikan singa terluka dan karena itu bisa berbuat apa saja? Tentu saja tidak. Sebab di belakang Amien Rais ada suatu kekuatan moral yang sangat besar dan kuat: Muhammadiyah. Tuhan Maha Agung, dan Amien Rais selamat sehat walafiat. Singkat kata, Orde Baru yang telah bercokol selama 32 tahun, runtuh.

Setelah pemilihan umum pertama selewat Orde Baru, Amien Rais duduk sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR-RI). Di pihak lain, Megawati Soekarnopoetri yang partainya memenangkan suara terbanyak, tidak jadi presiden. Ini berarti suara rakyat terbanyak yang memilih Megawati  telah dilecehkan. Pelecehan itu tentu saja merpakan cacat moral dalam sejarah politik kita.

Selanjutnya yang terjadi adalah, Megawati sebagai wakil presiden dilantik jadi presiden. Presiden saat itu, Gus Dur, diturunkan dari kursinya. Ini kemauan siapa? Skenario siapa? Jarang orang merenungkannya secara kritis. Tetapi dalam kesempatan ini kita tidak sedang bicara sejarah politik detil. Terpenting untuk direnungkan kembali dalam tulisan ini ialah, bahwa Amien Rais sebagai tokoh penting saat itu berubah lagi.

Perubahan itu terjadi, saat dia dari intelektual menjelma menjadi politisi biasa. Dengan duduk sebagai ketua MPR beliau bermetamorfosis, dari intelektual menjadi insan politik. Intelektual berorientasi kepada keadilan dan kebenaran, politisi berorientasi kepada kekuasaan, pribadi atau golongan. Intelektual, memihak rakyat, politisi bisa memilih: melayani rakyat, atau menguasai rakyat.

Proses perubahan yang terjadi yang meruntuhkan regim lama dan memunculkan regim baru, selama ini disebut reformasi. Dalam hasa harian, reformasi adalah perbaikan, atau pembentukan ulang, pembentukan kembali. Tetapi banyak orang salah paham, seolah reformasi itu peristiwa alam, seperti gunung berapi meletus atau banjir bandang sebuah bengawan.

Menilik arti katanya, reformasi mestilah digerakkan (oleh) manusia. Untuk sebuah CV atau PT yang terkecil pun, diperlukan manajemen yang baik. Tetapi mengapa tidak ada perencanaan dan manajemen untuk sebuah reformasi? Memang perubahan, sekadar perubahan, yang cukup besar, telah terjadi. Tetapi yang terjadi itu bukanlah reformasi melainkan sebuah perubahan belaka. Ternyata perubahan itu tidak terarah, tidak terkendali, sebab memang tidak ada perencana dan pengendalian reformasi.

Mengapa demikian tragis yang terjadi? Perencanaan, pengendalian  gerakan reformis adalah tugas dan fungsi kaum intelektual, bahu-membahu dengan kaum intelegensia. Kaum intelektual diperlukan karena fungsi kritis dan kreatifnya, kaum intelegensia diperlukan karena kemampuan teknis dan “skill” dalam bidangnya masing-masing. Malangnya, masyarakat kita ini tidak punya intetelektual (intellectuals), juga tak punya inteteligensia (intelligentsia).

Jika dalam partai politik tidak terdapat kaum intelektual, dengan sendirinya dalam parlemen juga gtidak akan ada intelektual. Jika dalam lembaga eksekutif tidak ada kaum intelektual, tanpa kaum inteligensia, apa yang akan terjadi adalah satu stagnasi. Bagaimanapun juga perubahan penting tidak akan terjadi tanpa kaum intelektual.

Comments

comments

Tags: ,