Sepasang Mata di Balik Kayu

Oleh Safira – Mahasiswi IPB Bogor

Aku Trembesi. Kemarau panjang telah memaksaku menggugurkan daun-daunku agar aku tetap bertahan. Udara malam hari kian menusuk, tak jarang aku mengkerut. Suara ranting-rantingku berderit seperti suara pintu. Orang-orang yang mendengar pasti lari ketakutan. Pohon berhantu, kata mereka. Aku tidak peduli. Aku trembesi.

*

Senja hari di bulan kemarau, senja yang indah. Matahari terbenam perlahan. Cukup waktu untuk sejenak melukis langit dengan sisa-sisa cahayanya, meninggalkan seberkas warna. Indah namun misterius. Aku memandang ke sekelilingku, menyapa sekawanan burung yang melesat di sekitarku. Menukik, membentuk formasi ganjil yang selalu sama dari waktu ke waktu. Aku tetap berdiri tegak, menyambut kawanan burung itu bak kawan lama. Aku menggerakkan rantingku, berharap mereka tertarik untuk singgah. Tapi, kawanan itu justru menjauh. Tak mengapa. Kali ini tak berhasil. Aku tidak terlalu peduli. Aku trembesi.

*

Pagi itu udara amat dingin. Ranting dan dahanku dipenuhi embun, terasa sejuk dan segar. Tiba-tiba, sebuah suara kecil, suara seorang anak laki-laki mengusik kenyamananku.

“Zahra! Ayo kita main di sini saja!”.

Di kejauhan, seorang anak perempuan berlari ke arahku sambil membawa keranjang. Ia tergopoh-gopoh menyusul anak laki-laki yang telah berdiri tepat di dekatku. Tepat di bawah tubuhku yang besar, anak laki-laki itu merentangkan tikar plastik. Kentara sekali ia lebih bersemangat dibanding anak perempuan itu.

“Bang Azam, kok pagi-pagi kita sudah main? Trus, kenapa main di sini? Ini kan pohon berhantu…”. Anak laki-laki bernama Azam itu tersenyum.

Diambilnya keranjang yang dibawa si anak perempuan sambil berkata, “Tidak ada namanya pohon berhantu, Zahra. Aku sering main di sini. Teduh dan nyaman. Kita bisa bermain sampai sore tanpa perlu diganggu Zul dan yang lainnya. Ayo sini! Aku buatkan gelang yang indah dari bunga-bunga ini!”.

Anak perempuan bernama Zahra itu dengan ragu mendekat, lalu duduk berhadapan dengan si anak laki-laki. Mereka pun mulai bermain merangkai bunga, sambil sesekali tertawa. Ketika beranjak siang, mereka bermain masak-masakan. Aku memperhatikan mereka dengan penuh tanda tanya sambil sesekali tersenyum melihat mereka begitu riang dan gembira. Siang hari, setelah bosan bermain, mereka menghabiskan bekal makan siang dan jatuh tertidur. Baru kali ini aku melihat wajah manusia kecil yang begitu tenang dan tentram. Tanpa kusadari, aku menggoyangkan dahanku, menciptakan angin semilir yang sejuk. Kedua anak itu jatuh tertidur semakin dalam.

*

Perasaan apakah ini? Aku tidak tahu.

Hari-hari, bulan-bulan, bahkan tahun-tahun berlalu. Kedua anak itu masih sering bermain di dekatku. Tapi kini, mereka bukan lagi manusia kecil. Mereka sudah tumbuh menjadi manusia yang lebih besar. Tapi, mereka belum sebesar manusia-manusia yang sering melewatiku tiap pagi dan sore, menuju hutan.

Kini, mereka tidak lagi bermain masak-masakan, atau merangkai bunga. Mereka lebih sering memegang pensil dan kertas, menulis sesuatu dan saling bertukar tulisan.

“Puisimu indah, Zahra”, kata anak laki-laki itu.

Anak perempuan bernama Zahra itu tersenyum. “Puisi Abang juga…lumayan..”.

Anak laki-laki bernama Azam itu tertawa. “Kau mengejekku, ya? Aku ini tidak pandai berpuisi sepertimu, Zahra. Aku lebih suka berhitung”, katanya.

Angin menggerak-gerakkan dahanku. Menggugurkan sebagian daun-daunnya. Kedua anak manusia itu terdiam cukup lama. Aku menunggu apa yang akan terjadi. Hal ini semakin sering terjadi sejak beberapa bulan lalu, mereka semakin sering diam. Merenung. Apa yang mereka pikirkan?. Ah, andai aku tahu. Tetapi, mengapa aku menjadi begitu peduli?.

Anak laki-laki itu menggeser duduknya, mendekat ke arah anak perempuan.

“Kalau aku tinggal di kota nanti, aku tetap akan kemari”, kata si Anak Laki-laki.

“Apakah orangtua angkat Abang akan mengizinkan?”, tanya si Anak Perempuan, penuh kecemasan.

Anak laki-laki bernama Azam itu bangkit, berdiri membelakangi si anak perempuan. “Pasti, pasti mereka mengizinkan, Zahra. Mereka orang-orang baik, kau tidak usah cemas”, katanya. Kemudian ia membalikkan badannya, tersenyum ke anak perempuan itu. “Kelak, kau juga akan memiliki keluarga baru sepertiku, Zahra. Kau layak mendapatkannya…”. Anak perempuan bernama Zahra itu hanya tersenyum.

Kemudian, seperti beberapa minggu sebelumnya, dan hari-hari setelahnya, kedua anak manusia itu lebih banyak terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing dan aku tetap tidak mengerti.

*

Apakah ini yang dinamakan kesepian?

Entahlah. Aku sudah cukup lama, tidak, sudah sangat lama seorang diri sehingga aku lupa seperti apa rasanya kesepian itu. Apakah sendiri berarti kesepian?. Atau…Apa?. Seperti yang kurasakan inikah?. Kini, hari-hariku hanya ditemani oleh si anak perempuan, Zahra. Ia selalu datang setiap sore hari dan pulang setelah matahari terbenam. Sendiri. Selalu sendiri. Kemanakah anak laki-laki yang selalu bersamamu, Zahra?- tanyaku. Tapi, mana mungkin ia mendengar?. Aku hanyalah sebatang pohon tua baginya. Peneduh dari teriknya siang, tempat bersandar di saat tubuh lelah. Dulu, aku pun menganggap manusia seperti itu. Acuh. Tak peduli.

Seperti biasanya, Zahra duduk bersandar di akar-akarku yang besar. Tangannya sibuk menulis. Selalu begitu yang ia lakukan sejak seorang diri. Jika lelah atau bosan, ia akan memandang ke arah langit sampai tertidur. Atau memandang senja, hingga gelap. Dia sudah dewasa. Aku tahu itu dari wajahnya. Juga dari gerak-gerik tubuhnya. Tinggi badannya. Aku tahu, dia anak manusia yang cantik sepanjang pengetahuanku tentang sosok manusia.

Senja perlahan turun tanpa angin. Merayap. Mengaburkan warna hijau di hutan itu. Tiba-tiba, Zahra bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah batang besarku, dan berkata, “Ah, Pohon. Aku rindu sekali dengan Bang Azam. Rindu….sangat. Apakah kau juga demikian?”. Aku terhenyak. Apakah barusan ia mengajakku bicara?. Tapi bagaimana mungkin?. Ia pasti tahu aku tidak akan bisa menjawab.

“Pohon, kau pasti terganggu dengan keberadaan kami, ya?. Yah, kami memang suka sekali berisik di bawah dahan-dahanmu ini. Apalagi Bang Azam. Ia paling senang naik ke dahan-dahanmu yang kokoh itu. Ia menceritakan segala kisah…menertawaiku yang tidak mahir memanjat pohon…atau…atau..”. Kalimat anak perempuan itu terputus.

Aku mendengar isak tangis. Pelan. Tertahan. Namun masih dapat kudengar. Jangan menangis. Aku ingin mengatakan itu padanya. Tapi bagaimana?. Aku ingin mengelus rambut hitamnya, seperti yang pernah dilakukan anak laki-laki itu. Tapi bagaimana?. Angin semilir menyapu tubuh kami. Dahan-dahanku bergerak. Ya, tentu. Aku memiliki dahan, ranting, daun. Sekejap, dengan gerakan halus, aku menggoyangkn ranting dan daunku. Isyarat bagi anak perempuan itu. Kumohon, jangan menangis, kataku. Aku masih menggoyang-goyangkan daunku. Berharap ia mengerti maksudku. Tetapi anak perempuan itu terus menangis. Menangis sampai hari gelap menelan kami berdua.

*

Bagaimanakah ini? Senja hampir menghilang. Tapi anak perempuan itu masih lelap tertidur, bersandar di batangku. Belum pernah aku melihatnya tidur setenang ini, dan begitu lama. Ia pasti sangat lelah. Hewan-hewan malam mulai berdatangan, menyerbu dahan dan daunku. Mereka sahabat-sahabatku di kala malam menjelang. Tetapi jumlah mereka banyak, dan sangat berisik. Malam sebentar lagi tiba. Anak perempuan itu masih terlelap. Diam tak bergerak sejak sore tadi. Ada apakah ini?.

Aku menggoyang-goyangkan dahanku, menjatuhkan beberapa helai daunku ke arah anak perempuan itu. Tetapi ia tak juga bergeming. Sekawanan kelelawar terusik dengan gerakanku. Biarlah. Nanti mereka juga kembali. Serangga-serangga malam mulai bermunculan dari sarang mereka. Kemudian, mereka saling menyapa. Mengeluarkan bunyi-bunyi aneh. Aku mencoba melihat wajah anak perempuan itu lebih dekat. Di tengah-tengah senja yang telah menghilang, aku melihat wajah yang begitu putih, dan pucat.

Ingatanku meledak seketika. Aku pernah melihat hal serupa. Seekor burung tertidur di dekat akarku. Tidur yang sangat lama. Berhari-hari, burung itu diam tak bergerak. Sampai aku tahu bahwa ia telah mati. Seekor kucing membawanya pergi menjauh. Apakah ini juga? Kubuang jauh-jauh pikiran itu. Tidak. Tidak mungkin. Bagaimana ini? Aku panik.

Kugoyangkan dahan dan daunku lebih kencang. Semoga ia terbangun. Semoga. Tapi anak perempuan itu tak bergeming. Kumohon, siapa saja tolonglah anak ini!, teriakku. Aku terus menggoyangkan tubuhku. Berharap ada manusia yang kebetulan lewat dan melihat gerakanku. Kawanan kelelawar, teman-temanku, telah menghilang sejak tadi. Kini tinggal aku dan anak perempuan itu. Aku terus bergerak. Bangun, Zahra!, teriakku. Bangun!.

*

Berbulan-bulan setelah kejadian senja itu, aku masih bisa merasakan perasaan aneh ini. Aku khawatir dan ketakutan. Saat aku sudah tidak sanggup lagi menggerakkan tubuhku, anak perempuan itu berhasil ditemukan oleh manusia-manusia lainnya. Mereka membawa tubuhnya yang tetap tidak bergeming menjauh dariku, menuju perkampungan. Sejak hari itu, hingga kini, aku tidak tahu apa yang terjadi. Anak perempuan itu, juga anak laki-laki itu, tidak pernah datang mengunjungiku lagi.

Aku disergap perasaan yang ganjil. Sepertinya, perasaan ini serupa dengan apa yang dirasakan anak perempuan itu. Rindu. Mungkinkah?. Aku bingung. Apa yang aku rindukan?. Siapa yang aku rindukan? Mereka berduakah? Yang jelas, hari-hariku kembali sunyi dan sepi. Persis seperti bertahun-tahun lalu sebelum aku mengenal kedua anak manusia itu. Tapi hidupku terus berlanjut. Karena aku Trembesi.

*

Kawan-kawanku, kawanan burung dan kelelawar, sudah tidak ada lagi. Kini, aku ditemani anak-anak mereka, cucu-cucu mereka. Betapa cepatnya waktu berlalu di sini. Tapi yang aku rasakan justru sebaliknya. Bagiku, waktu seakan terhenti. Satu-satunya hal yang mengingatkanku akan waktu, adalah usiaku. Aku bertambah tua. Daun-daunku lebih sering berguguran. Akar-akarku tidak lagi sekuat dulu menembus tanah. Tubuhku lemah. Batang besarku sedikit demi sedikit keropos. Hilang sudah penopang tubuhku yang paling utama.

Pohon-pohon di sekitarku banyak yang sudah mati. Atau sengaja dimatikan oleh manusia? Ada juga yang disambar petir dan amukan angin. Hanya sedikit pohon yang masih bertahan. Sering aku berpikir, dimanakah letak kesalahan kami, pohon dan tumbuhan lain, sehingga manusia-manusia itu tega membunuh kami?. Kami tidak meminta banyak. Sungguh. Kami justru bersedia memberikan banyak. Bahkan tanpa kalian minta. Akar kami menahan air, daun kami menghasilkan gas untuk kalian bernafas. Kami juga mengolah gas beracun dan banyak lagi manfaat kami bagi manusia. Sungguh. Semuanya itu kami berikan tanpa perlu kalian minta. Cuma-cuma. Tetapi, apa balasannya?

Ah, siapa pula yang akan mendengarkanku monologku ini?. Aku toh hanya sebatang pohon tua yang kesepian. Aku masih merindukan dua anak manusia itu. Hanya mereka yang menganggapku ada. Menganggapku berarti. Tapi dimanakah mereka? Sudah lupakah mereka padaku?

Sore ini, rasanya aku sudah sangat lelah. Lelah dengan harapan dan impianku sendiri. Lelah menunggu. Kalau pun mereka tidak juga datang, biarlah. Memang nasibku seperti itu. Aku juga yang keliru. Aku pikir, anak-anak manusia itu akan bisa memahamiku, sebatang pohon tua yang sendiri. Seharusnya aku tidak mengharapkan apapun dari mereka. Karena mereka pun mungkin tidak pernah mengharapkan apapun dariku.

Angin bertiup. Membawa kabar musim penghujan yang akan panjang. Tubuhku bergerak perlahan. Daun-daunku berguguran, lebih banyak dari kemarin. Aku sungguh merasa sangat letih dan tidak berdaya. Tiba-tiba, sebuah suara, suara yang sempat aku kenal bertahun-tahun silam, berseru.

“Laita! Jangan lari-lari, Nak!”.

Kemudian suara itu disusul suara tawa seorang anak kecil yang berlari dengan riang ke arahku. “Bunda, Ayah! Ayo sini!”.

Kualihkan pandanganku dan kulihat pemandangan paling menakjubkan seumur hidupku. Dua anak manusia itu, anak laki-laki dan anak perempuan itu, bergandengan tangan sambil berjalan ke arahku. Tidak. Mereka bukan lagi anak-anak, mereka manusia dewasa. Mereka sahabatku, Azam dan Zahra. Anak kecil ini, pastilah anak mereka. Duplikat mereka dalam bentuk manusia kecil. Lucu dan menggemaskan.

Mereka bertiga duduk di akar-akarku, sambil tertawa dan saling memeluk. Azam mendekatiku, mengelus batang besarku sambil berkata, “Hai, sahabat. Apa kabar kau?. Terima kasih sudah menjaga Zahra untukku. Terima kasih sudah menemaninya saat aku tidak ada. Terima kasih…”.

Kemudian ia memeluk batangku. Sungguh, aku bahagia sekali. Rasanya, aku sanggup untuk seribu tahun lagi.

 

*

 

Comments

comments