Serpih Randu

Oleh Ghirah Madani – Siswa SMPN 12 Bandung

Pagi ini sungguh terasing. Pagi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ya pagi ini sangat sepi, dan ia sendiri. Diam di pojok kamar usang. Orang tuanya telah pergi ke tempat yang benar-benar jauh. Entah di mana, mereka hanya menitipkan sepucuk surat pada kakaknya yang sekarang tengah pergi merantau.

Ia yang bersekolah tingkat SD, dibiayai oleh kakaknya. Sekarang, hanya bisa meratapi kepergian kedua orang tuanya. Rumahnya berada di dekat sungai limbah, juga deretan pabrik yang tak beraturan, menyebabkan tempatnya ini sering mengeluarkan bebauan asing. Juga penyakit-penyakit yang dengan mudah datang kapan pun, bahkan sampai kematian menjemput.

Benar-benar masam. Bahkan ia sampai tak sekolah karena gumpalan awan hitam yang menerjang. Di daerah itu ada sebuah pohon yang teramat asing. Pohon aneh di bagian selatan rumahnya. Pohon yang memiliki bunga randu yang mungkin berjumlah seribu. Yang kian lama semakin berkurang akibat dari angin, juga asap maupun keadaan pohon yang memang sudah tua. Entahlah. Padahal terkadang ia menyiraminya.

Pagi ini ia menatap langit yang kian kelabu, menjatuhkan cairan yang jika mengenai kulitnya, membuatnya langsung menjerit. Karena cairan itu membuat kulitnya sedikit panas dan gatal di berbagai bagian tubuhnya. Seperti biasa, ia menggunakan topi pemberian kakaknya yang mungkin ia beli dari sebuah toko dekat pasar. Topi itu sebagai hadiah ulang tahunnya, sebelum kakaknya pergi merantau.

Ia menuju sekolah dengan sepasang penyangga karena kakinya pernah terkena cairan limbah yang mudah terbakar. Waktu itu orang tuanya membawanya ke rumah sakit yang terbilang begitu kumuh. Kakinya terserang luka bakar yang benar-benar serius sampai masuk ke dalam tulang kakinya. Ya, kakinya terpaksa di amputasi. Begitu kata ibunya yang melihat kejadian itu secara langsung.

Ia masuk ke dalam kelas yang beratapkan seng, berdinding kayu, dan berlantaikan semen. Seperti biasanya, kelas terasa beraroma keringat, juga teriak-teriakkan. Ia memulai pelajaran pertama dan kedua, dengan istilahnya mengantuk. Pelajaran penutup ia anggap akan melengkapi hari-hari membosankan ini. Benar saja pelajaran terakhir adalah pelajaran yang benar-benar tak menggugah ketertarikan.

Ketaktertarikan ini menyebabkan kemalasan untuk terus bersekolah. Ketika semua anak dipersilahkan untuk pulang, dialah yang paling cepat keluar dari kelas yang ia anggap penuh nestapa maupun derita. Ia berlari menyusuri jalan setapak antara dua pabrik yang saling berseteru.

Ia beristirahat di bawah pohon randu yang begitu menyegarkan. Perjalanan ini memang terbilang sangat jauh baginya yang tak mempunyai sepasang kaki yang utuh. Seseorang yang tak ia kenali datang dan berdiri di sampingnya. Kemudian menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.

“Kulihat kau begitu tertarik pada pohon ini. Hampir setiap hari kulihat kau diam dan bermain di sini?” kata seseorang dengan tatapan yang tajam.

”Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik. Tapi aku selalu ingin mendatangi pohon ini, entah kenapa.“ jawabnya sambil sedikit keheranan.

“Entahlah, kau sama seperti masa kecilku, aku juga tak begitu tertarik, tapi selalu ingin bersama pohon ini.” Ia menghela nafas “Sayang aku yang sekarang sudah terkena penyakit paru-paru kronis. Sehingga tak kuat untuk selalu bersama pohon ini, bisakah kau menjaganya?”

“Emmmm” sambil menatap orang yang tak ia kenali “Sebenarnya aku mau, tapi wawasanku belum luas. Lagi pula kakiku ini adalah keterbatasan yang sangat mengganggu.”

“Kau tahu? Tanganku ini tangan palsu” orang itu menunjukan tangannya yang sudah diamputasi. “Percayalah aku akan senantiasa membantumu selagi aku masih kuat.”

“Baiklah” sambil terpekur “Kalau begitu besok kau bisa datang ke tempat ini untuk membantuku.”

“Tentu. Terima kasih atas bantuan yang ingin kau berikan” sambil menatapnya dengan penuh senyuman.

Setelah bertemu si Bapak tadi ia langsung bergegas menuju rumah. Ia langsung memakan makanan yang sebentar lagi basi. Hah. Ia tak peduli, yang penting ia tak kelaparan. Makanan yang ia makan telah habis. Ia beranjak menuju ranjang tempat biasanya ia melakukan segalanya mulai dari mengerjakan tugas, tidur, makan cemilan, dan memainkan apapun yang cocok dimainkan di atas ranjang. Yah, ingatannya itu membuatnya terus membayangi janji yang ia ucap. Ia mengambil keputusan yang tepat, karena ia menyimpan dendam pada semua orang-orang pabrik yang menciptakan asap bermuatan zat pencemar. Karena asap pencemar itulah orang-orang di desa yang nestapa ini mengalami penyakit asma kronis yang sama-sama di derita oleh ayahnya, ibunya, juga orang yang tak ia kenali itu. Malam-malam sunyi kembali datang, seperti bau limbah yang ia hirup setiap pagi. Ia menelentangkan badannya dan segera tidur.

Pagi ini, ia terbangun lebih awal. Entah karena aroma-aroma limbah yang begitu menyengat atau pun udara busuk yang membuatnya sesak nafas. Juga mungkin mimpi buruk yang membekas dalam pikirannya. Entahlah ia tak peduli. Pagi yang sesak dan dingin ini ia habiskan dengan bersandar di ranjang seperti biasanya.

Ia memaksakan untuk bangun dan pergi ke tempat kemarin. Ia mengambil tongkatnya, mengambil minum, menganti baju, mengambil notes dan bergegas pergi menuju pohon randu.

Sampai di pohon randu tersebut ia menyandarkan diri pada batang pohonnya yang sudah sedikit rapuh. Ia benar-benar jenuh untuk menunggu orang itu seharian. Ia mulai kesal dan berniat untuk segera pulang. Tiba-tiba ia melihat pada dedaunan yang menggugurkan sepucuk surat. Ia mengambil surat itu dan membacanya

“ Nak aku tahu ketika kau membaca ini aku telah pergi. Meski kau tak tahu siapa aku. Tolonglah jaga pohon itu dengan baik. Maafkan aku karena tak bisa datang, asma kronisku kembali kambuh. Kuharap kau tak mencariku, karena mungkin kelak aku pergi entah ke mana. Pelajarilah pohon randu itu dan kelak kau akan menyelamatkan dunia. Randu inilah penitipan dari kedua oramg tuamu. Orang tuamu akan bangga apa pun yang kau lakukan. Terima kasih atas segalanya.”

Ia terkaget dan segera melempar surat itu ke sungai limbah. Ia benar-benar tak peduli pada pohon randu. Ia berjalan terseok-seok menuju rumahnya dan masuk ke kamar, mengingkari – itulah kata yang selalu ia ingat.

Ia berbaring di kamar sambil menutup kepala dengan bantal. Ia berharap semua ini tidak pernah terjadi. Ia anggap percuma ia mempercayai manusia, manusia sama saja, penipu. Ia berpikir untuk mengurung diri di kamar ini sampai membusuk.

Entah sesuatu yang aneh membuatnya ingin mempelajari pohon itu. Ia mendesak untuk melawan dari keanehan ini. Sayang ia kalah dalam pertarungan ini. Ia berjalan terseok-seok mengambil buku yang masih di bungkus. Buku ini diberikan oleh ayahnya sebelum kepergiannya. Tapi ia tak pernah berniat membacanya karena ayahnya telah mengingkari janjinya.

Secara perlahan ia menyobeknya, tertera sebuah judul singkat di sampul depan bukunya.

“Titipan”

“Mungkin buku ini tak akan berguna sekarang, mungkin juga bukan tahun depan, namun kelak kau sangat-sangat membutuhkannya.”

Itulah pesan yang tertera pada secarik kertas di balik buku itu. Ia membaca satu per satu halamannya, buku itu berisi berbagai cerita tentang beragam kehidupan manusia. Ia terus membaca kemudian berhenti di halaman terakhir. Lalu ia merasakan sesuatu hal aneh dan merasa memiliki dosa besar, ia teringat pada pohon randu yang dititipkan orang misterius itu.

Ia datang ke sebuah perpustakaan keliling yang terkadang lewat di kampung sebelah. Ia mencari buku tentang pelestarian pohon. Ia tak menemukan satu pun buku. Pemilik toko keliling yang tampak heran mendekat dan menanyakan buku yang dicari.

“Dik mau cari buku apa ya?” kata pemilik perpustakaan keliling sembari keheranan.

”Mau cari buku tentang pohon ada?” sembari kebingungan.

“Oh mau cari tentang pohon apa ya?” kembali bertanya.

“Kalau ada tentang pohon randu.” sembari mengerutkan dahi.

“Tunggu kaka carikan.” kata pemilik perpustakaan sembari beranjak meninggalkannya.

Pemilik perpustakan keliling yang relatif masih muda masuk ke dalam bagasi mobil itu. Ia mengeluarkan sebuah kardus berisi buku lingkungan. Mengambil sebuah buku bersampul hijau.

“Ada bukunya, tapi ini buku lama.” kata pemilik perpustakaan sembari menatapnya.

“Oh ga apa apa, boleh saya pinjam?” sembari ragu ragu.

“Bukunya buat adik aja.” kata pemilik perpustakaan sembari tersenyum.

“Makasih banyak kak.” sembari beranjak pergi.

Ia berjalan menjauhi kendaraan perpustakaan keliling, berniat segera pulang. Ia berjalan pelan-pelan sampai pada pohon randu yang telah dititipkan padanya. Ia menengok pada pohon randu dan tertarik untuk diam di bawah pohon randu. Ia duduk dan merasakan hal yang tak ia kenali. Ia membuka lembar demi lembar buku tersebut, sambil menyatat hal-hal penting ke dalam notes kecilnya. Matahari mulai bergegas pergi sama seperti ia yang juga berkemas pulang.

Ia mulai berniat menuntaskan titipannya. Setiap sore sehabis hari-hari membosankan di sekolahnya, ia melakukan apapun untuk membantu sang randu. Ia melakukannya dengan serius. Ia merasakan hal yang aneh, meskipun ia menganggap yang dilakukannya sudah cukup. Ia merasakan sesuatu hal yang kurang. Entahlah. Ia mulai merasa dekat dengan si pohon meski ia bukan termasuk anak yang mencintai alam.

Ia berniat untuk memperbanyak jumlah pohon randu itu. Ia berpikir si pohon dapat memerangi berbagai limbah pabrik. Entahlah. Ia mulai menanam pohon randu dengan jumlah banyak, namun karena udara yang benar-benar sakit, sebagian pohon randu mati. Yang tersisa tinggal satu pohon randu besar dan lima pohon randu kecil. Setiap waktu ia menyirami randu-randu tersebut menggunakan air yang ia curi dari rumah pemilik pabrik tersebut yang tidak jauh dari tempat itu.

Terkadang temannya menanyakan tentang ketertarikan ia pada pohon randu. Tapi ia tak pernah menjawab segala pertanyaan tentang ketertarikan pada pohon randu. Ia selalu mengatakan, “Inilah titipan yang harus kujaga.”

Tahun suram telah berlalu, randu-randu ini nampak sudah besar. Mereka juga menghasilkan bunga randu yang bermekaran sangat indah. Hari ini ia menerima ijasah SD. Mungkin, ijazah itu akan diambil oleh kakaknya yang akan pulang. Segera ia mandi, mengganti baju dan berjalan sambil membawa notes kesayangannya. Ia berjalan terseok-seok menuju pohon randu yang telah ia rawat. Asap ia tak peduli. Ia tetap menerobos asap itu.

Hari ini tempat randu dipenuhi asap pabrik lagi. Tahun-tahun yang lalu randu ini menang melawan asap pabrik yang menerjang. Mengakibatkan wewangian randu berserak di seluruh rumah di kampung ini. Warga-warga nampak senang dengan keberadaan randu yang membantu kehidupan. Randu pasti memenangi perang melawan asap yang penuh bahan pencemar ini.

Ia sampai di depan pohon randu itu dan diam di dekat pohon randu yang paling tua. Namun lama kelamaan asap yang menerjang semakin menumpuk, hingga akhirnya ia tak bernafas lagi. Asap yang ia hirup membuatnya sesak.

“Sepertinya randu kalah, maafkan aku,” itulah kata terakhir yang ia ucapkan.

Kakaknya telah sampai dari rantauannya dan mengira adiknya telah ada di sekolahnya. Kakaknya bergegas menuju sekolah. Di perjalanan ia melihat adiknya tengah tergeletak sambil memegang notes kesayangannya. Aneh dalam benaknya adiknya tergeletak ditutupi serpih randu yang berguguran.

Kakaknya perlahan-lahan mengucurkan air matanya dan segera mengambil notes dan membaca halaman terakhirnya.

Serpih randu

Di antara tumpukan asap ini

Kusimpan secerca harapan

Pada bumi yang kian temaram

Dan langit yang tinggal seujung jari

Kutitipkan surga dunia

Yang penuh suka cita

Bagi serpih randu yang kumainkan

Inilah saksi

Saksi alam yang beranjak pergi

Randu telah kalah

Maafkan

Jika kelak pergi

 

Kakaknya merasakan kepergian untuk ketiga kalinya hanya bisa menitikkan air mata. Kini akulah yang akan menjadi saksi, saksi bagi kematian yanng kian abadi.

 

*

 

Comments

comments