Sopir Taksi dan Sebuah Kepala

Oleh Naning Pranoto
Dimuat di Replubika 01/06/2008

Pukul 05.45, taksi biru tua yang dikemudikan Begjo distop oleh seorang lelaki tua bertopi pet, di dekat pintu tol jalur ke Jagorawi.
”Antar saya ke Bogor! Lewat tol,” pinta lelaki tua itu, tergesa-gesa. Begitu duduk di jok belakang ia langsung menyerahkan amplop kepada Begjo. ”Apa ini, Pak?” Begjo terkejut.
”Uang!” sahut lelaki tua, bersuara ngebass. Begjo sempat mengamatinya. Penumpangnya itu, berusia 70-an, tapi masih tegap, sehat walau kulitnya keriput.
”Kasih uang saya kok banyak sekali, Pak? Begjo membelalak, ketika tangan kirinya menyingkap amplop dari penumpangnya itu. “Lagi pula, baru naik kok sudah mbayar.”
Tidak ada jawaban.
Penumpang itu membuka topi petnya, lalu mengenakan sunglass hitam gelap. Begjo melihat sekilas, kepala lelaki itu aneh: lonjong dan botak mengkilat.
”Pak saya takut, sampeyan mbayar banyak sekali. Seumur-umur baru kali ini saya nrima uang sebanyak ini!”
”Stt, jangan takut, Anda antar saya saja,” gumam si penumpang, sambil membuka jendela taksi yang ada di sampingnya.
”Lho, Pak kok sampeyan ngeluarin kepala tho?” Begjo terkesiap, penumpangnya menjulurkan kepala keluar jendela, posisinya tengadah, mulut ternganga, sepasang kacamatanya melotot seram.

Tidak ada jawaban. Taksi Bejo melaju kencang di tol Jagorawi. Si penumpang itu tetap menjulurkan kepalanya. Lehernya menegang, >kepalanya memanjang dan nyaris copot dari batang leher. Begjo panik.
”Pak, jangan bunuh diri!” teriak Begjo, mengarah ke jalur lambat. Selama ia jadi sopir hampir seperempat abad, baru kali ini ia mendapat penumpang sangat aneh.
”Ayo, tancap gas Mas!” pinta si penumpang itu sambil tertawa,
”Saya tidak mau bunuh diri. Saya cuma mau mbuang kepala saya di jalan tol!”
”Hah?” Begjo melongo, ”Weleh, baru kali ini ada orang mau mbuang kepalanya. Berhenti saja ya, Pak.”
”Jalan terus. Saya tambah ongkosnya!” ia berkata tegas, melemparkan amplop di pangkuan Begjo.
Begjo membelalak, melihat setumpuk uang asing, menyembul dari tutup amplop yang ada di pangkuannya.
”Itu uang dolar Amerika. Asli!” kata si penumpang, ”Anda bisa beli rumah bebas banjir dengan uang dolar itu untuk anak-anak dan istri Anda.” ”Maaf, tidak usah saja. Tapi, saya mau antar Bapak kemana pun, asal kepala Bapak tidak menjulur di jendela.” Begjo berkeringat dingin. Ia menaruh dua amplop berisi uang itu di jok belakang.
”Anda menolak uang saya?” lelaki itu tidak happy. ”Anda memerlukannya, paling tidak untuk membeli BBM selama mengantar saya.”
”Tidak usah. Saya mau berhenti.” Begjo memperlambat taksinya.
”Jalan terus, sebelum saya berhasil membuang kepala saya. Ini proyek terakhir dalam hidup saya dan harus berhasil, karena saya telah sukses jadi pimpro berbagai proyek besar dan satu mega-proyek yaitu menobatkan seorang anak desa jadi orang nomor satu di negeri ini.” Tiba-tiba lelaki itu tertawa lepas. Begjo limbung.

”Mas Sopir, jangan takut. Saat ini saya sedang super waras, setelah saya gila hampir empat puluh tahun. Maka, saya ingin mbuang kepala saya agar saya waras total. Selama kepala ini masih nempel tubuh saya, saya akan gila terus! Ketika Tuhan memanggil saya dalam kondisi waras, saya pasti mampu menyebut asma-Nya.”
”Pak maaf, saya tidak bisa melanjutkan nyopir.” Begjo merintih. Ia ngompol pada titik puncak ketakutannya.
”Saya perlu bantuan Anda, untuk mbuang kepala saya di jalan tol. Sebab, bila kepala saya ini saya buang ke laut, akan dimakan ikan. Ikan yang makan kepala saya, akan dimakan manusia. Oh, jangan. Sebab, sari pati kepala saya penyebar virus berbahaya bagi siapa pun yang makan ikan ikan yang makan otak saya. Generasi yang memakan sari pati otak saya, akan jadi pengacau negeri ini. Kalau negeri ini terus menerus kacau, kapan mencapai Zaman Emas?”
”Zaman Emas, apa itu, Pak?” Begjo heran.
”Jika Reformasi terwujud. Anda tahu reformasi?”
”Reformasi bermula waktu Pak Harto lengser jadi presiden karena didemo para mahasiswa yang ngumpul di Gedung DPR pertengahan Mei 1998? Apa benar, Reformasi itu artinya mbrantas pemerintahan yang korupsi?” tanya Begjo lugu.
”Pinter.” Seru lelaki yang ingin membuang kepalanya itu.
”Ah, saya ndak pinter, cuma lulus SD, lalu ajar nyopir dan jadi sopir taksi.
Bapak kerja apa?” tanya Begjo memberanikan diri.
”Saya juga sopir, tapi bukan nyopiri mobil!”
”Nyopiri apa Pak?” Begjo bingung.
”Nyopiri manusia, para petinggi negeri ini. Saya nyopir bukan dengan tangan, tapi dengan otak sumber berbagai taktik. Ya, otak kepala yang sekarang ini akan saya buang dan akan saya ganti dengan kepala bayi.”
”Kepala bayi?” Begjo tambah bingung.
”Kepala bayi, otaknya masih suci. Tidak seperti otak saya, bejat, berisi otak iblis yang kerjanya menghasut, otak setan yang kerjanya menyesatkan, otak algojo yang ter-drivemembunuh. Makanya, saya ingin punya kepala bayi hari ini, sebelum matahari terbenam, agar saya bisa mengisi otak itu dengan ajaran Kitab Suci yang dulu selalu dibacakan oleh ibu saya sebelum tidur. Saat-saat ibu saya membaca Kitab Suci, selalu mengusap-usap kepala saya, katanya agar apa yang ia baca bisa meresap ke otak saya. Itu kenangan indah dan termahal dalam hidup saya.”

Air mata Begjo menetes mendengar tuturan penumpangnya itu. Ia teringat masa kecilnya yang pahit. Ia tidak punya secuil pun kenangan manis bersama ibunya. Si ibu ‘menghilang’ saat ia berusia enam bulan. Setelah dewasa ia baru tahu, ibunya dibawa orang-orang bersenjata di pagi buta, setelah lebih dahulu dipukuli dan ditelanjangi oleh mereka itu. Ayahnya, telah hilang saat ia masih dalam kandungan.

”Kok nangis Mas Sopir?” tanya lelaki tua yang semula menjulurkan kepalanya di jendela taksi, kini kembali duduk tertib di jok belakang sopir.
”Saya terharu Bapak tidak jadi mbuang kepala,” Begjo berdusta.
”O…, saya tetap akan mbuang kepala saya!” bisik lelaki tua itu, sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
”Tolong, tembak kepala saya!” lelaki tua itu menyerahkan pistol pada Begjo. ”Pak, eling Gusti Allah!” Begjo gemetar, menolak pistol itu.
”Anda tidak mbunuh saya. Ini kemauan saya, karena saya tidak mampu melakukannya, walau saya telah membunuh ratusan jiwa tahun enam-lima, hingga enam tujuh.” Mata lelaki tua itu membasah. Lalu, ia menyerahkan lagi amplop pada Begjo sambil berbisik, ”Ini surat wasiat untuk Anda, ucapan terima kasih saya!”
Begjo diam. Ia tidak menginginkannya amplop itu.
”Mas Sopir, yuk cari tempat aman, agar Anda bisa nembak kepala saya dengan tenang,” lelaki tua itu menepuk-nepuk bahu begjo.
Begjo tidak taat. Ia mematikan mesinnya di jalur peristirahatan kendaraan. ”Maaf, saya tidak bisa lagi nyopir, Pak.” Begjo pasrah. Ia buka pintu taksi. Tapi sebelum ia melangkah, terdengar tembakan lepas memuntahkan rentetan peluru, tepat mengenai kepala Begjo. Tubuh Begjo terkulai, menyangsang di pintu depan taksinya.

Tak sampai 10 menit, polisi patroli datang menghampirinya. Pada saat itulah lelaki tua itu menembak kepalanya sendiri sambil berteriak-teriak, ”Saya ingin mbuang kepala saya. Kepala yang mengotaki pembunuhan terkeji di negeri ini. Saya juga yang menembak sopir taksi ini.”
Dor! Dor! Doorrrrr! ***

Comments

comments