STRATEGI MENULIS SINOPSIS : DUA VERSI

Oleh Naning Pranoto

Sinopsis atau synopsis berasal dari kata synopical yang artinya ringkas. Berdasarkan asal kata tersebut, sinopsis diartikan: ringkasan suatu materi tulisan yang panjang (baik fiksi maupun non-fiksi) dan sinopsis itu sendiri ditulis dalam bentuk narasi.

Sinopsis terdiri dari dua versi, yaitu (1) sinopsis yang ditulis untuk meringkas karya yang sudah ada atau sudah ditulis secara lengkap dan (2) sinopsis yang yang ditulis untuk persiapan menulis suatu gagasan yang akan dituangkan dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi.

Tulisan berikut ini akan membahas secara singkat stategi menulis synopsis dua versi untuk materi yang berbentuk fiksi yang telah menjadi suatu karya maupun yang masih berupa ide atau gagasan.

Salah Kaprah
Ada pihak yang beranggapan bahwa sinopsis itu hanya meringkas karya yang sudah ada atau buku yang yang sudah terbit. Padahal ada versi lainnya, yaitu ringkasan sebuah ide atau gagasan untuk direalisasi menjadi sebuah karya yang utuh.

Siapa pun yang ingin menjadi penulis maupun pengarang buku dan menjual karyanya ke penerbit, harus punya kemampuan menulis sinopsis. Demikian pula bagi penulis skenario yang ingin menjual karyanya ke produser. Karena sinopsis merupakan sellingpoint (nilai jual) suatu karya untuk dipertimbangkan oleh pihak-pihak yang akan membelinya (naskah buku dibeli oleh penerbit, skenario dibeli oleh produser film).

Biasanya, pihak penerbit akan menggunakan sinopsis sebagai blurd on the backcover. Blurd adalah pujian atau uraian singkat isi buku sebagai iklan, agar diminati pembaca. Bagi produser film, blurd akan dikutip untuk diterbitkan dalam bentuk poster yang disertai ilustrasi bagian adegan film yang paling menarik dijadikan iklan agar film tersebut dibanjiri penonton.

Di luar negeri, khususnya di AS, Eropa dan Australia, menawarkan sinopsis merupakan hal yang lazim bagi para penulis.Penawaran tersebut ditujukan kepada para agen (syndicate) naskah yang nantinya akan menjual karya para penulis kepada penerbit. Di Indonesia setahu saya, belum ada agen professional meskipun ada suatu lembaga yang menamakan usahanya sebagai ‘bank naskah’. Itulah sebabnya, para penulis maupun pengarang Indonesia menjual karya mereka langsung ke penerbit tanpa melalui syndicate.

Sebaliknya, bila Anda menulis sinopsis bacaan (buku) yang telah terbit, juga harus mengandung selling-point, agar banyak dibaca orang. Karena sinopsis tidak sekadar ringkasan, melainkan juga penjelasan yang informatif.

Dasar-Dasar Menulis Sinopsis
Berikut ini strategi menulis sinopsis sebuah karya dan menulis sinopsis sebuah ide atau gagasan:

Menulis Sinopsis Sebuah Karya
1. Membaca dengan seksama karya yang akan dibuat sinopsis
2. Ambil intisari (extract/substance) karya yang dibaca untuk dijadikan inti ringkasan
3. Tulis dengan bahasa yang mengalir (khas Anda) seperti sedang mendongeng
4. Menulis sinopsis adalah melakukan retold (menceritakan kembali)
5. Sinopsis sebuah buku idealnya antara 500 – 1.000 kata roman, komidi, criminal, horror dsb (Jangan Bertele-tele)
6. Perlu ilustrasi (cover buku)
7. Dipublikasi di media-massa / untuk umum
8. Tidak mencantumkan biodata penulis
9. Sinopsis bukan resensi

Menulis Sinopsi Ide/Gagasan
1. Menulis plot-plot ide/gagasan yang akan ditulis sebagai selling-point
2. Tegaskan, target – sasaran ide
3. Tulis dengan gaya tulisan Promosi yang bersifat merayu agar pihak penerbit /produser tertarik membelinya untuk diterbitkan/ diproduksi
4. Tonjolkan dengan jelas, apa yang akan dijual: cinta, parodi, satire, roman, komidi, criminal, horror dsb
5. Panjang sinopsis 750 – 1.500 kata
6. Tulisan dibuka dengan trigger – sebagai daya tarik
7. Mencantumakan biodata penulis/pengarang sebagai selling point
8. Sinopsis ini sebagai cikal bakal karya yang akan ditulis/dikembangkan

Bukan Hasil Browsing
Bila Anda akan menulis sinopsis sebuah karya, tidak mungkin akan terwujud dengan baik apabila hanya mengandalkan sistem browsing pada waktu membaca karya tersebut. Yang benar adalah: (1) Membaca materi dengan seksama dan penuh konsentrasi; (2)Menyediakan waktu khusus untuk membaca; (3) Membaca dalam kondisi rileks – tanpa tekanan; (4) Pahami materi; (5) Pikirkan sinopsis yang akan ditulis siapa pembacanya? dan ; (6) Tulis sinopsis dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca.

Sinopsis untuk ‘menjual’ ide atau gagasan, juga memerlukan konsentrasi yang serius agar dapat menonjolkan butir-butir selling-point. Untuik itu perlu: (1) Pemetaan materi yang akan dijual: siapa sasarannya?; (2) Sinopsis yang telah ditulis perlu disertai lembar-lembar presentasi detail gagasan sebagai pendukungnya; (3) Siap menerima kritikan dan melakukan revisi (apabila d i a n g g a p p e r l u o l e h penerbit/produser) bahkan mungkin merombak (re-writing); (4) Mempertimbangkan segi ekonomi (full-commercial atau flexible?) dan (5) Siap berbicara untuk mempresentasikan sinopsis.*

Sumber: Tabloid Rayakultura Edisi January 2008

Comments

comments

Tags: