Stuart ROBSON DAN EMPU KANWA

Oleh Sides Sudyarto DS

(Menjelang ulang tahunnya, 25 April 1941- 2009) “Mungkin ceritanya bisa panjang,” ujar Stuart Owen Robson, ketika ditanya bagaimana prosesnya sehingga ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk meneliti dan menulis sastra Jawa Kuno. Lelaki kurus pndiam itu lebih suka dipanggil Pak Robson. Bisa dikatakan, perjalanan hidupnya seperti digiring oleh takdir untuk mengenal dan kemudian mencintai dan menggeluti sastra Jawa Kuno, yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Untuk pertama kalinya ia mendengar kata Jawa Kuno adalah pada tahun 1960 atau 1961, dari Dr. F.H. van Naersen yang saat itu menjabat sebagai Ketua Deprtemen Indonesia di Universitas Sydney. Dr. Naersen adalah seorang epigrafis yang memusatkan perhatiannya kepada inskripsi Jawa Kuno.

Saat masih siswa lanjutan atas, Robson pernah mendapatkan buku tatabahasa Jepang dari ayahnya, yang adalah seorang perwira militer yang pernah belajar bahasa Jepang dengan baik. Ketika mendapatkan kesempatan untuk masuk perguruan tinggi, Robson memutuskan untuk memilih jurusan Jepang. Puisi-puisi yang pernah ditulis Robson menunjukkan adanya pengaruh haiku, puisi-puisi alit Jepang.

Di meja kuliah ia pun mendapatkan pelajaran bahasa Asia, yakni bahasa Indonesia. Sudah tiga tahun ia belajar bahasa Jepang, namun kini ia jatuh cinta kepada bahasa Indonesia. Ia mulai tertarik bahasa Indonesia, dalam hal ini bahasa Jawa, setelah mendegarkan kelembutan dan suara yang mengalir dari orang yang berbicara lewat radio Australia.

Akhirnya tibalah saatnya, Robson harus menentukan pilihannya: Jepang atau Indonesia. Dan lubuk hatinya menggerakkan Robson menentukan pilihan tanpa keraguan. Ia pilih Indonesia! Sebagian pengajarnya mengatakan, bahwa tidak ada jobs di Jepang untuk orang Barat. Ia tahu, bahwa hal itu tidak benar.

Maka mulailah perkenalannya dengan bahasa Jawa Kuno. Mula-mula ia hanya mendengar istilah tembang gedhe, sekali lagi juga dari Dr. Naersen. Dalam sastra Jawa ad puisi yang bisa ditembangkan, ada tembang gedhe, tembang tengahan dan ada Macapat. Istimewanya, tembang-tembang itu bisa dinikmati dengan musik, tapi juga tanpa musik sekalipun.

Selanjutnya ia pun mulai membaca Adiparwa, yang bercerita tentang burung garuda dan naga-naga. Ketika ia ingin tahu lebih banyak dan lebih tahu sastra Jawa Kuno, Dr. Naersen menyarankan agar Robson memilih bahasa Jawa Kuno sebagai bidang studinya. Robson pun didasarankan belajar Jawa Kuno kepada Prof. P.J. Zoetmulder yang saat itu sedang berada di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Di penghujung tahun 1963, Robson bersama Rosemary, istrinya, terbang ke Indonesia. Alangkah kagetnya Robson, menyaksikan kehidupan ekonomi Indonesia yang sedang kocar-kacir. Ia pun digetarkan rasa dag dig dug, melikat gedung Kedutaan Besar Inggris yang baru saja dibakar dan menyaksikan truk-truk penuh tentara lalu-lalang di jalan-jalan raya kota Jakarta.

Sayangnya, ketika Robson dan Rosemary sampai di Yogya, Prof. Zoetmulder sudah meninggalkan Jawa, pergi ke negara lain. Tambahan lagi, saat itu Rosemary terserang penyakit serius. Tidak pikir panjang lagi, suami istri itu pun segera kembali ke negara asalnya. Robson tidak kevewa, sebab begitu pun ia merasa mendapatkan pengalaman yang cukup berharga.

Kembali ke Sydney, kembali kepada Naersen yang kini mempunyai gagasan cemerlang. Dr. Naersen berkata singkat, “Pergilah ke Leiden dan belajar Jawa Kuno di sana.” Meskpiun sudah beberapa tahun kuliah, apa oleh buat, di bawah sistem Negeri Belanda, Robson harus belajar mulai dari bawah lagi. Jerih payahnya tidak sia-sia, tanggal 5 Mei 1971 ia meraih gelar doktornya dari Universitas Leiden.

Tentu saja kebahagiaan singgah dalam hidupnya. Bahkan baru sampai di Leiden pun ia sudah bersyukur, bisa mengunjungi “Mekkah”nya studi sastra Jawa Kuno, katanya. Ketika kerinduan pun datang, Robson pulang ke Australia. Tetapi mau kerja apa? Tidak ada lowongan untuk orang yang “hanya” menekuni sastra Jawa kuno.

Tetapi sekali lagi Tuhan mengirimkan orang baik untuk mengulurkan tangannya. Sahabatnya, Prof. A. Teeuw, seorang Indonesianis, ahli sastra Jawa Kuno sekaligus sastra Indonesia modern, menyodorkan itikad baiknya. Dr. Teeuw, yang adalah seorang promotornya waktu promosi di Leiden, menyarankan agar Robson terbang ke Yogya. Saat itu Prof. Zoetmulder tengah mengerjakan kamus Jawa Kuno – Inggris, dan Robson bisa membantunya menyelesaikan pekerjaan itu. Robson pun tahu, bahwa itu terjadi karena siasat bajik Prof. Teeuw.

Tampaknya nasib baik selalu berpihak kepada Pak Robson. Saat di Leiden ia mendapatkan isi kantongnya dari Kantor KITLV dengan bekerja sebagai tenaga redaksi sekaligus sebagai orang yang membaca sumber-sumber daun lontar. Di Yogyakarta, sebagai asisten Prof. Zoetmulder, uang pun masuk ke sakunya.

Tahun 1971, Prof. Zoetmulder pergi ke Eropa (lagi). Maka pergilah Pak Robson ke Bali, tinggal di Bedulu, kabupaten Gianyar. Bedulu, dulu, adalah ibukota Bali sebelum periode Majapahit. Tempat tinggalnya tidak jauh dari Gua Gajah dan Kantor Purbakala. Di situlah Pak Robson mengalami kenikmatan tersendiri, saat melihat upacara keagamaan di Bali, yang ia sebut sebagai “literature in natural setting.” Hasil pengamatannya kemudian ia tulis dalam Bijdragen, tidak lama kemudian.

Robson termasuk penulis yang produktif dan buku-bukunya yang terbit hampir selalu tentang sastra Jawa Kuno. Karyanya yag terbaru (2008) adalah Arjuna, The Marriage of Arjuna of Mpu Kanwa, (KITLV Press, Leiden, 2008). Buku ini menghidangkan teks dalam bahasa aslinya, disertai terjemahan Robson dan dilengkapi dengan ulasan beserta latara belakang sejarahnya. Buku ini tebalnya 215 halaman.

Tahun 2003 terbit buku The Keraton, Selected Essays on Javanese Courts. Robson bertindak sebagai editor dan penulis pengantarnya. Sedangkan Rosemary Robson yang menjadi penerjemahnya. Para penyumbang untuk buku tersebut adalah, Th. Pigeaud (Belanda), Lucien Adam (Indonesia), Victor Zimmerman, A.J. Resink-Wilkens (Bdelanda), R. Soedjana Tirtakoesoema (Indonesia), B.P.H. Poeroebaja (Indonesia), Louis- Charles Damais (Prancis), Ki Hajar Dewantara (Indonesia). Buku ini tebalnya 400 halaman.

Tahun 1982 terbitlah kamus Jawa Kuno – Inggris, hasil kerjasama Robson dengan mentornya. Prof. Zoetmulder. Kamus ini tebalnya 2, 368 halaman diterbitkan oleh S-Gravenhage: Nijhoff. Tahun 1981, Robson bersama Prof. Teeuw menerbitkan Kunjarakarna Dharmakathana: Liberation through the Law of Buddha. Ini merupakan pembicaraan tentang buku puisi Jawa Kuno, karya Mpu Dusun.

Sebelumnya, tahun 1971 Robson menulis buku Wangbang Wideya: A Javanese Panji Romance, yang diajukan sebagai disertasi doktornya di Leiden University. Satu lagi buku pengting ditulis Robson bersama Prof. Teeuw: Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung, tebal 338 halaman diterbitkan oleh Nijhoff.

Penulis sendiri mulai tertarik kepada reputasi Pak Robson, setelah membaca karyanya, The Wedhatama, An English Translation, terjemahan dari Serat Wedhatama, karya Mangkunegara IV. Buku ini terbit tahun 1900, 60 halaman (KITLV Press, Leiden). Sayang sekali buku beliau, The Tripama, A Didactic Poem of Mangkunagara IV, (1999) (terjemahan dari Serat Tripama) belum kelihatan beredar di Indonesia. Sebenarnya banyak tulisan-tulisan penting Pak Robson yang termuat dalam berbagai berkala ilmiah, antara lain BKI (Bijdragen tot de Tal –Land-en Volkenkunde), RIMA (Review of Indonesian and Malayan Affairs).

Dilema terjemahan
Puisi-puisi Jawa Kuno ditulis dalam bentuk yang disebut kakawin. Yakni deretan karangan yang tersusun dari beberapa stanza yang masing-masing terdiri dari empat baris kalimat. Kata kakawin mungkin masih ada hubungan dengan kata India Kavya. Kata kavya, diartikan sebagai sastra dalam satu bentuk seni (literature as a form of art).

Dr. Robson adalah seorang ilmuwan. Sedangkan beberapa buku yang ia terjemahkan adalah karya-karya berbentuk puisi. Mungkin menarik, menyimak hasil terjemahan Pak Robson dari Jawa Kuno ke dalam bahasa Inggris. Kita ambil contoh dari Arjunawiwaha, karya Empu Kanwa. Di sini kita akan mendampingkan puisi Empa Kanwa, terjemahan Robson dan terjemahan versi Balai Pustaka (Sanusi Pane – Jakarta,1960).

Empu Kanwa: ambek sang paramarthapandhita huwus limpad sakeng sunyata
Tan sangkeng wisaya prayojana nira lwir sanggraheng lokika
Siddha ning yasa wirya don ira sukha ning rat kinikin nira
Santosaheletan kelir sira sakeng sang hyang jagat karana

Stuart Robson: The mind of the scholar who understands the highest truth has already
penetrated the Void and passed beyond.
His intentions do not flow from a desire for the objects of the senses,
As if he were concerned with the things of the world,
But his aim is to succeed in winning fame for deeds of valour, and it is
the happiness of the world that he long for, Content to remain veiled from the divine Cause of the World.

Sanusi Pane: Sang Pendita yang sudah mencapai Kebenaran Utama tahu dunia tidak berharga.
Bukan karena gemar kepada djasmani maka ia tinggal di masyarakah.
Kesempurnaan, kemasjhuran dan kekuasaanlah yang ditudjunja,
bahagia seluruh dun ia yang dihadjatnya.
Ia sentosa, terisah lajar dari Sang Hiang Pengarang Dunia.

Di sini tampak sekali bahwa menerjemahkan puisi itu sama sekali tidak mudah. Terjemahan Pak Robson sangat berhasil dalam mengejar kejelasan isi yang terkandung dalam puisi Empu Kanwa. Tetapi untuk mengejar apalagi mempertahankan irama dan keindahan bunyi suara tentu sangat berat.

Pada terjemahan versi Balai Pustaka, terasa sekali upaya untuk menjaga arti (makna) atau isi yang dituju Empu Kanwa. Juga ada upaya untak menjaga persamaan bunyi suara di tiap ujung baris kalimat (a/a/a/a). Sedangkan bunyi suara Kanwa juga a/a/a/a. Sayang sekali bahwa bahasa Indonesia versi Balai Pustaka (1960) terasa tidak begitu literer, ditambah masalah bahwa ketertinggalan bahasanya tidak bisa dielakkan, sebab bahasa Indonesia memang masih labil, dalam arti terus mengalami perubahan.

Sekali lagi menerjemahkan karya sastra puisi, memang idak mudah. Begitu sulitnya hingga bahkan ada orang bilang ekstrem: Puisi tidak mungkin diterjemahkan. Ada juga orang bilang, menerjemahkan puisi berarti mencipta puisi yang lain. Tetapi ada juga yang moderat, bilang: Puisi lebih baik diterjemahkan, daripada tidak bisa dipahami pembaca (lain) yang tidak mengerti bahasanya.

Kini semakin sedikit orang kita hang bisa membaca karya-karya sastra agung hasil karya pujangga agung seperti Empu Kanwa. Ternyata kita bisa mempelajari sastra Jawa Kuno melalui bahasa Inggris atau Belanda. Mengapa tidak? Terima kasih, Mr. Stuart Owen Robson! *

Comments

comments

Tags: ,