Telah terbit kumpulan puisi karya Naning Pranoto – ODE YANG TAK PERNAH MATI

ode yang tak pernah mati

SEKELUMIT CINTA

(Bagian dari isi Buku ODE YANG TAK PERNAH MATI)

Dengan kudanya yang gagah dan bersunggar indah
Dia lampaui dataran demi dataran
Matahari terik selalu. Membakarnya selalu
Tiba-tiba ada asap mengepul, jauh di sana
Pertanda ada kehidupan, ada manusia di sana
Oh…betapa indahnya sesuatu yang bernama manusia
Si Lelaki tersenyum, air liurnya menyembur bahagia

Tiba-tiba ke luar seorang ibu muda dan menyapanya
Bukan dengan kata, tapi segayung air segar buat minum kuda yang dahaga
Secangkir teh manis untuk si Lelaki Penanggung Kuda, berbinar-binarlah matanya
“Kau habiskan tehmu dalam seteguk, mengapa?” tanya si Ibu Muda, “Karena aku jelita?”
“Kau jelita karena kau penghapus dahaga.” Sahut Lelaki Penunggang Kuda
“Sayang, aku sudah bersuami.” Si Ibu Muda bergumam
“Tentu saja. Setiap perempuan jelita terlalu cepat bersuami.” Si Penunggang Kuda menyesali

Lelaki Penunggang Muda berlalu, menyusuri jejak matahari
Pandang mata Ibu Muda berpaling pada malam kelam, hatinya teramat sunyi
Ludahnya pahit menelan air empedu perkawinannya. Ia bergumam:
“Aku masih perawan. Suamiku bercinta dengan lelaki.”
Tubuhnya gemetar dan dia merintih, “Aku bercinta dengan tanganku sendiri.”
Si Ibu Muda merindukan si Lelaki Penunggang Kuda kembali.

Amsterdam, awal April 2007

Comments

comments