TEMA SEKS DALAM LIMA NOVEL YANG DITULIS OLEH NOVELIS PEREMPUAN INDONESIA

Nandang R. Pamungkas

Abstrak

Akhir-akhir ini dunia sastra Indonesia diwarnai oleh kemunculan novel-novel yang ditulis oleh novelis perempuan. Novel-novel para novelis perempuan yang muncul antara tahun 2002—2004 pada umumnya secara gamblang menyampaikan berbagai hal tentang seks. Kehadiran Larung (Ayu Utami), Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch (Dinar Rahayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto), Garis Tepi Seorang Lesbian (Herlinatien), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng), di samping mengundang decak kagum karena memperlihatkan terkembangnya layar estetika baru juga menuai kritik. Semua itu tak lain karena dampak dari karya sastra yang telah mengeksplorasi tema seks dengan narasi yang vulgar, binal, dan sarkastik.

Dalam kelima novel tersebut penokohan perempuan dan tema seks begitu terasa mendominasi. Para perempuan dalam novel-novel tersebut semuanya dililit oleh permasalahan cinta dan seksual. Permasalahan tersebut di antaranya, perselingkuhan, penindasan, budaya patriarkat, dan feminisme. Bahkan, lebih dari itu seks menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan perempuan yang disuarakan oleh perempuan pengarang. Meskipun beberapa novel menjadikan laki-laki sebagai tokoh sentral, tetapi secara umum cerita melibatkan begitu banyak tokoh perempuan.

Dalam kelima novel tersebut kita juga melihat pergeseran cara pandang para tokoh perempuan terhadap eksistensi laki-laki. Para perempuan tersebut tidak lagi melihat laki-laki sebagai laki-laki, tetapi menjadi objek atau mangsa. Kata tersebut secara gamblang disuarakan dalam kelima novel tersebut.

Kata Kunci: seksualitas, penokohan perempuan

Abstract

At the recently,  the world of Indonesian literature has been coloured by the emergence of novels  written by the female novelist. Novels of the female novelists emerging between the year 2002—2004 generally explicitly write about various sex issues. The presence of Larung (Ayu Utami), Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch      (Dinar Rahayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto) Garis Tepi Seorang Lesbian (Herlinatien), and Tujuh Musim Setahun (Clara Ng) not only raises good opinion since it shows the new aesthetics screen but also criticism. All of them are  impact of the literary work that exploite the theme of sex with the vulgar, rebellious, and sarkastic naration.

In the five novels, the characterisation of the woman and the theme of sex looks like dominated. The women in these novels are  troubled by the  love and sexual problem. This problems are affair, the suppression, the patriarchy culture, and feminism. Moreover, more than that,  sex becomes something that was very important in woman lifr expressed by women writer. Although several novels make  man the leading figure, the story generally  involves  so many leading figures of the woman.

In the five novels we also see the shift women’ way of thinking of the leading figures towards the men existence. These women no longer see the man as the man, but to the object or prey. These words were explicitly expressed in the five novels.

Key word: sexuality, the women characterisation

1. Pendahuluan

Pada kurun waktu antara tahun 2002—2004 dunia sastra Indonesia diwarnai oleh banyak bermunculan novel yang ditulis oleh novelis perempuan. Di antara novelis perempuan tersebut ada yang sudah terlebih dahulu karyanya terbit dan dikenal, seperti Ayu Utami dan Naning Pranoto, ada pula yang merupakan wajah baru, seperti Jenar Maesa Ayu, Clara Ng, Herlinatiens, dan Dinar Rahayu.

Di antara novel-novel para novelis perempuan yang muncul antara tahun 2002—2004 itu terdapat beberapa novel yang secara gamblang menyampaikan berbagai hal tentang seks. Karya sastra Indonesia mutakhir, khususnya karya  prosa yang ditulis oleh penulis perempuan, beberapa tahun belakangan ini amat gandrung mengusung tema seks. Baca saja Saman dan Larung (Ayu Utami), Jangan Main-main dengan Kelaminmu (Jenar Maesa Ayu), Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch (Dinar Rahayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto), Garis Tepi Seorang Lesbian (Herlinatiens), dan Tujuh Musim Setahun (Clara Ng) yang kehadirannya di samping mengundang decak kagum karena memperlihatkan terkembangnya layar estetika baru, sekaligus menuai banyak kritik. Semua itu tak lain karena dampak dari karya sastra yang telah mengeksplorasi tema seks dengan narasi yang vulgar, binal, dan sarkastik.

Pembicaraan mengenai aspek seksual dalam karya sastra menjadi topik yang menarik. Masalah seksual menjadi lahan subur yang tak pernah kering untuk dikaji sehingga tak pernah sepi dari perbincangan. Selain menarik, masalah seks juga merupakan suatu realitas kehidupan manusia yang selalu mengundang pro dan kontra dan tidak pernah menemui titik akhir.

Eksistensi seksual dalam karya sastra memang tidak bisa diabaikan karena merupakan aspek kehidupan manusia. Freud dalam Brower (1984:90) menegaskan bahwa seksualitas adalah bagian kehidupan karena mengandung seluruh eksistensi manusia itu sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Umar Kayam yang menyatakan bahwa masalah seksual merupakan satu soal kemanusiaan yang selalu akan mengganggu kehidupan manusia. Oleh karena itu, masalah seksual akan selalu dijumpai dalam kesusastraaan kapan saja. Tidak dapat dimungkiri bahwa aspek seksual akan dijumpai dalam jalur-jalur hubungan halus antara sastra dan hasrat seksual manusia meskipun dalam wujud yang paling halus dan implisit.

2. Pembahasan

Kupasan dalam tulisan berikut difokuskan pada penggambaran tokoh dan penokohan perempuan dalam novel Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto), Larung (Ayu Utami), Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch (Dinar Rahayu), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng), dan Garis Tepi Seorang Lesbian (Herlinatiens). Selain itu, akan dikaji pula perbandingan unsur-unsur seks yang terdapat dalam kelima novel tersebut.

2.1 Wajah Sebuah Vagina

Naning Pranoto & LMCR

Novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto berlatar masa kisahan, Oktober 1982 s.d. Januari 1983. Tersebutlah seorang wanita bernama Sumira dari desa Mijil, Pulau Jawa, yang kemudian dikenal sebagai Mira. Ayah dan ibu Mira telah dibunuh pada tahun 1965 oleh “petugas keamanan negara” karena ayah Mira adalah seorang anggota Barisan Tani Indonesia yang masih dipayungi Partai Komunis Indonesia (PKI). Mira kemudian dirawat oleh neneknya. Sebagai seorang anak keturunan PKI, Mira mendapat bermacam hinaan pada masa sekolahnya. Hal yang paling parah adalah ketika ia lulus SD, dalam usia empat belas tahun, kegadisannya direnggut oleh Lurah Prakosa yang senang hidup berfoya-foya dan merusak gadis-gadis muda.

Tak tahan menanggung malu, Mira pergi ke Surabaya. Di Surabaya oleh Mbak Dinah—tetangga yang dikunjunginya—Mira dijadikan pelacur selama lima tahun di rumah bordil yang dikelolanya. Mira melanjutkan hidup dengan mengomersialkan vaginanya, dinikmati oleh siapa saja yang mampu membayar, dan terkadang menyiksanya. Selanjutnya, ia bertemu dengan Suhar, sopir taksi. Mira menikah dengan Suhar dan hidup serba kekurangan karena uang tabungannya habis untuk mengobati neneknya yang sakit, tetapi tidak tertolong.

Kondisi rumah tangga Mira agak lumayan ketika ia ikut menambah penghasilan dengan berjualan bir. Mira menjual bir kepada seorang penumpang taksi, langganan suaminya. Pembeli bir itu adalah orang “londo” yang bernama Mulder. Ia mengaku kepada Mira sebagai pedagang berlian dan emas batangan. Mira kemudian tergoda oleh kemewahan yang dijanjikan Mulder. Untuk pertama kalinya, bahkan Mira merasa diperhatikan dan dihargai oleh Mulder yang menganggapnya rembulan. Mira pun bersedia mengikuti ajakan Mulder pergi ke Afrika meninggalkan Suhar suaminya.

Mulder mengajak Mira untuk kawin lari dengan iming-iming akan membahagiakannya. Awalnya hubungan mereka berjalan baik. Akan tetapi, ketika Mulder membawa Mira ke Afrika, Mira dibuang ke sebuah lubang di tempat terpencil. Kemudian, banyak lelaki yang datang untuk memperkosa Mira, bahkan ada yang memasukkan benda keras ke dalam lubang kemaluannya. Perasaan Mira sangat sakit. Tubuhnya terasa sudah tidak berdaya lagi. Sampai akhirnya ia ditemukan oleh masyarakat Zulu, penduduk asli bumi Afrika. Mira diselamatkan dan ditolong oleh seorang ibu yang sudah tua, pemuka masyarakat Zulu. Ibu itu sangat baik, bahkan mengusahakan kesembuhan Mira dari penyakit di tubuhnya dan gangguan psikologis yang menyelimutinya. Ibu itu juga mengusahakan kepulangan Mira ke kampung halamannya di Indonesia dengan mencari bantuan ke kota.

Mira (Sumirah), salah satu tokoh utama dalam novel ini, menggambarkan model perempuan yang dapat menaklukkan sekaligus ditaklukkan laki-laki. Tepatnya, lebih banyak ditaklukkan daripada menaklukkan. Sebagai wanita udik dari Desa Mijil yang terpencil di Jawa Tengah, Mira mengalami ketertindasan yang sadis karena perilaku buruk pasangan hidupnya (mereka tidak menikah), yaitu seorang lelaki kulit putih berdarah Belanda.

Kesengsaraan hidup Mira sebetulnya berawal dari kesalahannya sendiri. Sosok Mira adalah potret perempuan yang mudah dirayu, mata duitan, selalu berangan-angan menjadi nyonya besar, dan gampang dibujuk dengan janji-janji yang mematikan. Hanya demi harta dan kemewahan, Mira tega meninggalkan suaminya, seorang sopir taksi, lalu memilih hidup bersama lelaki bule, bernama Mulder, pengusaha berlian yang menganiayanya di kemudian hari.

Di akhir babak kehidupannya, Mira bagaikan kapas yang ditindih runtuhan bukit yang amat berat. Ia mengerang dan berontak untuk membebaskan dirinya dari tindihan itu. Akan tetapi, ia tak berdaya. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ia berusaha kembali ke alam sadar keperempuanannya. Dalam suasana sekeliling yang gelap dan kerongkongan yang tercekik, Mira mendengar sayup-sayup lagu kematian. Suara-suara itu membuat tubuhnya bergetar hebat. Bersamaan dengan itu ia mendesis: ”Gusti, beri aku waktu untuk memperbaiki diri. Gusti, beri aku waktu untuk menebus dosa-dosaku.” Ia mendesis lagi dengan lidah kaku membeku (hlm. 6).

2.2 Larung

Ayu Utami

Larung terbagi dalam tiga bagian. Seperti kita ketahui, Larung merupakan bagian atau kelanjutan dari novel Saman. Bagian pertama mengisahkan Larung (seorang laki-laki) yang mencari cara untuk membunuh neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun, tetapi tak juga mati. Larung menganggap bahwa neneknya memiliki kekuatan yang mistik luar biasa. Larung menganggap bahwa neneknyalah yang telah menyebabkan kematian ibunya. Kematian neneknya menjadi misteri (yang dilakukan secara eutanasia oleh  Larung). Dalam bab tersebut digambarkan juga betapa Larung merasakan luka sejarah yang dimilikinya karena ayahnya terlibat dalam G30S/PKI.

Bagian kedua menceritakan kehidupan empat sahabat, yaitu Laila, Shakuntala, Yasmin, dan Cok. Seperti kita ketahui, tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh-tokoh yang ada dalam Saman. Mereka pergi ke New York untuk menonoton Shakuntala menari. Akan tetapi, sesungguhnya mereka pergi membawa misi yang lain. Yasmin membantu Saman, kekasihnya, untuk mencari dukungan bagi gerakan demokrasi di Indonesia. Laila ingin bertemu pacar gelapnya, Sihar.

Bagian ketiga mengisahkan upaya Larung dan Saman untuk menyelamatkan Wayan Togog, Bilung, dan Koba. Mereka adalah para aktivis Solidaritas Wong Alit yang dituduh menjadi dalang kerusuhan peristiwa 27 Juli. Mereka menjadi buronan polisi. Karena pembelaan itu pulalah, Larung dan Saman terbunuh.

Cok adalah sosok yang digambarkan sebagai perempuan yang jujur, terbuka, sekaligus liar. Sejak SMA Cok telah terbiasa melakukan hubungan intim dengan pacar-pacarnya. Sahabatnya, Shakuntala, mendeskripsikan wajah Cok, seperti “muka orang yang sedang bersenggama,” sedangkan Yasmin, menjulukinya “Si Perek” (hlm. 83).

Cok pun sangat menikmati perselingkuhannya dengan Brigjen Rusdyan Wardana yang mudah dipermainkan. Selain menjadi backing usaha hotelnya, selingkuhannya itu pernah dimanfaatkan oleh Cok untuk meloloskan Saman saat menjadi buronan.

Laila adalah perempuan yang mencintai laki-laki yang sudah beristri, Sihar. Sementara itu, Sihar tampil sebagai tokoh yang penuh kebimbangan. Sihar berselingkuh dengan Laila, tetapi selalu berusaha untuk setia kepada istrinya. Istri Sihar adalah seorang janda yang sudah tak mungkin memberikan anak kepada Sihar karena ada masalah pada rahimnya. Dalam benak Laila, Sihar menyukai istrinya karena perempuan itu sangat berpengalaman dan memiliki birahi yang besar. “Kamu nafsu pada tubuhnya yang panas, meski rahimnya telah dingin (hlm. 124).

Dalam situasi cinta yang terombang-ambing, Shakuntala masuk lebih jauh ke dalam kehidupan Laila, mulai dari hanya mengobrol, menata rambut, hingga mengajar tango, dan sebagainya. Laila seperti menemukan Sihar dan Saman dalam diri Shakuntala. Mereka pun menjadi pasangan lesbian meski tak terikat dan Laila tetap mencintai Sihar. Shakuntala sering merasa ada dua jiwa dalam dirinya, seorang perempuan dan seorang laki-laki yang saling berbagi untuk sebuah nama yang tak mereka pilih (hlm. 134).

Shakuntala merasa bahwa ia menjadi perempuan karena kedua orang tuanya selalu mengatakan bahwa dirinya seorang perempuan. Padahal menurut Shakuntala, setiap manusia memiliki dua atau beberapa diri dalam diri mereka, sebagaimana yang dialami dan dirasakannya sendiri, menurutnya “manusia tidak terdiri dari satu” (hlm. 134).

Masa kecil Shakuntala diwarnai dengan berbagai aturan yang diterapkan ayahnya berdasarkan gender. Bagi ayah Shakuntala, lelaki tidak boleh menangis dengan alasan apa pun. Lelaki juga harus pandai memanjat pohon kelapa. Ayah menyimbolkan pohon kelapa sebagai menara tempat kakak lelakinya melindungi adik-adik perempuannya dari “para raksasa” (hlm. 137).

Ketika dewasa, Shakuntala bertemu dengan seorang pesinden. Ia berguru kepadanya. Bahkan, Shakuntala sering menginap di rumahnya. Hal inilah yang menjadi momentum Shakuntala untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya. Suatu malam aku duduk di sebuah ruang dan mengagumi dia menyayi tanpa pengiring, jiwa lelaki dalam diriku muncul dari belakang tubuhku, seperti energi yang lepas. Aku tidak bicara kepadanya, tetapi si pesinden itu melihatnya, lalu mereka menembang bersama. Lalu, mereka berdekatan … (hlm. 149). Sejak itu, Shakuntala menjadi seorang lesbian.

Yasmin adalah gambaran perempuan yang ideal. Waktu di SMA, Yasmin adalah primadona. Ia gambaran perempuan yang selalu menjadi nomor satu dalam hal prestasi, kecantikan, maupun moral (hlm. 82). Akan tetapi, Yasmin yang oleh Cok disebut “si munafik” ternyata memiliki fantasi-fantasi liar.

Ketika memasuki dunia patriarkat, ia merindukan penghukuman dan mendambakan dominasi laki-laki. Kerinduannya itu bertentangan dengan citra yang dibangunnya selama ini, yaitu Yasmin yang mandiri selalu punya keputusan rasional, pengacara yang cukup dihormati, aktivis hak asasi manusia, juga istri dari lelaki bernama Lukas. Yasmin merasa berbeda dengan perempuan lain. Yang membedakan aku dari para wanita yang mengukuhkan patriarkat adalah aku melokalisasinya pada fantasi seksual. Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide total dan murni, suatu yang ideal. Mereka menerimanya sebagai nilai moral, aku sebagai nilai estetik (hlm. 161).

2.3 Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch

Jonggi adalah seorang lelaki yang selama bertahun-tahun menjadi korban penyimpangan seks kakaknya sendiri. Tidak hanya itu, saat masih kecil hingga remaja, Jonggi pun menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan ibunya yang kesepian meskipun sesungguhnya, ibunya memiliki selingkuhan.

Saat megikuti tugas ayahnya yang seorang diplomat ke Klaskow, Jonggi diperkosa dengan beringas oleh lima “tante-tante” yang menginap di rumah konsulat jenderal. Jonggi kembali ke Indonesia untuk kuliah. Akan tetapi, ia sempat dihajar massa karena mencabuli seorang gadis, tetangganya, yang masih di bawah usia. Sambil kuliah, Jonggi–yang juga mengidap masokhisme dan senang disiksa terlebih dahulu sebelum bercinta–menjadi penari (striptis) di sebuah klub. Di sana ia bertemu Dinar, yaitu seorang lelaki yang mengoperasi alat kelaminnya dan memilih menjadi perempuan.

Penokohan perempuan dalam novel ini, sebagaimana pada novel sebelumnya, berbeda dengan stereotip yang ada. Tokoh wanita yang mendapat porsi besar dalam novel ini adalah Kartika. Kartika adalah seorang guru, kaya, dan kesepian. Suaminya sering tidak pulang. Anaknya sudah remaja dan punya kegiatan sendiri.

Masa kecil Kartika tak kalah perih. Ia, adik, dan ibunya sering menjadi korban dari tindak kekerasan ayahnya. Kata-kata sang ayah yang selalu kasar, siksaan terhadap ibu di depan matanya, hingga pelecehan yang dilakukan ayahnya kepadanya saat ia berada di kamar mandi, membuat Kartika selalu berdoa agar ayahnya cepat mati. Lalu, muncul Sudiro yang melamar Kartika dan kemudian menjadi suaminya.

Kartika bertemu dengan Jonggi di sebuah klub, tempat Jonggi menari. Ia membayar mahal untuk bisa menghabiskan waktu bersama Jonggi (hlm. 147). Tokoh perempuan lain adalah ibu Jonggi, istri Dicky Kalangi. Ibu empat anak ini terlalu sering ditinggal suaminya dengan alasan berbakti pada ibu pertiwi. Akhirnya, ibu Jonggi berselingkuh dengan Gunnar yang lebih muda darinya (hlm. 112).

2.4 Tujuh Musim Setahun

Novel ini berkisah tentang persahabatan lima perempuan yang terjalin sejak di bangku SMU. Kelima perempuan tersebut adalah Lara, Selena, Mei, Phoebe, dan Iris. Lara adalah seorang perempuan yang energik dan sangat terobsesi dengan seks, Selena perempuan yang senantiasa menjaga keperawanannya, Mei (ibu rumah tangga) yang tak pernah merasa puas dengan berhubungan intim dengan suaminya, Phoebe perempuan yang sejak remaja merasa (menyimpang) menyukai sesama jenis, dan Iris perempuan yang merasa kecewa dengan semua lelaki yang pernah singgah dalam kehidupannya. Phoebe sempat menikah dengan Ben, tetapi menurutnya pernikahan yang berakhir dengan perceraiann tersebut, seperti neraka. Phoebe dan Iris kemudian menjadi pasangan yang keberadaannya dideklarasikan di media cetak.

Tokoh yang lain adalah Nata, salah satu kekasih Lara di dunia cyber. Lara dan Nata akhirnya melanjutkan hubungan mereka di dunia nyata, bahkan mereka sepakat menikah. Sebelumnya, Nata yang berdomisili di Boston adalah kekasih Nuna. Nuna meninggal setelah koma sekian lama akibat tertembak karena terjebak dalam peristiwa perang antargeng. Nata sangat terpukul dengan kematian Nuna. Ia pun berhalusinasi bahwa kupu-kupu yang sering dilihatnya adalah jelmaan Nuna. Tampaknya bagi Nata, Lara belum sepenuhnya dapat menggantikan Nuna. Nata akhirnya bunuh diri, terbang bagai kupu-kupu untuk pergi bersama Nuna yang telah menjelma kupu-kupu sejak lama.

Sementara tokoh Michael—selingkuhan Lara saat ia sudah bertunangan dengan Nata—juga berdomisili di Amerika (New York). Michael hidup dalam penyesalan karena pacarnya semasa SMA, yaitu Tania meninggal akibat aborsi ilegal yang dilakukannya. Selanjutnya, Michael mencari semacam penebus dosa atas apa yang telah dilakukannya terhadap Tania dengan aktif di LSM advokasi perempuan.

Novel ini terdiri atas tujuh bab yang masing-masing dapat berdiri sendiri dan memiliki tokoh sentral sendiri, tetapi satu sama lain tetap saling berkaitan. Tokoh cerita dapat diketahui karakternya dari pikiran, perasaan, dan tindakan para tokoh lainnya terhadap tokoh tersebut. Lara dapat dikatakan sebagai tokoh yang paling banyak diceritakan dalam novel ini. Ia seorang perempuan yang tak bisa diam. Bahkan, menurutnya kalau diam, ia masih terlihat seperti perempuan yang menari (hlm. 5). Pada saat SMU ia mempunyai pacar yang bernama Alfa. Mereka pernah menginap di puncak dan berhubungan melempaui batas.

Lara bertemu Nata di Amerika dan hubungan mereka berlanjut. Bahkan, mereka merencanakan pernikahan. Di sela-sela waktunya Lara masih sempat mengabarkan pada teman-temannya apa saja yang dilakukannya bersama Nata. Namun, bersamaan dengan hubungannya dengan Nata, diam-diam Lara juga menjalin cinta dengan Michael yang dijumpainya dalam perjalanan dari Singpura menuju ke New York (hlm. 88). Pada kesempatan lain ketika Mei bercerita (melalui email) bahwa ia tak pernah mencapai kepuasan setiap kali berhubungan dengan suaminya, Lara membalas: Pergunakan suamimu untuk kepuasanmu (hlm. 81).

Selena merupakan teman dekat Lara yang sejak kecil selalu diminta Lara untuk melindungi ‘kenakalannya’ dari kedua orang tuanya. Ketika Lara pergi ke puncak bersama Alfa, Selena sibuk mencari alibi bagi sahabatnya. Dalam hati, Selena merasa berdosa, tetapi tak kuasa melawan dominasi Lara. Selena mendambakan kehadiran seorang laki-laki dalam kehidupan remajanya, seperti teman-temannya, tetapi tak mengejar-ngejar cinta lelaki mana pun.

Mei menikah lebih dahulu daripada empat teman SMU-nya. Setelah hampir dua tahun menikah, lahir Jasmin. Namun, selama dua tahun pernikahan Mei yang dikatakan seorang pendiam itu mengaku tak pernah orgasme bila berhubungan dengan suaminya. Mei mengatakan hal itu lewat email yang dikirimnya kepada Lara (hlm. 70). Bagi Mei, seks yang dirasakannya sekarang hanyalah sesuatu yang rutin dan menyebalkan (hlm. 69).

Sementara itu, Kris yang memiliki toko komputer, berselingkuh dengan Dessy, manajer salah satu perusahaan yang pernah datang ke tokonya untuk memesan beberapa komputer. Mei yang tak pernah sedetik pun membayangkan bahwa Kris (akan) berselingkuh, tidak mengetahui jika suaminya dapat memberi Dessy sesuatu yang menurut Mei tidak pernah dirasakannya.

Phoebe adalah perempuan cerdas yang bergerak di bisnis bunga. Sejak usia tujuh belas tahun, sarjana akuntansi ini menyadari bahwa ia tidak tertarik kepada lelaki mana pun, tetapi tertarik kepada jenisnya sendiri. Aku menyadari kelainan pada diriku sejak aku berusia tujuh belas tahun. Kalau teman-teman sebayaku sudah mulai tertarik kepada lelaki, aku sama sekali beku (hlm. 174).

2.5 Garis Tepi Seorang Lesbian

Novel Garis Tepi Seorang Lesbian yang ditulis oleh Herlinatiens ini berkisah tentang nasib seorang perempuan yang sedang berjuang untuk jujur tentang orientasi seksualnya bahwa dirinya adalah seorang lesbian. Perempuan itu bernama Ashmora Paria. Banyak laki-laki ataupun perempuan yang jatuh cinta kepadanya, tetapi cintanya hanya untuk satu perempuan, yaitu Rie Shiva Ashvagosha.

Keduanya saling mencintai. Cinta baginya adalah nyawa yang berkesinambungan yang memberikan kekuatan diri untuk selalu hidup. Begitu luhur pandangan Paria tentang makna cinta. Namun, ketika berterus terang kepada keluarganya—kebetulan keluarga muslim yang taat—tentang orientasi seksualnya itu, ia dimarahi, dihujat, bahkan dikucilkan. Keluarganya melihat pilihannya itu sebagai pilihan yang tidak normal, sakit, bahkan menjijikkan.

Di tengah tekanan masyarakat heteroseksual itu Paria kehabisan kekuatan akan eksistensinya sebagai lesbian, apalagi kabar dari Rie tidak pernah kunjung datang. Cinta Paria hanya untuk Rie. Akan tetapi, demi keluarga ia mengambil keputusan untuk menikah dengan Mahendra, laki-laki ganteng, kantoran, dan kaya. Karena sepasang kekasih itu sama-sama wanita, sementara keluarga, agama, dan masyarakat melakukan segala sesuatu untuk mendukung cinta heteroseksual, kedua kekasih ini dikucilkan dari ornamen-ornamen masyarakat normal. Dalam kenyataan inilah alasan mengapa mereka berpisah. Rie menikah dengan seorang lelaki yang tidak dicintainya, demi cinta keibuan, agar tidak menyakiti hati ibunya yang sakit itu. Namun, seperti yang tersirat dalam cerita, kepedulian yang dirasakan kedua kekasih itu terhadap keluarga mereka tidak timbal-balik. Justru sebaliknya, mereka mengalami kekerasan secara fisik, sekaligus emosional, ketika mengungkapkan apa yang paling alami di dunia, yakni cinta seorang manusia terhadap manusia lain.

Masyarakat yang lebih luas juga menampik cinta ini atau memanfaatkannya untuk mendapat keuntungan material, sebagaimana halnya media. Interpretasi terkini dari agama juga tidak menyambut baik asmara mereka, tetapi memandangnya sebagai dosa.

3. Simpulan

Kultur patriarki telah melahirkan cara berpikir yang sangat diskriminatif, kemudian melembaga dalam sistem hukum, baik dalam bentuknya yang formal maupun tidak. Perempuan selalu saja menjadi korban kekerasan kaum lelaki. Secara disadari atau tidak, perempuan selalu menjadi pihak tak berdaya. Perempuan selain dianggap lemah secara fisik, didukung pula oleh pandangan masyarakat yang tidak adil terhadap perempuan sehingga hanya mampu melakukan pemberontakan dalam ilusinya. Akan tetapi, dalam kelima novel yang telah dibahas itu kita dapat melihat pergeseran cara pandang para tokoh perempuan terhadap eksistensi laki-laki. Para perempuan tersebut tidak lagi melihat laki-laki sebagai laki-laki, tetapi menjadi objek atau mangsa. Kata tersebut secara gamblang disuarakan dalam kelima novel tersebut.

Berdasarkan kelima novel tersebut, dapat disimpulkan bahwa seks sebagai bahasan. Bahkan, lebih dari itu seks menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan perempuan yang disuarakan oleh pengarang. Meskipun beberapa novel menjadikan laki-laki sebagai tokoh sentral, cerita tetap melibatkan banyak perempuan. Dalam Larung seks mendapat porsi besar. Cok dan kawan-kawan menggugat banyak hal tentang seks dan dominasi patriarkal, meski bahasan utama adalah lelaki bernama Larung dengan segala kemelut hidupnya.

Daftar Pustaka

Bandel, Katrin. 2006. Sastra, Perempuan, Seks. Yogyakarta: Jalasutra.

Brouwer, M. A. W. 1984. Psikologi Fenomenologis. Jakarta: Gramedia.

Herlinatiens. 2003. Garis Tepi Seorang Lesbian. Yogyakarta: Galang Press.

Ng, Clara. 2002. Tujuh Musim Setahun. Jakarta: Dewata Publishing.

Pranoto, Naning. 2004. Wajah Sebuah Vagina. Yogyakarta: Galang Press.

Rahayu, Dinar. 2002. Ode untuk Leopold Van Massoch. Jakarta: Pustaka Jaya.

Utami, Ayu. 2002. Larung. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Comments

comments