TEMU PENGARANG-PEMBACA

Oleh Naning Pranoto

Saya mendapat sembilan e-mail yang menanyakan, apa saja yang perlu dilakukan oleh seorang pengarang dalam acara Temu Pengarang-Pembaca? Berikut ini saya jawab berdasarkan pengalaman saya.

Bagi saya, acara Temu Pengarang-Pembaca (TPP) adalah moment yang sangat menyenangkan. Karena dalam acara ini, saya bertemu dengan para pembaca karya saya dan ada juga mereka yang belum mengenal saya maupun karya-karya saya. Hal itu tidak menjadi masalah. Karena saya suka bertemu dengan siapa saja, untuk menambah kenalan. Bahkan kalau bisa, kenalan baru itu menjadi sahabat atau paling tidak teman baik. Terciptalah networking. Ini merupakan kekayaan, baik saya sebagai pribadi maupun sebagai pengarang. Networking adalah sumber insiprasi dan materi untuk mengarang dan tentu saja sebagai pembaca karya yang saya tulis (harapan saya begitu!).

Biasanya, TPP merupakan inisiatif pihak toko buku, pihak penerbit mendukung dengan cara mengundang pengarang. Tetapi saya pribadi, karena ada sponsor, sering inisiatif menghubungi toko buku. Tentu saja, toko buku yang saya hubungi senang dan acara berlangsung heboh dan seru. Misalnya, saya pernah ber-TPP di Toko Buku Togamas Malang – yang hadir bludak. TPP di berbagai universitas juga menyenangkan, tapi suasananya tidak seheboh di toko buku. Di universitas acaranya digelar semi formal. Sedangkan di toko buku lebih bebas dan pesertanya juga terdiri dari berbagai lapisan.

TPP di toko buku, biasanya disediakan ruangan khusus. Ruangan itu bisa semacam ruang pertemuan, bisa juga bagian dari toko buku itu sendiri. Misalnya, kalau TPP di Toko Buku Gramedia Matraman – Jakarta, disediakan tempat khusus – seperti gaya seminar. Tetapi ber-TPP di Toko Buku Gunung Agung Surabaya (Plaza Surabaya), gayanya lain lagi – lebih akrab, karena berada di dalam toko buku. Bagi saya TPP itu di mana saja, yang penting semua senang.

Acara TPP menurut saya, sebaiknya memang untuk ‘pertemuan bersenang-senang’ antara pengarang dan pembaca. Bersenang-senang di sini saya artikan ‘rileks’ – tidak usah ada jarak. Sebab, saya pernah melihat ada seorang pengarang yang ber-TPP tetapi gayanya seperti sedang jadi pembicara dalam seminar. Menurut saya, sebaiknya diskusi bebas atau tanya-jawab apa saja yang diinginkan (apa yang pembaca ingin tahu) pembaca terhadap pengarang yang dijumpainya. Agar pertemuan terarah memang perlu pemandu (jika diperlukan), ada buku yang dibahas (biasanya karya terbaru) atau topik yang ditawarkan. Ketika saya meluncurkan novel saya yang berjudul Musim Semi Lupa Singgah Di Shizi dan kemudian diadakan TPP – menyajikan bincang-bincang bertema: Cinta – Cinta Multisegi. Seru sekali. Yang datang kebanyakan bapak-bapak yang merasa sedang ‘jatuh cinta yang kedua’. Saya sampai kewalahan menjawab berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan. Semua pertanyaan menarik, menjadi kenangan manis.

Pengalaman saya ber-TPP selalu menyenangkan dan banyak yang hadir. Mungkin, karena ada dukungan talkshow di radio, wawancara di koran, atau mungkin juga mereka (para pembaca itu) ingin ketemu saya. Pada umumnya, para pembaca ini menanyakan proses kreatif saya. Ada juga yang ‘memaki-maki’ karena tidak menyukai karya saya. Menghadapi kasus seperti ini posisi saya sebagai pengarang tidak pernah marah. Semua dihadapi dengan santai dan saya malah banyak tertawa . Kritik yang berdatangan perlu sekali didengar untuk acuan berkarya yang lebih baik, lebih kritis dan tentu saja menarik. Ada juga yang menyarankan agar saya berkarya seperti Si A, Si B, Si C dll – nah, menanggapi saran seperti ini langsung saya jawab, “Saya adalah saya. Saya punya gaya menulis tersendiri, begitu pula misinya!” – dalam hal ini memang harus tegas, sebagai pengarang saya harus berani bersikap. Tetapi, untuk mengungkapkan hal itu tentu saja harus secara diplomatis. Bila disampaikan secara frontal, biasanya menimbulkan perdebatan. Saya dalam ber-TPP tidak mau berdebat. TPP adalah bukan forum untuk itu.

Berdasarkan pengamatan saya, pada umumnya toko buku yang menyelenggarakan TPP menyediakan konsumsi (paling tidak minuman) untuk para tamu/pembaca yang hadir. Karena TPP merupakan salah satu sarana/media promosi toko buku untuk mendatangkan massa. Saya pernah diundang Toko Buku Ultimus Bandung, aduhh…toko buku ini punya gaya unik dalam menghidangkan konsumsi: kopi, kacang, pisang goreng — dan para tamunya duduk lesehan. Sungguh, suasananya terasa akrab. Dalam kondisi seperti ini biasanya TPP bisa berlangsung lama. Yang ideal ya 2 (dua) jam. Tetapi saya pernah ber-TPP sampai 4 (empat) jam karena ‘ditodong’ memberi tips-tips mengarang. Saya tidak keberatan, karena bagi saya TPP adalah sebagai ungkapan terima kasih saya kepada para pembaca yang mau memperhatikan karya-karya saya. Bagi pengarang, merasa puas bila karyanya dibaca orang lain.

Berdasarkan paparan saya, jadi bila seorang pengarang mau ber-TPP saya kira tidak perlu ada persiapan khusus. Yang penting, kesehatan dalam kondisi prima, khususnya suara sedang tidak serak (mengalami gangguan tenggorokan) jadi bisa bicara berjam-jam dan jangan lupa banyak minum agar tetap segar. Usahakan agar yang hadir banyak, TPP diselenggarakan akhir pekan, setelah pukul 14.00. Ber-TPP malam hari? Biasanya yang datang pembaca muda/mahasiswa. Nah, itulah pengalaman saya. Terima kasih. Sampai jumpa di topik lain.

Comments

comments