THE DANCING LEADER; IDEALISME KAUM IDEALIS

Judul Buku: THE DANCING LEADER

Editor: JUSUF SUTANTO

Tebal: XIVII + 784 Halaman.

Penerbit: PENERBIT BUKU KOMPAS

Tentu bukan suatu peristiwa yang kebetulan saja, jika 46 orang pakar dalam bidangnya masing-masing menulis bersama-sama dalam satu buku yang sangat tebal ini. Pastilah terencana, sehingga juga terarah ke mana tujuannya. Tidak alang kepalang buku ini memuat sambutan banyak rektor universitas: Rektor Universitas Pancasila, Universitas Indonesia, Univesitas Islam Negeri Sjarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Kristen Satyawacana, dan Universitas Sanata Dharma.

Banyak tulisan yang merupakan percikan pemikiran yang menarik dan penting bagi masyarakat luas, utamanya menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Setelah sambutan dari lima rektor dari lima universitas,buku ini diawali dengan buah pikiran Rocky Gerung, seorang pengajar filsafat di Universitas Indonesia (UI). Di bawah judul Memimpin Peradaban Rocky langsung mengingatkan kita semua, bahwa tanggungjawab adalah inti kepemimpinan. “Ini adalah kearifan tua yang kini menjadi isu kontemporer ketika dunia mengalami situasi katastrofi multidimensi.”

Lebih jauh lagi Rocky Gerung berbicara tentang kecemasan umat manusia saat ini. “Kecemasan terhadap daya dukung Bumi, disparitas ekonomi antarnegara, konflik ideologi, persaingan nuklir, semuanya telah menghadapkan dunia pada suatu pertanyaan final: bagaimana peradaban harus dikelola agar kita dapat berbagi oksigen, bergantian memakai energi, dan bergandengan tangan membersihkan Bumi?” Dalam kaitan ini Gerung juga menulis, bahwa konsep kepemimpinan telah bergeser dari prinsip leadership menjadi prinsip partnership. Sejauh ini ia masih berwacana tentang manajemen, khususnya masalah leadership. Tetapi masuk jauh dalam tulisannya ia berbicara masalah nation state (Negara Bangsa), ketika ia menyinggung masalah kepemimpinan dalam bidang politik, sebagai suatu misal.

Ia berpikir, agar “nation state” tidak lagi ditafsirkan secara territorial, sekuriti, dan ekonomistik, tetapi mencair ke dalam berbagai wacana etis untuk memungkinkan kemanusiaan diunggulkan mendahului konstitusi-konstitusi politik. Menurut Gerung, konsep konvensional “nation state”, yang selalu identik dengan hirarki kepemimpinan politik, akan makin tidak relevan menghadapi operasi kebudayaan humanitarian yang dipimpin oleh ide partnership dan ko-operasi global. Di sini diperlukan kejelasan dan penjelasan, apakah hal itu merupakan harapan ataukah ramalan yang sangat diharapkan untuk bisa terjadi.

Tidak mustahil, bahwa penampikan terhadap nation-state itu berkaitan dengan gagasan satu dunia tanpa Negara, tanpa pemerintahan, meskipun belum tentu menjurus kepada gagasan anarkime dalam arti sesungguhnya. Masalah ini juga perlu dipertanyakan adakah hubungannya dengan anggapan, bahwa Negara adalah lapisan tanah yang cocok untuk memfosilkan, nilai, makna dan kebenaran. Bagi seorang seperti Nietzsche, seniman, filsuf dan santo adalah orang-orang yang paling berbudaya. Semakin orang mempunyai jiwa seniman, filsuf, dan santo, semakin orang enggan hidup bernegara. Begitu ujar Friedric Nietzsche, sepeti dikutip ST. Sunardi, dalam bukunya, yang berjudul Nietzsche.

Menarik juga untuk disimak percikan permenungan Arnold Sutrisnanto, di bawah tajuk Energi: Menyongsong Masa Depan. Dia adalah pemikir konservatif, dalam arti setia percaya bahwa alam semesta ini tercipta melalui kejadian awal yang disebut Big Bang. Tentu tidak masalah. Sebab landasan ilmiahnya memang kuat. Dalam arti, belum tergoyahkan sampai hari ini. Persoalannya timbul, ketika manusia berbicara soal nasib. Geografi, adalah nasib, kata orang. Ditarik lebih luas, tentu, dunia adalah nasib. Jelasnya, ada bangsa yang ditakdirkan menduduki daratan subur, ada yang tandus, ada yang kaya minyak banyak yang miskin minyak.

Manusia tidak akan terpisahkan dari masalah energi. Mulai dari energi fosil, hingga energi yang terbarukan. Kenyataannya, makin besar potensi industri suatu Negara, makin besar kebutuhannya akan minyak dan gas bumi. Negara-negara dikuasa itulah yang senantiasa mengusai semaksimal sumber-sumber minyak bumi dan bahan bakar lainnya. Untuk itu tidak segan-segan negara adikuasa melakukan invasi secara terang-terangan tehadap negara lainnya, yang kebetulan kaya dengan tambang minyak.

Lalu bagaimana dengan listrik sebagai energi sekunder bagi masyarakat seperti Indonesia sekarang ini? Masa depan perlistrikan juga tidak terlalu cerah. Pada tahun 2050, penduduk Indonesia akan mencapai 340 juta jiwa. Untuk itu rasio kelistrikannya baru mencapai 65 persen. Itu terlalu rendah menurut hitungan Arnold Soetrisnanto. Maka mau tidak mau sejak sekarang kita harus berpikir serius kemungkinan memanfaatkan energi nuklir.

“Energi nuklir sebenarnya bisa mendampingi energi fosil di masa depan, tetapi permasalahan politik dan social menjadi pengganjal utama, mengingat adanya fungsi lain daari energi nuklir. Yaitu dapat dikembangkana sebagai senjata musnah massal, atau bom nuklir,” papar Arnold. Selain itu, masih ada masalah lain. Yakni: Ketakutan umat manusia terhadap radiasi akibat kecelakaan pembangkit tenaga nuklir menjadi semakin menguat. Ketakutan itu, ini sangat berlebihan, katanya. Arnold Soetrisnanto, termasuk orang yang optimistis, bahwa kita punya teknolog dan teknologi yang mampu mengatasi berbagai masalah yang mungkin terjadi.

Dr. Ir. Lies Wijayanti, menurunkan bahasan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi, di bawah judul Merajut Cita Kemandiriasn Iptek Nasional. Judulnya itu saja, sudah memancing pikiran kritis untuk melancarkan berbagai pertanyaan: Mungkinkah Negara atau masyarakat yang masih berbau agraris dan pendatang baru dalam era teknologi modern bisa mampu mandiri? Bukankah teknologi yang sangat diperlukan umat manusia itu justru merupakan kepentingan bersama umat manusia dank arena itu selalu diperlukan kerjasama teknologi di dunia ini?

Dr. Ir. Lies Wijayanti

Dr. Lies mengawali pikirannya dengan memanfaatkan inspirasi dari Bapak Bangsa. Ir. Soekarmo. Dalam amanatnya kepada rakyat Indonesiqa, Bung Karno menandaskan, tanpa budaya ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan menjadi bangsa kuli, atau kuli di anatara bangsa-bangsa. Kemudian beliua pun mengingatkan, bahwa di hadapan kita ada dua pilihan dengan risiko dan konsekuensinya masing-masing.Pilihan pertama,menjadi bangsa pengimpor teknologi dan bergantung sepenuhnya secara teknologis kepada bangsa lain Pilihan kedua, memperkuat ipteknas dengan secara aktif melibatkan partisipasi industri nasional. Konsekuensi pilihan pertama ialah, bangsa kita memperoleh nilai tambah yang kecil, dengan pertumbuhan ekonomi dan peneyerapa tenaga kerja yang tidak optimal. Konsekuensi pilihan kedua ialah, keharusan kita bekerja keras, tetapi kita akan mencapai posisi kemandirian ipteknas.Pertanyaannya, apakah kemandirian ipteknas bisa dicapai secara maksimal, mengingat pengalaman dalam kemandirian ekonomi nasional?

Agak mencengangkan adalah tulisan Prof. Azyumardi Azra. Mantan Rektur UIN Jakarta. Ia menurunkan tulisannya tentang Pancasila, di saat-saat makin banyak orang yang menganggap falsafah negara itu telah usang atau basi. Ia tetap pada pendiriannya bahwa bahwa tidak ada yang salah dengan Pancasila. Ia tetap yakin tentang urgensi Pancasila sebagai salah satu factor pemersatu. Azra juga mencatat, memang ada beberapa kejadian yang membuat Pancasila tercemar. Pertama, Pancasila tercemar karena kebijakan rezim Soeharto yang menjadikan Pancasila sebagai alat ploitik untuk mempertahankan status quo kekuasaanya.

Kedua, liberalisasi politik dengan penghapusan ketentuan oleh Presiden Habibie tentang Pancasila sebagai satu-satunya asas (asas tunggal) setiap organisasi. Ketiga desentralisasi dan otonomisasi daerah yang sedikit banyak mendorong penguatan sntimen kedaerahan, yang jika tidak diantisipasi bukan tidak bisa menumbuhkan sentiment local-nationalism yang dapat tumpang tindih dengan ethno-nationalism

Masih banyak memang tulisan lain yang penting dan menarik dan mayoritas tentang kepemimpinan. Lalu apa sesungguhnya tujuan pokok penerbitan yang begitu beragam memberikan informasi yang menyangkut multisegi kehidupan bangsa ini? Jawabnya tersurat dalam sambutan Rektor Universitas Pancasila, Dr. Edie Toet Hendratno, SH, M.Si.:Buku The Dancing Leader ini dimaksudkan untuk mengajak Perguruan Tinggi bersama-sama menjadi Pusat Peradaban.Kami sangat berterima kasih pada semua pakar yang telah dengan kikhlas menyumbangkan pemikirannya.”

(Dra. Naning Pranoto, MA)

Comments

comments