Cerpen Kita

TRESNAKU SEMAWIS

Karya : Dwi Klarasari

Cerpen Pemenang Utama II – Kategori B Lomba Menulis Cerpen Sastra Pariwisata

Denting piano penanda kereta memasuki Stasiun Tawang terngiang-ngiang di telinga. Judulnya Gambang Semarang, tapi pada banyak orang mengenalnya sebagai lagu Empat Penari, begitu penuturan Reggy pemanduku, lelaki Tionghoa awal 30-an. Dijelaskannya bahwa lagu legendaris ciptaan Oey Yok Siang itu bagian dari jejak kaum peranakan di Semarang.

Kemudian, tanpa kusangka-sangka Reggy melantunkannya.

Ampat penari kian kemari/ jalan berlenggang, aduh…/ Langkah gayanya menurut suara/ irama gambang/ Bersuka ria, gelak tertawa/ semua orang/ kar’na hati tertarik gerak-gerik/ si tukang gendang.

Aku menuliskan nama pemilik suara yang kurindukan itu dalam pengantar tesisku. Penuntasan risetku tak lepas dari bantuannya. Dia selalu memastikan tak ada data terlewat. Kenangan kebersamaan kami pun meluncur begitu saja.

*

Setelah berkisah perihal Gambang Semarang, Reggy mempersilakan aku menikmati keindahan stasiun.

“Ndak usah keburu! Ini pertama kamu naik kereta ke Semarang, kan?” katanya.

Kalimat retorik dengan logat khas peranakan itu membuatku tersipu.

Reggy pandai membaca gelagatku. Stasiun berumur seabad lebih itu telah merebut perhatianku sejak turun dari kereta. Demi keleluasaanku memotret, lelaki berperawakan tinggi itu rela membawakan koperku. Sebagai fotografer sesekali dia menyarankan angle yang pas. Kutambahkan poin plus untuknya, dan tanpa sadar aku mulai mengintai gerak-geriknya dari balik lensa. Alhasil, banyak sekali foto candid-nya di kameraku.

Reggy tidak langsung mengantar ke hotel. Dia membawaku ke sebuah kedai lunpia.

“Kita awali risetmu dengan menikmati lunpia!” ucapnya serius.

Menurutnya lunpia adalah kuliner bersejarah. Makanan berbahan utama rebung, telur, dan ayam atau udang itu merupakan warisan kuliner peranakan Tionghoa di Semarang.

Kami masing-masing memesan seporsi lunpia dan teh lemon. Aku sangat berselera karena meski sudah setahun tinggal di Indonesia aku belum pernah mencicipinya. Saking semangat aku bahkan tidak peduli penilaian Reggy. Seolah-olah memakluminya, Reggy mengiringi acara makanku dengan kisah romantis di balik makanan itu.

Sebuah legenda menyebut lunpia lahir sebagai buah percintaan Wasih gadis Jawa dan Tjoa Thay Joe pemuda perantauan dari Tiongkok. Demikian Reggy mengawali monolognya. Tahun 1800-an keduanya berjualan penganan. Karena jualannya kurang laku Thay Joe kerap berdiskusi dengan Wasih. Mungkin meminta saran karena peruntungan gadis itu lebih baik. Witing tresna jalaran saka kulina. Keduanya jatuh cinta hingga akhirnya menikah, dan berinisiatif memadukan resep mereka. Penganan dengan paduan rasa Tionghoa-Jawa itu dinamai lunpia. Dalam dialek Hokkian lunpia atau lumpia berarti kue bulat.

“Pemilik kedai ini masih keturunan Thay Joe-Wasih,” pungkasnya.

Aku hanya mengangguk-angguk karena sibuk mengunyah.

Melihatku demikian lahap Reggy menyodorkan piringnya seraya menggoda, “Kamu ini laper apa doyan, sih?”

Kalimatnya itu tak terlupakan. Kurasakan pipiku menghangat, mungkin juga merona merah. Sementara benakku menambah poin untuknya, tanganku meraih lunpia basah dari piringnya. Lunpia basah sama nikmatnya dengan lunpia goreng. Paduan saos, lokio, cabai, dan acar timun menambah kelezatannya. Sesekali kusesap minumanku sebagai penghilang pedas. Aku menyeringai saat pandanganku bersiborok dengan mata sipit Reggy yang memancarkan keheranan.

Dari kedai lunpia kami berkeliling kota. Sambil menyetir Reggy menunjukkan sejumlah bangunan bersejarah—Tugu Muda, Lawang Sewu, juga Katedral. Dari alun-alun Simpang Lima dia membawaku ke kota atas. Kami menghabiskan senja di Bukit Gombel. Dari ketinggiannya tampak kota bawah membentang hingga pesisir Laut Utara. Saat malam mulai turun, warna-warni lampu membuat kota bawah seperti habis bersolek. Cantik!

*

Sebelum aku check in, kami mengobrol di lobi. Lewat tabletnya, Reggy menunjukkan bahwa lokasi hotelku dekat Pecinan—bagian dari penelitianku. Namun, baru akan dikunjungi belakangan. Reggy menunjuk titik di mana komunitas Tionghoa mula-mula bermukim, dan titik-titik terkait lainnya. Aku sangat antusias. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Peribahasa itu melintas di kepala saat membayangkan risetku sekaligus menjadi wisata yang seru.

BACA :   NEGERI MALAM

Tetiba Reggy menanyakan alasan ketertarikanku. Sedikit ragu kuceritakan alasan naif untuk sebuah tesis magister, bahwa sejak kecil aku tertarik pada pria Tionghoa yang berfoto bersama kakek buyutku. Dia berbaju tradisional dan bertaucang—kucir rambut dikepang di belakang kepala. Ketertarikanku menguat saat membaca kisah pembantaian etnis Tionghoa di Batavia tahun 1740 yang mengimbas Semarang. Kisah tersebut mengendap dan mewujud kerinduan untuk mempelajarinya. Kutunjukkan foto dalam ponselku.

Sekejap Reggy mengernyit, lantas manggut-manggut sambil mengacungkan jempol. Entah apa maksudnya. Saat dia menarik napas, kukira hendak menanggapi. Ternyata tidak.

“Kamu pasti capek, ngaso aja dulu!” katanya.

Aku tersanjung mendengar perhatiannya, tetapi hanya sesaat karena mendadak dia mengangsurkan setumpuk buku.

“Bacalah, biar ada bayangan kalau besok eksplor!” ujarnya diakhiri senyuman lebar yang menampakkan sebaris gigi putih.

Kuterima buku-buku lusuh tersebut. Riwajat Semarang, Kota Semarang dalam Kenangan, Pecinan Semarang, dan sejumlah buku bertema budaya peranakan. Aku semakin bersemangat. Terbayang wisata sejarah dan budaya sesungguhnya bersama pemandu tampan. Ah, lagi-lagi aku jatuh hati padanya!

*

Keesokannya Reggy menjemputku untuk menikmati sarapan soto khas Semarang. Usai nyoto—begitu istilah Reggy—kami bermobil menelusuri bagian barat kota yang konon menjadi tempat pendaratan pertama penjelajah Tiongkok.

Dahulu garis pantai Semarang berada dekat kaki perbukitan, termasuk Bukit Simongan. Sebelum tahun 1000 Masehi diduga koloni pendatang Tiongkok sudah bermukim di Bukit Simongan dan sekitarnya. Sejarah mencatat lebih jelas saat pendaratan armada Cheng Ho awal abad ke-15. Karena sakit parah, juru mudi kapal tetap tinggal ditemani sejumlah anak buah. Mereka hidup berbaur dan menikahi penduduk setempat. Tuturan turun-temurun menyebut koloni di Simongan membangun tempat pemujaan bagi Laksamana Cheng Ho dan Juru Mudi Ong King Hong. Keduanya sangat berjasa sehingga dihormati layaknya dewa.

Sepanjang jalan suara Reggy yang menjelaskan detail sejarah bagai meninabobokan, membuatku terangguk-angguk menahan serangan kantuk. Aku terbangun oleh tepukan Reggy di bahuku. Saat membuka mata yang pertama kulihat adalah tulisan SAM POO KONG berukuran besar.

Memasuki kompleks yang juga dikenal sebagai Gedung Batu, aku berdecak kagum. Di hadapanku terpampang mahakarya arsitektur akulturasi China-Jawa yang sebelumnya hanya kulihat di internet. Tampak sederet bangunan tanpa dinding dengan atap bertumpuk-tumpuk dan bubungan berhias kepala naga serta berbagai jenis hewan. Sebagian pilarnya berukir-ukir indah. Sementara dominasi warna merah serta hiasan lampion menguarkan keindahan khas bangunan kelenteng.

Kompleks yang cukup luas itu terbagi menjadi area persembahyangan dan wisata. Keduanya dipisahkan kolam memanjang dengan air mancur di sepanjang tepinya. Berbekal tiket khusus kami masuk ke area sakral di mana berdiri sederet kelenteng. Kata Reggy, yang terbesar adalah tempat pemujaan untuk Cheng Ho. Di bawah klenteng terdapat petilasan gua tempat dahulu sang juru mudi dirawat.

Sambil memotret aku bertanya ini-itu. Reggy menjelaskan dengan sabar seraya mengingatkan agar aku tidak seenaknya masuk mengambil foto. Setiap kelenteng dijaga seorang juru kunci dan harus meminta izinnya bila hendak masuk. Kabarnya banyak orang kesurupan karena bertindak sesukanya. Para juru kunci yang ternyata sudah mengenal Reggy sesekali membantuku menambahkan informasi.

Belum tuntas mengitari seluruh area, matahari sudah melewati kulminasi. Melihatku mulai kecapaian, Reggy mengajak keluar. Kami beristirahat di aula di seberang pelataran yang menyatu dengan panggung terbuka. Dari ketinggian aula dapat dinikmati lansekap utuh area persembahyangan. Deretan kelenteng berlatar pepohonan hijau menciptakan skyline yang menandakan hirarki.

Aku berniat mengajak Reggy mencari kudapan ketika dia menyodorkan kotak kue berisi lunpia dan aneka penganan. Aku kehabisan kata. Perhatian Reggy membuatku jatuh hati untuk kesekian kali.

“Cobain, ini buatan mamiku,” katanya.

“Kalau buatan mami, kupastikan nilainya A-plus!” seruku.

BACA :   MERARIQ

Aku terkejut menyadari kalimat rayuan meluncur dari bibirku. Reggy hanya tersenyum. Sepertinya aku sudah salah mengartikan keramahannya. Berbulan-bulan menjalin komunikasi virtual terkait proyekku, lelaki itu sepertinya enteng saja menunjukkan kebaikannya. Sudah semestinya pemandu wisata ramah dan perhatian kepada wisatawan, demikian logika yang mematahkan hatiku.

Sementara aku tenggelam dalam kegalauan, Reggy sibuk memotret. Lensa telefotonya mengarah pada patung raksasa Laksamana Cheng Ho yang tegak sejajar kelenteng utama. Mendadak diturunkannya kamera untuk sekadar mengatakan bahwa patung perunggu itu konon berguna untuk menyerap kekuatan dewa. Aku melempar pandang ke arah sang laksamana seraya mmutuskan untuk lebih fokus pada penelitianku.

Kenyang melahap tiga potong lunpia, kusodorkan kotak kue pada Reggy. Sebentar dia sudah asyik mengunyah bakpao. Sesekali dia berhenti untuk menambahkan beberapa cerita. Ah, dasar guide! Katanya, sesaat lagi bakal ada pertunjukkan barongsai, hiburan sekaligus latihan rutin persiapan Festival Cheng Ho. Acara tahunan peringatan kedatangan Cheng Ho tersebut biasanya digelar bulan Agustus. Dengan gaya khasnya dia mulai berkisah.

Monolog Reggy terhenti oleh suara genderang pertunjukan di kejauhan. Tanpa permisi segera kutinggalkan dia, dan berdesak-desakan di antara puluhan pengunjung. Kami bertemu lagi menjelang senja saat atraksi berakhir.

“Kamu beruntung!” komentar Reggy saat kutunjukkan foto-fotoku.

Malam harinya aku bermimpi menjadi anak-anak yang memasukkan angpau ke mulut barongsai.

*

Kami menyambangi Gedung Batu beberapa kali. Pada hari ketujuh barulah kami mulai mengeksplorasi kawasan Pecinan.

Ternyata hotelku memang cuma sepelempar batu dari gerbang bertulisan PECINAN SEMARANG. Reggy menghentikan mobil untuk menjelaskan batas-batas kawasan lewat iPad-nya sambil menunjuk deretan ruko dan jalan yang ramai oleh kegiatan perdagangan.

“Kamu benar tentang Geger Pacinan tahun 1740,” kata Reggy seraya menjalankan mobilnya, “yang lolos dari pembantaian lari menyusuri pantura. Sebagian masuk Semarang. Sejak di Batavia sejumlah tokoh dipimpin Kwee Lak Kwa menghimpun orang-orang Tionghoa dan Jawa untuk melawan, tapi berhasil ditumpas. Lalu VOC membuat segregasi penduduk dan diawasi dengan ketat. Semua orang Tionghoa di Semarang, termasuk kaum peranakan yang bermukim di Simongan dikonsentrasikan di wilayah cikal bakal Pecinan ini.”

Reggy menuturkan perkembangan kawasan menjadi sentra bisnis seperti Chinatown lain. Kini, kawasan yang kental dengan budaya Tionghoa itu juga menyajikan wisata religi dan kuliner. Sambil bercerita Reggy menyetir dengan lihai melintasi gang-gang sempit yang macet di sana-sini.

Berhari-hari kami mengeksplor Pecinan, bahkan bolak-balik ke sembilan kelenteng yang jadi daya tariknya. Kelenteng tertua, Siu Hok Bio di Wotgandul, dan delapan lainnya di Gang Pinggir, Gang Lombok, dan Sebandaran. Reggy menjelaskan sejarah, arsitektur, dan kesakralan masing-masing. Diulangnya juga informasi tentang Festival Cheng Ho. Katanya ada perarakan patung Cheng Ho dari Kelenteng Tay Kak Sie menuju Sam Poo Kong diiringi liong, barongsai, dan beragam bauran budaya. Terbayang karnaval yang luar biasa!

*

Akhir pekan kuminta Reggy mengantarku kembali menyinggahi kelenteng-kelenteng tersebut. Aku ingin menikmati keindahannya tanpa mencatat ini-itu sekalian ingin ber-selfie. Reggy tertawa lepas mendengar niatku.

Kami masih di pelataran Kelenteng Tay Kak Sie ketika awan kelabu yang sejak pagi membayangi menjadi rintik hujan. Tergesa-gesa Reggy membuka pintu mobil dengan kunci otomatis dan menyuruhku masuk. Alih-alih berlari menyusulku, dia malah berjalan santai. Bukan menghindari tetesan air, dia justru menikmatinya. Dia tengadah seraya menangkap air hujan dengan mulutnya. Tingkah kanak-kanaknya membuatku terpesona.

Hujan mereda saat kami tinggalkan kelenteng dan melanjutkan penjelajahan. Di penghujung sore, Reggy menghentikan mobil di depan sebuah kedai kopi. Dimintanya aku menunggu di kedai karena dia harus menemui seseorang.

Reggy mengantar masuk dan mengenalkanku pada Merry. Barista mungil itu menyambutku dengan ramah. Sebelum pergi Reggy masih mengobrol akrab dengan Merry. Entah kenapa mencuat rasa cemburuku. Segera kualihkan perhatian pada interior kedai yang artistik.

BACA :   CERITA DARI FILIPINA

Kedai hasil rombakan rumah tinggal itu bernuansa klasik cina dengan set furnitur tempo dulu. Sejumlah keramik, benda kuno, lukisan, dan foto lawas dihadirkan sebagai hiasan. Mendadak aku terkesiap mendapati foto kakek buyutku bersama pria Tionghoa bertaucang. Beragam tanya pun berkelindan. Bagaimana foto itu ada di sini? Apa hubungan pemilik kedai dengan pria bertaucang?

Ketika Merry hendak mencatat pesanan, aku lebih dulu bertanya perihal foto.

“Oh, itu buyutku,” jawabnya semringah, “kata mamiku, meneer itu sahabat kakek.”

Alih-alih memesan kopi, aku bercerita bahwa meneer dalam foto itu buyutku. Merry mengernyit, melihatku dengan tatapan menyelidik. Perlahan-lahan bibirnya membentuk seulas senyuman. Agaknya sudah ditemukannya semburat noni belanda pada wajahku.

Kami menemukan tulisan di balik foto—Karel van Riemsdijk/Tan Tjoen Ho, 1905—persis seperti foto di ponselku.

“Aku turunan mestizo. Nenek buyutku seorang nyai yang dinikahi kakek buyutku lalu diboyong ke Belanda,” kisahku membuat Merry manggut-manggut.

Sesaat kami sudah mengobrol akrab seperti sahabat lama. Obrolan kami terhenti ketika Reggy menelepon, meminta kami menyusulnya ke pasar malam.

“Yuk Kak Sally, kita wisata kuliner!” seru Merry kegirangan seraya bergegas melepas apron dan memanggil asistennya.

Merry menjadi pemanduku menggantikan Reggy. Dari kedai kami berjalan menyusuri gang temaram, dan dalam beberapa menit tiba di mulut jalan yang benderang dan sangat ramai. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya tenda-tenda penjual makanan serta kerumunan manusia. Kepulan asap dan aroma masakan menguasai udara.

“Di Gang Warung setiap Jum’at sampai Minggu digelar pasar malam. Namanya Pasar Semawis,” ujar Merry menjelaskan pemandangan tersebut.

Nama Gang Warung mengingatkanku pada gerbang kawasan di ujung lain.

“Semawis itu bahasa Jawa, artinya tersedia,” lanjut Merry, “di sini tersedia kuliner semarangan, Nusantara, dan segala penjuru dunia. Dari lunpia sampai pizza, semawis!”

Merry piawai bercerita seperti Reggy. Dikisahkannya asal-usul dan segala keunikan surga kuliner tersebut. Aku menyimak seraya membaui aroma makanan yang silih berganti menggoda hidungku.

“Sejak digelar pas Imlek 2005, Pasar Semawis jadi magnet wisata,” tutup Merry.

Akhirnya, kami menemukan Reggy. Dia menyambutku dengan tatapan bersalah disertai permintaan maaf. Rasa bahagiaku meluap, tetapi lenyap dalam sekejap. Kulihat dia berterima kasih seraya menepuk pipi Merry. Ah, mesranya! Keduanya tampak serasi. Tiba-tiba kemeriahan Pasar Semawis dan air liur yang berkali-kali kutelan terasa hambar. Kami menghabiskan malam bahagia di Pasar Semawis, tetapi tawaku hanyalah kepura-puraan.

*

Hari kepulanganku ke Jakarta terasa berat. Keakraban Reggy dan Merry terus terbayang. Anehnya, sepanjang jalan ke stasiun Reggy pun terdiam. Dia hanya tersenyum saat menyodorkan kotak kue sambil mengucapkan salam perpisahan.

Ternyata ‘witing tresna jalaran saka kulina’ bisa terjadi sepihak. Gambang Semarang terdengar memilukan. Ketika Argo Bromo meninggalkan Stasiun Tawang, hatiku justru tertinggal di sana. Lamunan panjang tentang lelaki penyuka hujan itu tetiba sudah menyatu dengan panorama Laut Utara yang terbingkai jendela kereta.

Saat mengambil ponsel untuk memotret, perhatianku beralih pada Whatsapp. Ada pesan Reggy mengingatkan perihal kotak berisi lunpia buatan maminya. Refleks kubuka kotak yang teronggok di pangkuanku. Di dalamnya kutemukan catatan pada secarik kertas. Membacanya membuatku ingin berteriak kegirangan.

Sally, maaf belum kutanggapi foto lawas itu, tapi adikku Merry sudah cerita. Senangnya… ternyata buyut kita bersahabat. Datanglah bulan depan, kutemani melihat Festival Cheng Ho. Tresnaku semawis, Reggy.

[Selesai]

Catatan:

Tresnaku Semawis (bhs Jawa): Cintaku Tersedia.
Witing tresna jalaran saka kulina (bhs Jawa): Cinta lahir karena terbiasa.

Lokio : tunas daun bawang.

Mestizo : berdarah campuran Indo-Eropa.

Nyai : selir/istri tidak resmi orang asing (terutama Eropa) pada zaman kolonial.

Comments

comments

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Check Also

Close
Back to top button
Close
Pioneer Creative Writing By Zoom
Inspirasi Nulis Puisi dan Prosa