TUBUH DAN TUHAN

Oleh Dra. Naning Pranoto, MA

Sejarah manusia adalah sejarah kesesatan. Selama ini, perjalanan hidup manusia yang menelan waktu berabad-abad, ternyata hanya berkutat dalam sarah arah, salah jalan. Demikian pendapat pemikir D. Paul Schafer, seorang ekononom yang telah mengubah dirinya menjadi budayawan. Ia berpikir demikian dengan alasan, seharusnya manusia sebagai Makhluk Budaya, bukan sekadar Makhluk Ekonomi.

Dalam pengamatannya, sejarah umat manusia terbagi dua: Era Ekonomi dan Era Kebudayaan. Era Budaya berlabgsung sejak awal kelahiran manusia. Era Ekonomi menurut Schafer dalam bukunya berjudul Revolution or Renaissance, mulai sejak tahun 1776 ditemukannya mesin uap oleh James Watt. Sejak itu berlahiran Manusia Ekonomi (Homo Economicus). Akibatnya, segala sesuatu dinilai dari segi ekonomisnya. Manusia bukan lagi dipandang sebagai makhluk yang mulia, tetapi  diperhitungkan,  apakah ia memiliki nilai ekonomi bagi orang lain atau tidak. Bahkan tubuh manusia, dihargai bukan dari peran reflektif altruistis, tetapi dihadapkan pada pertanyaan pokok: bisa dijual atau tidak? Dalam tulisan ini membahas nilai tubuh perempuan dikaitkan dengan kekuasaan Tuhan.

Tubuh dan Tuhan

Prof. Dr. N. Drijarkara, S.J dalam bukunya yang berjudul Filsafat dan Manusia, memaknai tubuh atau badan sebagai cahaya dari pancaran ruh. Bisa kita bayangkan, betapa indahnya cahaya itu. Bagi manusia yang beriman meyakini bahwa tubuh atau cahaya itu adalah ciptaan Tuhan, yang diciptakan berdasarkan kasih – maka sangat indah.

Berbicara tentang keindahan tubuh, identik dengan tubuh perempuan. Maka eksistensi tubuh perempuan dimetaforakan dengan bunga-bunga yang indah seperti mawar, magnolia, azalea, dahlia, anggrek bulan juga melati. Atau dimetaforakan dengan keindahan yang ada di alam semesta seperti rembulan, pelangi, rona cakrawala senja  dan bintang kejora. Apa pun metafora itu yang jelas, tubuh perempuan adalah ciptaan Tuhan, sepertihalnya tubuh lelaki.

Ada beberapa perbedaan antara tubuh manusia yang diciptakan oleh Tuhan dengan Tuhan itu sendiri.

  1. Tubuh itu dianggap dekat sebab bisa disentuh, bisa dilihat. Tuhan tidak bisa dilihat dan disentuh. Tuhan hanya bisa dipikirkan untuk kemudian diyakini.
  2. Tubuh dilahirkan oleh ibu. Tuhan tidak dilahirkan dan melahirkan.
  3. Tubuh berproses dari ketiadaan menuju ke keberadaan. Tubuh bisa hidup untuk mati. Tuhan tidak terkena kematian, karena Ia Kebadian.
  4. Tubuh punya asal-usul (sangkan paraning dumadi). Maka tubuh bersejarah. Tuhan adalah awal dan akhir. Ia causa prima untuk segalanya, untuk selamanya.
  5. Tuhan bisa disangkal atau tidak diakui oleh manusia. Maka lalu ada kaum kafir atau kaum atheis. Tetapi manusia tidak bisa menyangkal dan menegasi tubuhnya sendiri. Manusia tidak bisa menggangap bahwa tubuhnya tidak ada.
  6. Anggapan keberadaan tubuh, kaum perempuan lebih memperhatikannya dibandingkan kaum lelaki, karena tuntutan masyarakat yang dikungkung penjara patriaki. Tuhan menciptakan tubuh lelaki dan tubuh perempuan tanpa diskriminasi, karena masing-masing punya fungsi untuk melahirkan keturunan (berkembang-biak) sesuai dengan ajaran agama.

Seksisme dan Obyek Seks

“Kaum perempuan berada di dunia maskulin yang didominasi kaum lelaki.” Demikian antara lain pendapat filsuf dan tokoh feminis Perancis, Simone de Beauvoir dalam bukunya yang berjudul The Second Sex. Intinya, keberadaan perempuan ada di bawah kelas kaum lelaki. Perbedaan kelas ini menimbulkan penindasan kaum lelaki terhadap perempuan, dalam berbagai bentuk. Antara lain diskriminasi atas dasar jenis kelamin yang disebut seksisme. Diskriminasi ini tidak hanya menimbulkan kebencian, akan tetapi juga prasangka buruk, rasa jijik dan ketakutan yang terjadi pada diri perempuan terhadap lelaki . Ketakutan ini disebut gynophobia.

Gynophobia yang paling menghantui perempuan adalah adanya anggapan  bahwa lelaki  tidak dapat mengonrtol gejolak seksualnya. Dampaknya, lelaki dimitoskan suka  pemerkosa. Ironisnya, sejak Manusia Budaya berubah menjadi Manusia Ekonomi, justru banyak kaum perempuan yang suka tampil dengan mempamerkan lekuk-tubuhnya agar tampak sexy total. Sehingga, kesannya ‘mengundang’ untuk diperkosa atau sebagai  objek seks yang juicy.

Menurut Robert Jensen, budayawan AS yang pro gerakan feminis, media-massa, dunia periklanan, panggung hiburan yang gemerlapan dan produksi film-vodeo biru,  memprovokasi kaum perempuan bersemangat mengobral keindahan tubuhnya. Mengapa? Faktor ekonomi jawabannya: mudah mendulang uang untuk menumpuk kekayaan. Maka eksploitasi keindahan tubuh pun sulit dibendung. Ajaran agama terabaikan, keberadaan Tuhan sebagai pencipta tubuh terlupakan, digantikan oleh uang, uang sumber kekayaan. Sementara itu, seksisme makin merajalela dan terampuni kebejatannnya.

Seksisme dan objektifikasi seksual tak bisa dipisahkan. Kekerasan terhadap tubuh perempuan pun sulit dibendung. Ini  terbukti dengan banyaknya pembunuhan, aborsi, kriminalitas, anak-anak yang lahir di luar nikah dll – adalah akibat dari  praktik-praktik penyalahgunaan keindahan tubuh, untuk  dijadikan barang komoditi berupa objek seks.

Hitam-Putih, Sebuah Pilihan

Ariel Levy, tokoh feminis AS yang banyak menulis buku tentang perempuan yang terseret jadi ‘bintang porno’ mengutip pendapat filsuf Perancis, Michel Foucault yang mengatakan, “Tubuh Perempuan, Hak Perempuan” – maka, setiap perempuan mempunyai hak  memperlakukan tubuhnya layak atau tidak itu tergantung pilihannya. Sepertihalnya, setiap perempuan punya hak pilih untuk menjadi penganut Revolusi Seks (Seks Bebas) atau terikat tali perkawinan sakral. Tentunya, pilihan ini hanya bisa dilakukan oleh para perempuan yang bebas dari penjara patriaki yang oleh Levy disebut  ‘kaum terpelajar’. Maka ia katakan, seharusnya kaum perempuan kelas ini yang aktif memerangi penyalahgunaan tubuh, walau tidak menjadi kaum puritan. Karena maraknya menyalahgunaan tubuh mengakibatkan pembusukan masyarakat secara psikis maupun fisik.

Kaum perempuan yang berada dalam penjara patriaki, pada umumnya ‘menjual’ atau ‘menggadaikan’ tubuh karena suatu kondisi yang memaksa (penindasan atau jadi korban tindak criminal). Misalnya, terperangkap oleh jaringan perdagangan perempuan, menjadi ‘tawanan’ germo, menjadi PSK dampak dari kegagalan perkawinan dini. Ada juga  yang disebabkan oleh kobaran ambisi dari orang-orang sekitarnya yang menginginkan kemudahan mencari uang. Sehingga menjual kemolekan tubuh  si Objek merupakan jalan pintasnya. Menurut pengamatan penulis, ambisi ini terprovokasi oleh keglamouran  bintang-bintang hiburan yang tampil di  TV yang sering mereka tonton.  Dengan demikian, si Obyek yang semula ‘putih’ menjadi ‘hitam’, tetapi berkecukupan (lebih dari cukup) secara ekonomi..

Kebebasan dan Teori Sartre

Wendy McElroy, rekan dekat Levy mengatakan bahwa di AS cukup banyak remaja putri (student)  secara diam-diam  menjadi ‘aktris biru’ demi uang, tanpa setahu keluarganya. Tidak bisa dipungkiri, konsumen film-film biru ada di mana-mana dan selalu menanti produksi-produksi seronok. Mereka ini beranggapan bahwa pornografi adalah sesuatu yang indah, menimbulkan kenikmatan dan merupakan terapi seksual. Anggapan serupa ditujukan pula pada majalah dan tabloid serupa. Itulah sebabnya, para produser film biru dan media kuning berani membayar mahal para bintang dan modelnya (perempuan). Prinsip kerja mereka adalah ‘kebebasan’ dalam arti  bebas menggunakan tubuh, tanpa menghiraukan ‘dosa’ (keberadaan Tuhan sebagai Sang Pencipta)

Kebebasan manusia dalam menentukan nasibnya, menurut pemikir ekisistensialis atheis Jean Paul Sartre, bisa diperoleh jika manusia itu menolak Tuhan. Sebaliknya, saat manusia menerima eksistensi Tuhan, maka manusia tidak lagi menjadi bebas sepenuhnya. Pendapat ini  penulis kutip dari Jurnal Filsafat Driyarkara (th. XXX No.1/2009) tulisan Eko Sugiyanto berjudul Menanggapi Ateis Sartre dengan Pandangan Hidup Jawa (hlm 13-21).

Para filsuf umumnya setuju bahwa filsafat haruslah radikal, menjangkau hal-hal sampai jauh ke akar-akarnya. Kita hadapkan beberapa pertanyaan untuk Sartre:

  1. Apakah kebebasan itu?
  2. Benarkah manusia memiliki kebebasan?
  3. Apakah manusia mempunyai kebebasan untuk mengadakan dirinya?
  4. Dari ketiadaan tubuh menjadi  keberadaan, apakah berkat kekuatan manusia sendiri atau tergantung kekuatan di luar dirinya?
  5. Apakah keberadaan tubuh bisa ditolak oleh si pemilik tubuh itu sendiri?

Jawabannya, pertama – teori Sartre  ternyata dapat dipatahkan  atau patah  dengan sendirinya, jika orang menyadari bahwa eksistensi tubuh kita bukan karena kehendak atau kekuatan manusia itu sendiri. Maka, manusia  sebenarnya tidak eksis, tapi dieksiskan (diciptakan Tuhan)

Jawaban kedua, tubuh adalah manisfestasi  ketidakbebasan. Sebuah sosok tubuh harus bergulat untuk mempertahankan eksistensinya. Dalam tahap awal ia memerlukan bantuan luar untuk  melawan  proses kelenyapannya. Maka tidak aneh jika kemudian ada ungkapan manusia dihukum oleh kebebasannya. Tahap selanjutnya, manusia terpaksa terus menerus menjaga kebebasannya. Ia tidak bebas untuk bisa tetap bebas. (dipelihara Tuhan)

Jawaban ketiga, manusia tidak bebas untuk melawan kematian. Banyak jenis penyakit, banyak juga obatnya tersedia. Tetapi kematian tidak bisa diobati, sebab kematian bukanlah penyakit. (dipanggil menghadap Tuhan)

Maka, kesimpulan sementara, manusia memang tidak bebas sejak awalnya. Tetapi manusia memang memerlukan kekebasan demi eksistensinya. Tanpa kebebasan, manusia tidak pernah eksis. Tetapi kebebasan itu bukan milik manusia itu sendiri. Kebebasan itu situasi dari luar dirinya. Pada dasarnya, kebebasan adalah situasi atau energi yang memungkinkan segala sesuatu terjadi.

Kebebasan yang tidak didasari pemikiran adalah merupakan penindasan, bahkan membunuh diri sendiri dan berdampak lingkungannya.. Demikian pula kebebasan dalam menggunakan tubuh akan berakibat fatal, jika itu dilakukan oleh manusia yang berperan sebagai Manusia Ekonomi yang hanya menghitung untung rugi materi.. Sebaliknya, tubuh akan menjadi cahaya pancaran ruh, jika itu dilakukan  oleh manusia yang berperan sebagai Manusia Budaya, yang hidupnya dipenuhi berbagai rona keindahan cita-rasa seni dan agungnya anugerah Tuhan.

Mari, kita camkan bersama. “Sekarang baru sedang dimulai!” kata Prof. D. Paul Schafer *

Catatan:

**Makalah disajikan pada acara Seminar Dies Natalis XXVI Fakultas Teologi Wedabhakti – Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Jumat 5 November 2010.

Comments

comments