Unsur Struktur Dalam Fiksi Narasi(1)

Oleh Sides Sudyarto DS

I.
Menurut The Grolier International Dictionary berarti:
A complex entity (Suatu entitas yang kompleks)
The configuration of elements, parts, or constituent in such an entity, organization, arrangement. (Konfigurasi dari elemen-elemen, bagian-bagian, atau unsur pokok dalam suatu entitas, organisasi, aransemen )
The interrelation of parts or the principle of organization in a complex entity. (Interrelasi dari bagian-bagian atau prinsip-prinsip organisasi dalam suatu entitas yang kompleks).
(Grolier Incorparated, Volume Twoo, Danbury. Connecticut, 1981)

Dalam karya fiksi (novel), suatu cerita hanyalah satumodal awal, atau bahan mentah yang memerlukan sentuhan kreativitas kreator (penulis) sehingga menjadi alur yang memiliki kadar kesasteraan. (Raman Shelden)

II
Renne Wellek and Austen Warren, Theory of Literature menjelaskan,
“Structure is concept including both content and form so far as they are organized for aesthetic purposes. The work of art is, then, considered as a whole system of signs, serving a specific aesthtics purpose. (Wellek/Warren, Penguin, Australia, 1970, h. 141) “This structure, however, is dynamic: it changess throughout the process of history while passing through the minds of its readers, critics, and fellow artists” (Idem, 155 – Mengacu Louis Teeter, Scholarship and the Art of Criticism , 1938, 173 – 93 ).

III
Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Pustaka Jaya, Jakarta, 1984: PP. 120 – 153) 1. Aristoteles dalam bukunya Poetica, yang ditulis di sekitar tahun 340 sebelum Masehi di Athena, meletakkan dasar yang kuat untuk pandangan yang menganggtap karya sastra sebagai struktur yang otonom.
2. Menurut pandangan Aristotels, dalam tragedi, action (tindakan) itulah yang penting bukan character (watak). Efek tragedi dihasilkan oleh aksi (action) plot (alur -isi cerita)-nya, dan untuk menghasilkan efek yang baik plot harus mempunyai keseluruhan (wholeness), untuk itu harus mempunyai empat syarat utama: Order, amplitude, (complexity), unity, connection (coherence).

Order: berarti urutan dan aturan; urutan aksi harus teratur, harus mnujukkan konsekuensi dan konsistensi yang masuj akal; terutama ada awal, pertengahan, pertengahan dan akhir yang tidak sembarangan.

Amplitude (Complexity): berarti bahwa luasnya ruang lingkup dan kekomplekan karya harus cukup untuk memungkinkan perkmbangan peristiwa yang masuk akal ataupun yang harus ada untuk menghasilkan peredaran dari nasib baik ke nasib buruk, atau sebaliknya.

Unity berarti bahwa semua unsur dalam plot harus ada, tak mungkin tiada, dan tidak bisa bertukar yempat tanpa mengacaukan ataupun membinasakan keseluruhannya.

Connection (Coherence) berarti bahwa sastrawan tidak bertugas untuk menyebut hal-hal yang sungguh-sungguh terjadi, tetapi hal-hal yang mungkin atau harus terjadi dalam rangka keseluruhan plot itu.

Catatan: Justru hal ini merupakan perbedaan hakiki antara sastrawan dan sejarawan: sejarawan menceritakan (apa) yang terjadi, sastrawan menceritakan peristiwa atau kejadian yang masuk akal atau harus terjadi, berdasarkan tuntutan konsistensi dan logika ceritanya.

Konsep Aristoteles itu ternyata tidak pernah menghilang dari dunia sastra Barat, malah dipegang dan dipertahankan oleh penulis maupun pembaca, sebagai konvensi dasar seni sastra. Tentu kelak ada berbagai aliran yang menunjukkan sikap atau pendapat berbeda, seperti yang ditunjukkan oleh aliran Kiritik Baru (New Criticism), Formalisme Rusia, Strukturalisme, Posstrukturalisme, Postmodernisme.

IV
Formalisme Rusia

Formalisme Rusia dirintis sejak tahun 1914, melalui pemikiran Victor Shklovsky yang diterbitkan di St. Petersburg: Sekarang seni kuno sudah mati, sementara seni baru bbelum lahir. Hal-hal lain juga telah mati – kita telah kehilangan perasaan terhadap dunia. Hanya kreasi bentuk-bentuk artistik baru yang dapat memulihkan kesadaran manusia terhadap dunia, membangkitkan semangat dan membunuh pesimisme. (DW Fokema et al, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998, 13).

Para eksponen kaum Formalis Rusia adalah Roman Jakobson, Boris Eikenbaum, Osip Brik, Yury Tynyanov. Gerakan pemikiran Formalisme Rusia ini mendapatkan resapan pengaruh filosofis dari Edmund Husserl (Fenomenologi) dan Ferdinand de Saussure (Strukturaisme).

Prinsip-prinsip Teoretik Umum <> 1. Russian Formalism represents one of the earliest systematic attempts to put literary studies on an independent footing, and to make the study of literature an autonomous and specific discipline. (Jefferson and Robey, Modern Literary Theory, Barnes & Noble Books, New Jersey, 1986, P. 25)
2. Salah satu tujuan utama Formalisme adalah studi ilmiah mengenai sastra. Ini sebenarnya didasarkan kepada keyakinan bahwa studi seperti itu sangat mungkin dan memang pantas dilakukan. Bahkan, walaupun tidak didiskusikan lebih lanjut, keyakinan ini berlaku sebagai salah satu premis Formalisme. Tetapi setiap, setiap kali kaum Formalis mempertnayakan studi ilmiah sastra, mereka percaya bahwa studi-studi mereka akan meningkatkan kemampuan pembaca untuk membaca teks-teks satra dengan cara yang tepat, yaitu dengan memperhatikan sidat-sifat teks yang dianggap artistik dan sastawi. (Fokkema, Teori Sastra Abad Kedua Puluh, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998, P. 15).

V.
Umberto Eco

Umberto adalah seorang novelis terkemuka kaliber dunia, dengan karya antara lain: The Name of The Rose, Faoucault’s Pendulum, The Island of The Day Before, Baudolino. Selain itu, ia juga mashur sebagai eseis yang produktif dengabn pemikiran yang cemerlang. Bahkan Los Angeles Times, menggelari Umberto Eco sebagai “One of the most influential thinkers of our time.” Kumpulan esei Umberto Eco antara lain: Five Moral Pieces, Kant and the Platypus, Travels in Hiperreality, To Travel With a Salmon.

1.
In order to understand what has to be done, we must refer to a fundamental theme of all modern narative theories, the distinction that the Russian Formalists made between fabula and sjuzet – term that I shall translate in the commonly accepted way as story and plot, (Umberto Eco, Six Walks in The Fictional Woods, Harvard University Press, Cambridge, Massachussetts, and London, England, 2001)

2.
Many theories of literature have insisted that the voice of the model author should be heard solely through the organization of facts (story and plot). (Ide, p.16)

BURUNG BURUNG MANYAR

Cerita Burung-Burung Manyar ditulis oleh Mangunwijaya, pertama terbit tahun 1981, oleh penerbit Djambatan, Jakarta, Cetakan Pertama Th. 1981.

Prawayang
Sebelum memasuki Bagian I (1934-1944), pembaca diisuguhi teks di bawah judul Prawayang. Tidak jelas apa maksudnya. Isinya ternyata menjelaskan bahwa ada raja (wayang) yang bernama Basudewa. Ia punya anak bernama Kakrasana (berkulit putih), Narayana (berkulit hitam) fan Dewi Lara Ireng (hitam) yang juga bernama Sumbadra. Dalam epos besar Mahabharata, dilukiskan perang besar antara Pandawa melawan Kurawa. Pandawa (lima kesatria) merebut warisan dai rangtuanya yang dikuasai secara tidak sah oleh Kurawa (seratus orang ).

Dalam perang yang mashur disebut Bharatayudha itu, Kakrasana (kelak Baladewa) memihak Kurawadan adiknya, Narayana (Kelak Kresna) memihak kebenaran, Pandawa. Selama hidupnya Baladewa memihak Kurawa sebab ia berhutang budi berupa fasilitas, jabatan, kekuasaan dan kekayan.

Tetapi kemudian, menjelang perang besar itu mencapai puncak dan klimaksnya, Kresna mempengaruhi Baladewa, agar tidak terjun perang dan sebaiknya pergi bertapa di bawah Grojogan Sewu (Seribu Air Terjun). Dengan demikian Baladewa tidak dengar apa-apa, selain suara air, dan ia pun tidak terlibat perang membantu majikannya, pihak Kurawa. Apa hubungan antara teks Prawayang dengan cerita Burung Burung Manyar itu? Pembaca sendiri harus mencari tahu.

Apakah itu ada kaitannya dengan pelaku utama novel tersebut, yang bernama Seta Dewa? Inilah persoalannya. Pengambilan nama Seta, berarti pemakaian nama tokoh wayang. Dalam dunia wayang purwa (wayang kulit) setiap figur ayang, sudah mempunyai karakternya masing-masing. Wayang Arjuna berkarakter Arjuna, wayang Bima berkarakter Bima, wayang Gatotkaca berkarakter Gatotkaca.

Maka ketika ada novel yang menggunakan nama Seta sebagai pelaku, bagi orang yang akrab dengan cerita wayang, bisa menimbulkan persoalan, paling tidak bayangan atau asosiasi karakter wayang yang melekat dengan tokoh tersebut. Tetapi, sudah bisa dipastikan, Seta dalam novel itu, berbeda dengan Seta dalam pewayangan.

Sinopsis
Setadewa (Teto) adalah anak kolong. Ia hasil campuran darah Indonesia-Belanda (Indo) yang kemudian masuk tentara Belanda (KNIL). Ketika Belanda ditumbangkan Jepang, Teto lari keluar negeri, kuliah di Harvard untuk studi komputer. Gadis yang dicintai Teto Atik, juga lulusan sekolah tinggi hingga kemudian menjabat sebagai Kepala Direktorat Pelestarian Alam.

Secara kebetulan, tesis Atik adalah perilaku burung-nung manyar. Paparannya dalam tesis itu dirasakan sebagai sindiran bahkan penelanjangan atas diri dan hidup Seta. Seta tidak menikah dengan Atik. Atik menikah dengan Janakatamsi. Di lain pihak, Seta kawin dengan Barbara, anak majikan di perusahaannya tetapi kemudian cerai.

Meskipun kasih Teto kepada Atik tak sampai, hubungan persaudaraan berlangsung terus. Ketika Teto membongkar skandal korupsi di perusahaannya ia dibantu oleh Janakatamsi, suami Atik. Akibatnya, Teto dipecat dan janakatamsi juga dipecat dari pekerjaannya. Sebuah silidaritas yang luar biasa.

Pada satu saat, orangtua Atiek menyampaikan pesdan lewat Teto, agar Atik dan suaminya pergi menunaikan ibadah haji. Mereka berangkat ke Tanah Suci, juga atas biaya yang ditanggung oleh Teto. Dalam perjalanan berhaji itulah Atiek dan suaminya tewas, karena kecelakaan pesawat terbang yang membawa mereka.

Atik meninggalkan tiga anak dan ketiganya kemudian fijadikan anak angkat oleh Setadewa. Demikianlah, novel ini berisikan kisah cinta sersegi banyak. Kisah kasi tak sampai itu mengingatkan kita kepada kebanyakan cerita-cerita zaman Pujangga Baru. Beda, atau kelebihannya, dalam cerita Mangunwijaya ini, ada seorang nonMuslim yang membiayai orang Muslim untuk pergi naik haji.

Tidak hanya itu, kesediaan dan keikhlasan Teto mengangkat anak ketiga putra putri Atik juga mengekspresikan jiwa seseorang yang sangat manusiawi, menghormati harga manusia lepas dari apa pun warna keyakinannya.

Bahasa
Bahasa yang digunakan pengarang dalam Buurng Burung Manyar adalah langgam bahasa kisan yang tertulis. Meskipun menggunakan bahasa Indonesia, namun mengguynakan langgam bahasa Jawa. Kadang juga kemasukan bahasa slang Betai seperti kata: bloon, dah dan deh. Kata Jawa bisa berubah jadi Jowu, artinya sangat bersifat Jawa.

Salah tulis, atau salah cetak, atau malah salah editing, banyak sekali. Hampir setiap halaman terjadi salah tanda baca, anda baca tidak lengkap, penggunaan huruf besar (kapital) yang tidak perlu. Juga banyak kata-kata sing (Belanda atau Inggris) yang tidak dicetak miring, namun ada yang dicetak miring (tidak konsisten).

Tentang bahasa, David Lodge, dalam bukunya yang berjudul Language of Fiction mengatakan, “The novelist medium is language. Whatever he does, qua novelist, he does in and through language. (Medium novelis adalah bahasa. Apa pun yang ia lakukan, ia melakukannya dalam dan melalui bahasa).

Cerita/Alur Berangkat dari teori Aristoteles, yang juga diterapkan opleh novelis Eco Umberto, kisah Mangunwijaya ini masih menyuguhkan cerita, belum alur. Cerita (story) adalah bahan mentah (raw material) dan akan menjadi alur (plot) jika elalui proses kilang kreativitas sang pengarang. Tetapi sebelum dikilang, untuk mengubah cerita menjadi alur, novel ini sudah keburu terbit.

Beberapa hal yang terasa mengganggu adalah peristiwa peristiea yang terjadi secara kebetulan atau tidak diduga. Kebetulan Atik dan suaminya datang ke tempat Teto. Kebetulan Jana ingin membantu Seta membongar korupsi komputer di perusahaannya. Kebetulan, Seta menerima pesan agar Atik dan suaminya pergi haji. Kebetulan, pesawat yang membawa mereka kecelakaan, sehingga mereka tewas.

Kesan seolah-olah hanya kebetulan dan banyak kebetulan peristiwa terjadi, mestinya bisa dihindari, ketika penulis memperhatikan strukturt, mengorganisasikan kejadian-kejadian sehingga semuanya saling terkait dan membangun logika yang kuat, meskipun itu logika fiksional.

Peristiwa kecelakaan pesawat terbang yang membawa Atik dan suaminya menuju ke Tanah Suci, mestinya bisa jadi bagian yang merupakan puncak dramatik kisah ini. Tetapi pelukisan pada kejadian penting dalam novel itu sungguh datar, melepaskan momentum yang besar untuk memberi bobot kepada novel tersebut.

Comments

comments