Unsur Struktur Dalam FIKSI NARASI(2)

Oleh Sides Sudyarto DS

REALISME MAGIS DALAM SASTRA AMERIKA LATIN

Dengan sebutan Amerika Latin, yang dimaksudkan meliputi negara-negara di Amerika Selatan, Amerika Tengah, Mexico dan pulau-pulau yang tdak berbahasa Inggris, di Karibia.

Para eksponen sastrawan Amerika Latin, antara lain:
Gabriel Garcia Marquez (Colombia), Jorge Luis Borges (Argentina), Carlos Fuentes (Mexico), Julio Cortazar (Argentina), Miguel Angel Austurias (Guatemala), Jorge Amado (Brazil), Octavia Paz (Mexico), Juan Bosch (Dominica), Jose Denoso (Chile), (Clarice Lispector (Brazil) Horacio Quiroga (Uruguay), Mario Vargas Llosa (Peru), Abelardo Castillo (Argentine), Guillermo Cabrera Infante (Cuba), Manuel Puig (Argentina), G. Cabrera Infante (Uruguay), Alvaro Mutis (Colombia), Alejo Carpentier (Cuba), Joao Guimaraes Rosa (Brazil), Felisberto Hernandez (Urugay), Ruben Dario (Nicaragua/Chile), Romulo Galegos (Venezuela), Augusto Roa Bastos (Paraguay), Maria Luisa Bombal (Chile), Juan Rulfo (Mexico), Clarice Lispector (Brazil), Joaquim Maria Machado de Assis (Brazil), Leopolda Lugones (Argentina), Jorge Amado (Brazil), Isabel Allende ( Chile), Ana Lydia Vega (Puerto Rico), dll.

Banyak para pengamat sepakat bahwa tahun-tahun 1920-an adalah saat-saat tegaknya sastra Amerika Latin. Pada tahun-tahun 1920-an itu juga, sedang bangkit nasionalisme yang sedang memasuki mood baru dan semakin bergelora. Tidak aneh, jika kebanyakan sastrawan Amerika Latin kebanyakan adalah pemikir dan pejuang kemerdekaan. Juga tidak aneh bila kemudian banyak juga sastrawan yang bergumul dan berjuang dengan terjun ke kancah poliik atau menulis karya sastra politik.

Mario Vargas Llosa menyatakan, novel dilarang terbit di negara-negara Amerika jajahan Spanyol. Selama 300 tahun (tiga abad) novel dibeton, dibendung agar jangan sampai terbit. Tujuan penajajah, sudah trentu, jangan sampai rakyat terjajah itu tersentuh oleh novel-novel yang bisa mneyalakan api semangat kemerdekaan.
The birth of the novel in Spanish Ameica coincided with the first moves towards independence. Before 1816, whatever was read in the way of narrative fiction had largely been written in Spain, and from the earliest days of the discovery and conquest a favourite form of fiction had been the Spanish romance of chivalry. (Edwin Williamson, dalam John King, On Modern Latin American Fiction, The Noonday Press, New York, 1989).

Sedikitnya ada tiga orang sastrawan besar di Amerika Latin yang sangat berpengaruh dalam pekembangan prosa, yang menulis text pada tahun 1920-an dan 1930-an. Mereka adalah Miguel Angel Asturias, Jorge Luis Borges dan Alejo Carpentier.

Miguel Angel Asturias (1899 – 1974) lahir di Guatemala City, Guatemala. Sastrawan ini berseteru dengan diktator Estrada Cabrera. Ia berada di Paris selama tahun-tahun 1920-an. Di sana ia mempelajari agama dan suku Maya serta membentu menterjemahkan Popol Vuh, kitab suci bangsa Maya, selesai tahun 1926.

Selain menjadi jurnalis, ia juga menulis puisi dan cerita berdasarkan legenda suku Indian dan Spanyol yang pernah ia dngar sejak masa kanaknya, yang kemudian terbit dalam bentuk buku, di bawah judul Leyendas de Guatemala. Psada waktu yang sama, ia pun menulis bovel yang kemudian menjadi mahakaryanya, El senor presudente (Tuan Presiden) yang sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Novel ini merupakan serangan kepada diktator Estrada Cabrera, sehingga munculnya terpaksa tertunda dua kali masa jabatan sang penguasa. Selama tahun-tahun penindasan, Asturias menulis di pengasingan. Akhirnya novelnya itu terbit pada tahun 1947, setelah Sang Diktator runtuh pada tahun 1946.

Ketika ia duduk sebagai duta negaranya di Buenos Aires, lahirlah novelnya yang berjudul Hombres de maz pada tahun 1947. Pada tahun 1949 karya itu diterjemahkan menjadi Men of Corn. Novel ini menghardik eksploitasi tanah suku Indian yang terlalu komersialistis. Novel yang syarat mitologis ini dielu-elukan sebagai karyanya yang terindah. Tahun 1950 Asturias mulai menggarap karyanya yang tergabung dalam Trilogi Republik Pisang (Banana Tepublic Trilogy) yang terdiri dari Strong Wind, The Green Pope, The Eyes of the Interred.

Ketiga novel itu mengecam habis eksploitasi perkebenan pisang yang dilakukan oleh United Gruit Company. Ketika pemerintahan sosialis Jacobo Arbenz digulingkan oleh gangan-tangan Amerika Serikat, Asturias kembali jadi pelarian politik lagi. Di pengasingan ia menulis karya yang berjudul Weekend on Guatemala 91956).

Saat ia menerima Hadiah Perdamaian Lenin (1966) dan Gadiah Nobel (1967), fitinya sedang kembali sebagai duta besar bertugas di Paris. Ia pun kemudian menghasilkan novel yang sangat mitologis, berjudul Mulata del tal yang terbit tahun 1963. Dan masih melahirkan beberapa karya lainnya lagi.

Jorge Luis Borges lahir tahun 1899, dari keluarga lapisan menengah atas di Buenos Aires. Setelah kembara bebrapa tahun lamanya, Borges pulang untuk ikut mendirikan majalah sastra, pada tahun 1920-an itu. Pada tahun 1940-an Borges mengembangkan bentuk sastra ia sebut sebagai “fictions”, satu paduan verita pendek dengan esei.

Beberapa koleksinya yang berbentuk fiction itu, adalah: The Aleph and other Stories, Ficciones, Labyrinths, dan Personal Anthology. Menurut Llosa, Borges meninggalkan jejak pengaruhnya pada karya-karya Gabirel Garca Marquez. Pada karya-karya Julio Cortazar, bahkan pengaruh Borges lebih terasa lagi.

Alejo Carpentier (1904 – 1980) dilahirkan di Havana, Cuba. Ayahnya adalah orang Prancis, ibunya dari Rusia. Ia bekeja sebagai wartawan dan jadi ediutor pada tahun 1924. Karena ikut tandatangan melawan diktator Machado, ia dijebloskan ke dalam penjara. Setelah dilepas dari tahanan ia pun pergi ke Paris. Di sana ia pun berkawan dengan kaum Surealis.

Tahun 1939 ia kembali ke Cuba dan bekerja untuk radio. Selankutnya ia hidup di Venezuela dari 1945 hingga 1950. Setelah itu ia pun meninggalkan Cuba lagi, menjadi duta besar untuk Prancis. Novel-novelnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: The Lost Steps (1956), The Kingdom of this World ( 1957), Explosion in the Cathedral (1963), Reasons of State (1976), Concert Baroque (1988), The Harp and the Shadow (1990), The Chase (1990), dan kumpulan karya pendek War of Time (1970).

Banyak sekali sastrawan Amerika Latin yang bersinggungan dengan Realisme Magis, tentu saja, memberikan kesan bahwa magis realism itu merupakan satu gerakan yang serempak, menjadi dasar keadaran yang mewarnai pemikiran dan perjuangan kultural mereka. Realisme magis merupakan satu pada bersisi dua. Satu sisi merupakan alat perjuangan menolak dan melawan dominasi kultur Eropa (Barat), satu sisi lagi sebagai kekuatan yang mengangkat dan mengandalkan akar-akar budaya sendiri (indigenous) untuk menjadi dri sendiri, menjadi yang lain (Other), tidak menjadi duplikat atau cangkokan Barat. Di sini dapat dikatakan, bahwa Magic Realism adalah juga nasionalisme Amerika Latin.

Dengan dan dalam Realisme Magis itu mereka menegakkan nasionalisme, melawan penjajahan yang selama ini dilancarkan orang-orang Eropa, terutama Prancis dan Portugis. Nilai-nilai atau warna realisme magis terasa pada misalnya karya-karya Gabriel Garcia Marques, Isabel Allende, dalam kadar yang berbeda. Pada Marquez, realisme merupakan bumbu, meskipun cukup kuat terasa, tetapi pada Isabel Allende realisme magis merupakan andalamn utama dalam karyanya.

Namun kiranya, berkaitan dengan realisme magis, Carpentier adalah tokoh utama dan terkemuka. Sebagai orang pergerakan Carpentier bergabung dengan avant-garde, kerlompok nasionalis Grupo Minorista di Havana dan ikut mendirikan Revista de Avance, yang memproklamasikan komitmennya untuk bentuk dan gagasan baru.

Mengenai Realisme Magis (Magic Realism), John King dalam bukunya itu memaparkan sebagai berikut:
By celebrating the supernatural and the miraculous then magic realism inevatibly generated antinomies between faith and reason, imagination and intellect, nature and culture.
(Dengan merayakan hal-hal yang supernatural dan yang sangat ajaib, kemudian realisme magis tidak terelakkan lagi, membangkitkan antinomi-antinomi antara kepercayaan dan pemikiran, imaginasi dan intelek, alam dan kebudayaan. (John King, P. 85).

Novelis dan eseis ulung Mario Vargas Llosa, merasakan dan mengakui bahwa masyarakat atau bangsa-bangsa Amerika Latin masih memiliki kesulitan untuk membedakan yang mana itu fiksi (fiction) dan yang mana itu kenyataan (realitas): We are still victim in Latin America of what we could call “the revenge of the novel.” We still have great difficulty in our countries in differentiating between fiction and reality. We are traditionally accustomed to mix them in such a way that this is, probably, one of the reason why we are so impractical and inept in political matters, for instance. [John King (Ed) On Modern Latin American Fiction, P.5]

Edwin Williamson, tulisannya yang berjudul Coming to Terms with Modernity : Magical Realism and the Historical Process in the Novels of Alejo Carpentier , memaparkan bahwa karya-karya kreatif Carpentier melakukan persambungan kembali dengan mmasa pra-Pencerahan dan pra-novel. Carpentier lebih memilih keliaran Amerika, dan memeperkuat karya ciptanya dengan kekuatan mitologis epik yang hidup di masa lampau masyarakatnya.
Carpentier ‘s magic realism, thereforre, harked back to pre-Enlightenment and pre-novelistic culture. In literary terms, it sought to take the novel out of its middle-class drawingroom, out of the cultivated European landscape, and thrust it into the wilderness of America, where it might recuperate the mythological power of epic and romance, those narrative forebears it had once destroyed through irony and burlesque in Europe. (P. 85)

Helen Tiffin dalam tulisannya yang berjudul Post-colonial Literatures and Counter – discourse, memandang realisme magis sebagai gerakan yang tergolong dalam wacana postcolonnial, yang menampik genre sastra Eropis.

Within the broad field of the counter-discursive many sub-groupings are possible and are already being investigated. These include ‘magig realism’ as a post-colonial discourse, and the replacing of carnavalesque Europen genres like the picaresque in postcolonial context, where they are carried to a higher subversive power. (Bill Ashcroft, The Post-Colonial Studies, P. 97)

Linda Hutcheon dalam tulisannya yang berjudul Circling the Downspout of Empire, yang termuat dalam kumpulan tulisan berjdul The Post Colonial Studies, memandang Magic Realism itu sebagai kekuatan Regionalisme yang satu spirit dengan postmodernisme, karena menolak sentralitas dan menepis klaim universalitas.
The regionalism of magic realism and the local and the particular focus of post- modernism art are both ways of contesting not just this centrality, but also claims of universality. (Bill Ashcroft, The Post Colonial Studies, P. 132)
Not suprisingly, since such formulations tend to resist ideas of a pure culture of either the post- or pre-colonial they have not found universal assent. They have also tended to emerge most strongly where no simple possibility for asserting a pre-colonial past is available, notably in the radically dislocated culture of the West Indies. Yet these regional patterns have formed the basis for the development of literary forms (such as ‘magical realism’ which have had a wide influence, and which have been applied by critics to societies of widely different kinds such as those of settler colonies…(John King, P. 184)

Sebenarnya Carpentier semula agak pesimistis akan prospek historis Amerika Latin. Namun setelah ia membaca The Decline of the West Oswald Spengler, optimisme Carpentier memancar kembali. Penjelasan Spengler tentang siklus pertumbuhan kultural membuat Carpentier mampu meredam pesimismenya. Sepulang dari kunjungan ke Haiti (1943), keyakinan dan optimisme Carpenmtier kian menyala lagi. Seperti yang ditulis Williamson:
A visit to Haiti in 1943 confirmed his emerging historical optimism. He realized that the motive force behind the first succesful movement for independence in Latin America had been the voodoo of the black slaves, not the ideas of the Enlightenment. Magic and religion- the repositories of authenticity and wholeness – were capable also of intervening positively in history as vehicles of freedom. (P.83) Literatur: John King (Ed), On Modern Latin American Fiction, The Noonday Press, New York, 1989
George Plimpton, Latin American Writers at Work, The Paris Review, Modern Library, Newe York, 2003
Pat McNees, Contemporary Latin American Short Stories, Fawcett Premier, Nerw York, 1988.
Bill Aschroft, Gareth Griffith, Helen Tiffin (Ed) The Post-Colonial Studies Reader, Routledge, London and New York, 2003

Comments

comments