WANITA [MENG]ADA

Judul buku : Her Story, SejarahPerjalanan Payudara

Penulis : Dra. NaningPranoto, MA

Penerbit : Kanisius,Yogyakarta

Tebal : 258 halaman

Cetakan : pertama, 2010

Peresensi : Warih Firdausi*

Perbedaanmendasar antara laki-laki dan perempuan rupanya membawa lebih banyak lagi perbedaansetelah mereka mengada dalam ruang publik bernama masyarakat. Adanya perbedaananatomi tubuh antara pria dan wanita membentuk asumsi masyarakat terhadappemisahan hak dan kewajiban antara keduanya. Perbedaan tersebut seringkalimenjelma kesenjangan dalam berbagai lini kehidupan baik ekonomi, sosial,politik, bahkan ritual keagamaan. Akhirnya, perempuan distigmakan sebagai konco wingking atau sekedar second sex yang berfungsi hanya sebagaipelengkap kehidupan lelaki saja. Stigma miring itu barangkali berangkat daripemahaman terhadap teks agama yang kaku atau arogansi maskulinitas. Terlepasdari apapun sebabnya kita harus mengakui bahwa itulah produk budaya patriarkhiyang terlanjur mendarah daging.

Dalam buku ini,Naning Pranoto mengajak kita merenungkan sejenak kehidupan perempuan. Betapaternyata mereka memegang peran yang sangat signifikan yang bahkan melampaui laki-laki.Namun dalam kenyataannya mereka seringkali tidak pernah mendapatkan hak-hak yangseharusnya mereka terima. Penulis menceritakan bagaimana para TKW menjadipahlawan devisa bagi negaranya tidak mendapatkan perlindungan hukum yang memadaidi luar negeri tempat mereka mengais rezeki. Sehingga tak jarang kita mendengarkasus-kasus penyiksaan majikan terhadap para TKW. Sementara itu, negara takmampu melakukan usaha apapun untuk membela mereka.

Buku yang sarat denganbukti-bukti historis dan faktual ini ditulis secara reflektif dan komunikatif.Barangkali inilah yang menjadikan buku ini mudah dicerna dan menggugah paraperempuan untuk bangkit menegaskan eksistensinya. Perempuan adalah subyekdiantara subyek-subjek yang lain (Others). Subyek adalah setara dengan Subyeklainnya. Sebab setiap Subyek memerlukan Subyek lainnya (hal 50). Oleh karenaitu, perempuan tidak boleh dipandang hanya sebagai objek yang bisa dinikmatidan diperlakukan sewenang-wenang oleh kaum lelaki.

Feminisme yangdituangkannya dalam buku ini juga bukan faham yang mendudukkan laki-lakisebagai musuh yang harus dibenci. Penulis juga tidak terjebak kepada feminismeliberal-radikal yang cenderung selalu menyalahkan laki-laki. Mungkin karenacara pandang itulah banyak diantara wanita memilih menjadi lesbian. Menurutpembacaan saya, penulis buku ini memiliki ekspektasi akan terciptanyakesetaraan status dan hak antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan tersebutharus terejawantahkan dalam ruang nurtural (konstruksi budaya) tanpa memandangperbedaan kelamin (gender) yang merupakan faktor bawaan (natural).

EksploitasiTubuh Perempuan

Seiringberjalannya waktu, masyarakat sedikit demi sedikit mulai menerima hadirnyaperempuan untuk ikut berpartisipasi dalam bidang yang dulu masih dianggap tabubagi perempuan. Tetapi kesuksesan feminisme ini ternyata tidak selamanyaberdampak positif. Karena pada kenyataannya ia membawa efek samping. Kendati parawanita telah berani dan dapat diterima untuk bersanding setara dengan laki-lakidalam berbagai aspek kehidupan, rupanya ada pihak (bahkan dari kaum perempuansendiri) yang mencuri kesempatan untuk memanfaatkan mereka.

Terbuka luasnyaruang publik bagi kaum hawa ternyata juga membuka peluang ranjau bagi mereka. Banyakperempuan yang bekerja dan dipekerjakan bukan karena kemampuan dan keahlianmereka, melainkan karena kemolekan tubuh mereka. Tak sedikit diantara merekayang rela menjadikan organ vitalnya sebagai “mesin uang”. Antara lainpenonjolan payudara, mulusnya paha, dan lekuknya pinggal-pinggul tidak hanyauntuk mengiklankan pakaian dalam dan pakaian renang tetapi juga parfum, kasurpegas, mobil mewah, supplement dan minuman (hal 193). Bahkan denganbangga mereka menganggap hal tersebut bagian dari kebebasan wanita sebagai manifestasikesetaraan gender.

Ironisnya bentukpenjajahan berupa eksploitasi tubuh semacam ini justru yang paling diburu olehpara wanita muda dari berbagai pelosok yang datang ke ibukota (hal 194).Apalagi orientasinya kalau bukan semata-mata karena uang dan uang? Tak ada lagiterbersit di pikiran mereka tentang arti kemerdekaan dan arti kemampuan padadiri mereka. Bagi mereka, bekerja dengan “pamer tubuh” adalah jalan terabasuntuk meraih banyak uang dengan mudah dan cepat tanpa perlu kerja keras secarafisik maupun otak. Bukankah hal ini sama sekali tidak mengukuhkan adanyakemampuan, kecerdasan dan keahlian yang melekat dalam diri wanita?

Jika demikianapalah arti kata wanita yang dalam kereta basa -permainan bahasa- jawaberarti wani ing tata (beranidalam tata-menata)? Hal ini tidak hanya bermakna bahwa wanita harusberpenampilan menarik dan pandai bersolek saja. Lebih dari itu ia harus dapatmenata serta mengelola dirinya dan kelak keluarganya yang mau tidak mau harusmembutuhkan kemampuan, keahlian dan keterampilan. Dengan demikian wanita tidaksekedar “ada” sebagai pelengkap saja, namun ia “mengada” sebagai subyek otonom.Sehingga perempuan “mentas” ke dunia ini tidak sia-sia. Karena hadirnya turutserta mewarnai dan mempengaruhi gemerlapnya dunia.

Sumber:http://warihfirdausi.blogspot.com/

Comments

comments