Cara-Cara Menerbitkan NASKAH Menjadi BUKU

Oleh Naning Pranoto

Saya mendapat pertanyaan sekitar 143 dari mereka yang ingin tahu cara-cara menerbitkan naskah menjadi buku. Khususnya naskah fiksi. Selain itu, ada juga yang menanyakan cara-cara mengirimkan naskah ke majalah atau surat kabar. Ada juga yang kecewa karena naskah yang mereka kirim ditolak penerbit. Bahkan ada 11 orang yang langsung ‘patah hati’ begitu naskah yang mereka kirim ditolak.

Berikut ini saya menjawab pertanyaan cara-cara menerbitkan naskah dan mengantisipasi ‘rasa kecewa’ pada saat naskah ditolak penerbit. Pertanyaan ini saya jawab berdasarkan pengalaman saya, karena masing-masing pengarang punya pengalaman tersendiri.

Dimotivasi “Pelangi”

Ada yang pertanya kepada saya, kapan mulai mulai menulis fiksi. Jawaban saya: saya mulai menulis fiksi ketika duduk di bangku SMP di Tasikmalaya. Pada waktu itu ada majalah pelajar namanya “Pelangi” terbitan Bandung. Guru Bahasa Indonesia saya menyuruh saya mengarang dan mengirimkannya ke “Pelangi”. Guru saya itu menyuruh saya karena saya dianggap paling mampu mengarang dibandingkan dengan teman-teman. Saya mengarang tiga judul dan yang dimuat hanya dua. Yang ditolak, justru yang saya anggap paling bagus, juga demikian pendapat guru saya.

Karangan saya dimuat di “Pelangi” tidak hanya membuat saya senang, tetapi juga bangga dan percaya diri terus menulis. Saya lalu mengirimkannya ke Lembaran Anak-anak Koran “Pikiran Rakyat”. Hasilnya? Terus ditolak dan saya menangis setiap menerima penolakan. Rasanya sakit hati, kecewa dan merasa bodoh —tetapi saya rahasiakan karena malu. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menulis.

Saya mulai tergerak lagi menulis fiksi ketika saya memenangkan lomba mengarang – waktu duduk di bangku kelas III SMA. Ikut lomba hanya iseng-iseng dan siap kecewa dengan cara melupakan bahwa saya ikut lomba. Tahu-tahu menang, ya…horeeee…menulis lagi. Yang kali ini dikirim ke Majalah “Gadis” dan selalu ditolak, karena karya saya dinilai ‘terlalu dewasa’. Naskah yang ditolak “Gadis” saya simpan dan saya berhenti menulis, konsentrasi studi.

Karya Kita = Produk

Karena kemampuan saya menulis, pada usia 19 tahun saya sudah jadi reporter di Grup “Sinar Harapan”. Senang sekali saya bekerja di sini, karena bisa belajar banyak mengenai penulisan dan fotografi. Pekerjaan saya sebagai wartawati memicu saya menulis fiksi kembali dan ternyata dimuat di berbagai majalah wanita, antara lain “Mutiara”, “Wanita” dan “Kartini”. Saya mencoba kirim naskah ke “Kompas” hasilnya selalu ditolak. Wuah, kesaaaallll….marah, kecewa… . Hal itu disebabkan saya berpikir, karya saya bagus. Pikiran atau anggapan saya itu sebetulnya tidak salah, tetapi tidak bisa dibenarkan. Yang berhak menilai baik, bagus atau buruk adalah redaktur yang menyeleksi karya kita. Redaktur punya kriteria tidak hanya sekedar ‘bobot karya’ kita tetapi juga berorientasi pada misi dan pasar media mereka. Karena karya kita setelah lepas dari tangan kita, untuk dikirimkan ke penerbit adalah menjadi ‘produk’ alias barang dagangan.Ini realitanya, walau kita menganggap karya kita bukan sekedar produk.

Nah, agar karya kita bisa dimuat tentunya mencari penerbit yang cocok dengan karya yang kita buat. Misalnya, Anda menulis cerita bertema remaja dengan bahasa gaul, tentunya tidak akan dimuat di surat kabat seperti “Kompas” atau “Tempo”. Cocoknya dikirim ke Majalah “Aneka Yess!” atau sejenisnya. Cerita pendek yang dimuat di “Femina” tema dan gayanya tidak sama dengan cerpen yang dimuat di Tabloid “Nova” atau di Majalah “Kartini”. Maka dari itu, kalau karya Anda ingin dimuat, bidiklah media yang tepat untuk karya Anda. Caranya pelajari isi media-media yang Anda minati dan simak gaya dan tema mereka. Karya-karya saya selalu dimuat bila dikirim ke “Nova”, karena cocok. Buktinya? Setiap kali karya saya dimuat, selalu mendapat banyak surat dari pembaca. Sayangnya, sekarang “Nova” sudah menghapus ruang fiksinya. Karya-karya saya juga sering dikuat di “Kompas”, tetapi akhir-akhir ini kalau saya kirim naskah selalu ditolak. Kecewa? Tidak. Karena saya berpikir realistis. Cerpen-cerpen yang saya tulis akhir-akhir ini temanya memang kurang pas untuk “Kompas” dan mungkin juga media lainnya (tetapi tidak saya coba mengirimkan karya ke media selain “Kompas”). Maka karya-karya itu saya simpan saja.

Menerbitkan Naskah Menjadi Buku

Saya telah menulis sekitar 23 judul novel dan kumpulan puisi. Dari 23 judul novel tersebut yang 15 judul adalah cerita bersambung, pernah dimuat di berbagai surat kabar dan yang paling sering di “Suara Pembaruan”. Sayangnya, surat kabar ini juga menghapus ruang cerita bersambungnya (seperti “Nova”).

Jujur saja, waktu saya menulis novel atau cerita bersambung, tidak pernah terlintas membukukan karya-karya saya. Pertama, saya pada waktu itu memang tidak berpikir menjadi novelis..Kedua, menulis memang hobi saya untuk mengimbangi kegemaran saya membaca karya-karya sastra yang memenangkan hadiah nobel sastra. Ketiga, saya suka traveling dan bergaul dengan banyak orang, sehingga benak saya penuh dengan fantasi-fantasi dan imajinasi yang memicu saya menulis fiksi. Jadi, karya-karya yang ada saya kirim ke surat-kabar, tabloid dan majalah dan dimuat ya…sudah saya puas.

Awal tahun 2000 seorang kenalan saya yang punya penerbit meminta karya saya untuk ia terbitkan. Wuah, saya kaget sekali. Lebih kaget lagi setelah terbit menjadi buku dan beredar di toko. Kekagetan saya ini memicu saya menawarkan karya-karya saya ke penerbit. Bahkan waktu itu saya berpikir, kalau penerbit tidak mau menerbitkan akan saya terbitkan sendiri. Maka saya lalu membuat ilustrasi untuk kumpulan cerita pendek yang pernah dimuat di berbagai media-massa dan saya beri judul “Sebilah Pisau Dari Tokyo” – salah satu cerpen saya yang pernah dimuat di “Kompas”. Ternyata, kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh Grasindo – Gramedia Grup dan naskah-naskah lainnya. Sejak itu saya mempunyai banyak buku dan beredar di toko-toko buku di seluruh Indonesia. “Wajah Sebuah Vagina” yang diterbitkan Galang Press jadi buku terlaris tahun lalu.

Tahapan Pengiriman Naskah

Untuk mengirimkan naskah ke penerbit, naskah harus ditik (tidak tulis tangan) dengan komputer dan diserahkan dalam bentuk print-out dan disket. Ini memudahkan redaktur penerbit untuk menilai karya kita. Naskah ditik dengan 1,5 spasi, menggunakan kertas kuarto. Bubuhi halaman dengan cek untuk tidak terselip halamannya. Biasanya, penilaian selama tiga bulan, bila tidak layak diterbitkan akan diberitahu. Tetapi ada juga penerbit yang ‘bisu’ tidak mau menjawab. Bahkan ada juga penerbit yang ‘seenaknya’ minta naskah setelah dikirim tidak mau memberitahu apa bisa dimuat apa tidak. Saya pernah mengalaminya dan marah juga sih….tapi akhirnya saya lupakan dan saya anggap penerbit itu tidak ada. Waktu penerbit itu menghubungi saya lagi, saya ganti yang tidak menjawab heeee… buang-buang energi.

Ada penerbit yang mau menerbitkan karya kita dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya, harus mengubah sebagian isi atau harus menambah adegan begini, begitu dengan pertimbangan supaya laku. Bagi saya, lebih baik menarik naskah saja daripada harus mengubah, kecuali perubahan itu menambah bobot karya ya tidak masalah. Ada juga penerbit yang menerima naskah kita, tetapi harus menunggu satu tahun. Bagi saya, lebih baik tidak usah. Jalan keluarnya cari penerbit lain. Untungnya saya belum pernah mendapat pengalaman seperti itu.

Ada penerbit yang meminta karya kita. Nah, yang model ini menyenangkan sekali, tetapi kalau didikte saya tidak bisa. Misalnya sekarang ini sedang laku novel-novel remaja bertema cinta — nah, ada penerbit yang minta saya menulis tema tersebut. Saya katakan saya tidak bisa, karena memang tidak berminat menulis cerita model itu walau katanya laris. Sikap atau prinsip mempertahankan ciri khas karya menurut saya perlu. Karena saya beranggapan bahwa karya kita adalah bagian dari diri kita, bahkan bagian dari ruh. Tetapi adalah hak setiap orang untuk punya keputusan.

Penulis Cantik dan Sexy…

Menurut pendapat saya, kalau karya kita ditolak penerbit, tidak perlu kecewa sampai ‘patah hati’ – mogok menulis. Kalau, Anda memang ingin menjadi penulis. Penolakan malah justru menjadi pemicu untuk meningkatkan karya dan mawas karya . Selain itu juga harus makin jeli dalam memilih media yang akan kita jadikan penerbit karya kita.

Perlu diketahui dan juga perlu berjiwa besar, bahwa orang-orang yang menilai karya kita adalah ‘manusia biasa’ di mana mereka juga punya sifat suka dan tidak suka (like or dislike) – sehingga, bisa saja karya kita itu baik tetapi tidak disukai oleh orang yang menilai karya kita, maka karya kita menjadi dinilai ‘tidak baik/jelek’. Karena mereka juga ‘manusia biasa’ ada juga redaktur yang menolak karya kita bukan karena menilai karya itu, tetapi siapa kita. Saya pernah dengar ada penerbit yang memilih menerbitkan karya novelis perempuan yang cantik-cantik dan sexy, karena punya daya jual. Mendengar hal itu saya jadi tertawa geli dan ketika ia meminta karya saya, saya jawab, “Saya tidak cantik dan tidak sexy!” haa…haaa… mereka malu dan tidak jadi penerbitkan karya saya.

Apa yang telah saya paparkan anggap saja lelucon (antara lain perihal pengarang sexy itu). Yang perlu Anda perhatikan, tingkatkan saja spirit Anda untuk terus menulis walau ditolak. Beberapa penulis besar pun karyanya pernah ditolak, misalnya Ernest Hemingway, Kafka, Satre dan masih banyak lagi. Khusus Kafka, namanya terkenal setelah ia meninggal. Waktu ia masih hidup, karya-karyanya diabaikan masyarakat.

Sampai jumpa di lain topik.

Comments

comments