Pudarnya Impian Uma Karya Khoiriyyah Azzahro

Pudarnya Impian Uma

Karya : Khoiriyyah Azzahro

Ke hadapan sungai yang tak lagi bening, Aku menggugat. Mengapa Ia tega membiarkan mereka melupakan kisahnya, hingga Uma’ harus memudarkan impian-impian itu?
* * *

Tak pernah Kulihat Uma’1 bermenung di pinggir sungai seperti di pagi ini. Biasanya, beliau selalu tergesa menyiapkan barang dagangan. Pisang, kacang tanah, gumbili, rambai, kapul2 dan limau. Semua berjejer teratur di atas jukung3 yang mengapung. Pabila telah usai menyeruput secangkir teh manis serta untuk-untuk4, Uma’ akan meraih pengayuh seraya mengucap shalawat tanpa suntuk. Hingga jukung berlarut, membelah riak Sungai Martapura dan bayang tubuhnya tak lagi hinggap di retinaku yang terkantuk-kantuk.

Namun tidak di pagi ini. Uma’ bermenung sendiri. Tatap matanya tak menjauh dari riak sungai di belakang rumah ulin5 kami. Adakah Uma’ kan tersadar, bahwa subuh kan segera usai dan mentari tak lagi bersantai?

“Hari ni piyan kada bajualan kah, Ma’?6”

Perlahan Uma’ menoleh padaku. Tatapannya beku. Tak satu kata pun untukku. Andaikan cukup waktu, ingin Kutanya satu persatu. Gerangan apa yang mencemari bening pagi Uma’ itu?

“Ma’, ulun tulak lah… 7! Assalamu’alaykum…”

Kucium ujung jemari keriput Uma’ sebelum meraih sepeda bututku yang tersandar pada dinding rumah yang sudah reyot dimakan usia. Kendaraan anti polusi itu Kubeli di pasar sepeda bekas dari upaya menyisihkan sedikit honor mengajarku pada sebuah SMP Negeri di pinggiran Kota Banjarmasin. Sebelum langkahku tiba di ambang pintu, masih sempat Kulihat bening-bening kaca pada tatapan Uma’ yang tak lepas memandang riak Sungai Martapura.
* * *

“Seandainya Uma’ punya rumah lanting, ingin sekali Uma’ membuka warung. Mauk jua Uma’ ni mun beungut ja di rumah” 8
Ucapan Uma’ terngiang kembali. Seakan tak jemu mengikuti. Sungguh Aku tahu. Semenjak Abah tiada, tiap detik hidup Uma’ hanya berkawan sepi sendu. Tak berbilang sudah bujukan kedua kakakku, Bang Mansyah dan Kak Aminah, tuk tinggal bersama mereka di kota, namun Uma’ bergeming saja.

“Uma’ tak ingin jauh dari kuburan Abah, Rul! Kalau Uma’ tinggal di tempat kalian, siapa jua yang nanti mengurus makam Abah?”

Inilah kalimat lugu yang sanggup meruntuhkan semua bujuk rayu kakak-kakakku. Sebagai anak bungsu, Aku tak dapat berkata apa-apa. Sungguh pun Kutahu, rumah lanting impian Uma’ hanyalah pelarian semata.
* * *

Tak pernah Kulihat Uma’ bermenung di tepi jendela seperti sore ini. Biasanya, Uma’ disibukkan dengan catatan uang dagangan harian beliau. Lalu, akan ada sedikit senyum di sudut bibir beliau yang keriput, pabila didapat untung laba yang meski hanyalah sejumput. Ah, berapalah penghasilan seorang pedagang buah tradisional yang kini mulai terlupakan oleh orang-orang karena maraknya buah impor berharga murah. Ditambah pula Uma’ hanya menjajakan dagangannya di Pasar Terapung Muara Kuin hingga sepanjang Sungai Martapura yang beliau lalui.

Namun tidak di sore ini. Sepulang mengajar, Kulihat Uma’ bermenung sendiri. Tatap matanya kosong menerawang bak terbang ke awang-awang. Adakah Uma’ memikirkan anak-cucunya yang lama tak bersua? Ataukah Uma’ terkenang pada Abah yang tlah tiada?

“Arul, sudah ikam takuniakan kah wan Amang Apin9, berapa upah membuat lanting?” lirih Uma’ menanyaiku. Namun begitu mengiris kalbu.

Kutelan pahit ludah sendiri. Andai Uma’ tahu ekspresi Amang Apin kala Kutemui tempo hari. Beliau tak percaya, di zaman modern ini, masih ada yang mengingat rumah lanting, bahkan ingin memiliki. Dan andai Uma’ tahu, kini,  rumah lanting bak ‘anak tiri’ di Kota Seribu Sungai.

“Inggih10 sudah, Ma’ ay! Tapi, katanya beliau sendiri yang akan bicara langsung pada Uma’ nanti”

“O, ayja kayaitu… Eh Rul, tadi Aminah ke sini. Dia membawa itu! Habiskan lah! Uma’ sudah kenyang!” tunjuk Uma’ pada sebuah rantang plastik di atas meja.

Perlahan Kubuka rantang plastik tersebut. Haruumm… Gangan waluh dan iwak karing sapat11… Makanan kesukaan Uma’, juga kesukaanku. Bergegas Kuraih piring di lemari dan menyendokkan nasi di atasnya. Tak lama kemudian lezat gangan waluh dan gurih iwak karing menari-nari di mulutku.

Teeeerrr…… Tok tok tek teeerrrrrr…….

Suara kapal tongkang batu bara tiba-tiba mengusik aktivitas bersantapku. Dengan sisa nasi yang terkunyah, Kutuju sungai di belakang rumah. Segera pandanganku dipenuhi oleh bongkahan-bongkahan hitam menggunung yang berlalu santai pada permukaan sungai.

Tampak beberapa jukung ‘dipaksa’ menyingkir dari jalurnya. Mereka bak kancil kecil yang tergopoh-gopoh risau tersaput aura jejak sang gajah. Bocah-bocah yang sedang berenang telanjang, bersegera memeluk tunggul batang banyu12 sambil mengerjapkan kelopak mata. Mereka bak semut mungil yang tunggang langgang takut terinjak langkah sang gajah.

“Uuy.. urangnya! Assalamu’alaykum…”
Suara Amang Apin!
“Wa’alaykumsalam. Masuk, Mang! Ma’… Uma’…. Amang Apin sudah datang nah!” seruku.

Langkah Uma’ sedikit berdebum kala beranjak dari menung beliau di tepi jendela. Tatap kosong yang sempat menghias rautnya, sirna seketika. Bak bulan terbit tiba-tiba di tengah gulita.

“Nah Mang, jadi kayapa? Berapa kira-kira ongkos bahan dan upah membuat lanting? Kayu-kayunya ada sudah. Bekas sisa membaiki rumah ni jua dulu. Tinggal mencari kayu gelondongan buat pelampung batangnya, jua atap sirap-nya! Tuu.. nah bila mau melihat” tunjuk Uma’ pada onggokan kayu-kayu di dinding sebelah kanan.

Amang Apin segera bangkit dari duduknya menuju arah yang ditunjuk Uma’. Sambil termanggut-manggut, Ia meraba satu-persatu kayu di dekatnya.
Tuk! Tuk! Tuk! Jemari Amang Apin mengetuk-ngetuk kayu-kayu tersebut.
“Bagus jua kayu inggit piyan ni, julak lah. Nyaman ay sudah ni! 13 Tak perlu repot mencari kayu lagi. Hmm… enam belas juta pas Julak ay!”

“Ha? Kurangi pang!  Sepuluh ja nah!”

Amang Apin menatap Uma’ tanpa suara. Hela-hela nafasnya seirama dengan jejak santainya pada lantai ulin. Ia kembali duduk melipat kedua kakinya.
“Hmm.. kayapa yu lah? Lihati ay keina!14 Besok ulun cek harga semua bahan dan upahnya. Ulun usahakan supaya dapat bahan yang murah harganya”
“Hayu ja.. pokoknya usahakan cepat lah! Tapi bagus hasilnya”
“Siiip, Julak ay!”
* * *

Ke hadapan sungai yang tak lagi ceria, Aku memohon. Berikanlah kesempatan agar Uma’ dapat melihat impian-impiannya bersemi, kembali…
* * *

Tak hentinya Aku turut mengurai harap. Semoga pagi ini adalah hari ke empat belas dimana segala menung menjauh dari raut Uma’. Ingin Kulihat lagi kuncup-kuncup senyum yang kian merekah, setelah lebih dari sebulan sebelumnya terkulum di langit-langit gundah.

Ya.. rumah lanting kecil impian itu kini telah mewujud. Ia mengapung anggun di sisi kiri Sungai Martapura. Jaraknya hanya beberapa meter dari lanting Acil Rusdiah, tetangga kami yang selama ini menjual barang-barang kelontong. Sebuah lanting baru bahkan baru saja hadir, menyusul lanting Uma’. Kali ini milik Amang Jamran, tetangga Kami yang lain. Kabarnya beliau akan membuka bengkel terapung. Menawarkan jasa perbaikan mesin bagi klotok15 atau speedboat yang melintasi Sungai Martapura.

Di lanting kecilnya, Uma’ menjual beberapa penganan olahan beliau. Pais pisang, geguduh, jalabia16, gumbili dan kacang tanah rebus. Kudapan-kudapan yang bahannya dibeli dengan harga murah, dari sisa dagangan rekan-rekan Uma’ yang tak laku di pasar terapung. Uma’ pun berkongsi dengan para tetangga lain yang menitipkan aneka jenis penganan modern hingga rokok dan kretek pada warung lanting-nya. Tak ketinggalan pula suguhan teh, kopi, hingga susu hangat. Membuat warung lanting Uma’ dengan segera menjadi ramai dipenuhi pengunjung. Ah.. indahnya! Uma’ pasti bahagia karena impian-impiannya telah menyata.

“Dahulu keluarga Uma’ tinggal di rumah lanting di batas Sungai Martapura dan Sungai Barito. Nini-Kai17 giat berjualan di Pasar Terapung. Jikalau pulang ke lanting, pasti melewati Sungai Martapura yang selalu ramai. Kakanakan, urang-urang, bamandi-mandi, bebasuh di batang banyu. Entah kenapa, wahini Uma’ rancak banar tamimpi kesah bahari tu?!18” ucapan Uma’ terulang kembali dalam ingatanku.

Nah.. Lihatlah, Ma’! Impian-impian itu kini telah kembali. Maka, nikmatilah semua itu, Ma’! Jangan biarkan Ia sirna dan memudar oleh keadaaan dan waktu.
* * *

“Astaghfirullah!!!”
Buukk! Aku tersentak dari tidur. Benarkah pekik istighfar Uma’ yang Kudengar tadi?

Kulirik jarum jam di dinding. Pukul tiga dini hari! Ada apa? Dengan kantuk yang masih menggelayut di pelupuk mata, Kutuju kamar Uma’ yang bersisian dengan kamarku.

“Kenapa, ‘Ma?”
“Ahh… Uma’ mimpi, Rul ay…”

Masya Allah.. Hanya mimpi? Aduhai… Aduhai… mimpi apakah gerangan yang menghampiri lelap Uma’ kali ini, hingga beliau terpekik di pagi hari, membuyarkan impian indahku tentang senyum bahagia Uma’ yang mulai terbit?

“Mimpi apa, Ma’?”

Tiada jawaban. Uma’ meraih grendel pengunci jendela di dekatnya. Kala jendela terbuka lebar, Uma’ melongokan kepala tanpa mempedulikan udara dingin yang merangsek masuk.
“Alhamdulillah… masih ada!”
“Apanya yang masih ada, Ma’?”
“Lanting Uma’!”
Lanting?
Jadi.. rumah terapung itukah yang telah mengusik lelap tidur Uma’? Masya Alloh!
“Uma’ tadi mimpi aneh. Tiba-tiba ja lanting Uma’ tiada”
“Hah? Tiada? Maksud Uma’… hilang?”
“Bukan hilang! Entah kenapa.. lanting Uma’ itu terlihat seperti mengabur. Tak tampak lagi. Aneh! Waktu Uma’ dekati, ia semakin mengabur. Apa jar urang tu?19 Pudar kah?”

Aku sungguh tak mengerti dengan penjelasan Uma’. Apa maksudnya? Lanting Uma’ memudar? Bagaimana mungkin?

“Sudah ay, Rul! Cuma mimpi. Tidur ja lagi, sana!” Uma’ berbangkit dari tempat tidur beliau, menuju belakang rumah. Dari jendela kamar, Kulihat sosok Uma’ meniti batang permukaan sungai dengan hati-hati, menuju rumah lanting beliau. Setelah mengitari sisi-sisi lanting sambil mengelus dinding-dindingnya, Uma’ membuka pintu lanting dan masuk ke dalamnya.
Ya, Allahu Robbi! Di sisa hidup ini, hanya do’a yang dapat Kuberi. Semoga Kau limpahkan kebahagiaan, atas semua kenangan masa lalu Uma’… atas segala mimpi-mimpinya…
* * *

“Kada20! Pokoknya Uma’ kada rela! Biar ikam bayar seratus kali lipat, Uma’ kada mau menerima!” Kalimat sengit Uma’ lantang terdengar kala jejak pertamaku tiba. Kuhempaskan tas butut berisi buku-buku panduan mengajar begitu saja di atas meja.
“Tapi ni untuk kebaikan piyan jua, Ma’ ay!”
Hey! Benarkah itu suara Bang Mansyah? Lama nian Aku tak berjumpa dengan kakak tertuaku itu. Lebaran tahun kemarin saja Ia tak kemari. Hanya sms-nya yang mampir di ponselku. Berkabar kesibukannya di salah satu instansi pemerintah ibukota.
“Apanya yang kebaikan? Ini rumah lanting milik Uma’! Apa hak ikam ikut mengatur?!” suara Uma’ terdengar lagi.

Dari pelataran belakang rumah, tampak sesosok ringkih berjalan lambat meniti batang, di susul sesosok lain yang masih mengenakan seragam dinas. Benar, itu Bang Mansyah! Kapan Ia tiba? Mengapa tak ada motornya terparkir di halaman muka?

“Nah, Rul! Padahakan wan abang ikam ni!21 Bagaimana usaha Uma’ membuat lanting tu! Enak ja sesuka hati mau menggusur! Huh!” Uma’ berujar setengah berteriak.
Mendengar itu, emosiku terbit tiba-tiba.
“Hah? Bujurkah, Ma’22? Apa maksud piyan, Bang?”
“Eh.. Sabar.. Sabar dulu, Rul!”

Dengan tenang lelaki yang usianya terpaut delapan tahun di atasku itu mendudukkan diri pada kursi rotan di dapur kami yang sempit.
“Lanting-lanting tu, tidak diperbolehkan ada lagi di sungai kita ni, Rul ay!”
Sambil meraih gelas belimbing pada rak piring, Bang Mansyah melanjutkan ucapannya.

“Kukira Ikam sudah tahu. Bukannya sudah diberitakan di koran-koran? Sungai-sungai kita ni, akan ramai dilewati kapal-kapal tongkang batubara. Jadi, kalau lanting-lanting tu masih ada, masih banyak, waaahh… susah. Lalu lintas sungai bisa terhambat”

Untaian kalimat dari mulut Bang Mansyah ini terasa bak bongkahan dinamit yang meledak di kepalaku. Panas percikannya terus meluncur, menuju segumpal daging di dadaku.

“Oo.. jadi kayaitu? Piyan lebih senang melihat kapal-kapal tongkang lewat hilir-mudik di sungai belakang rumah ni, daripada melihat kebahagiaan Uma’ ? Labih katuju urang nang himung, tapi Uma’ saurang marista, kayaitu kah?!” 23
Tak Kusadari, ledakan di kepala dan dadaku termuntahkan di hadapan Bang Mansyah. Wajah Bang Mansyah tercengang terbuncah.
“Apa maksud ikam, Rul?! Aku ini memberitahu! Mensosialisasikan! Masalah senang atau tidak, itu bukan urusanku!”
Ledakan di dadaku makin berkobar. Tubuhku mulai merangsek gusar. Tanganku terkepal besar-besar. Dan kala tinjuku hampir mendarat di pelipis Bang Mansyah…
“Sudah! Sudah! Astaghfirullah!” lengan Uma’ menarik cepat tanganku.
“Arul!! Uma’ menyuruh Ikam menjelaskan wan Mansyah tu, bukan berarti harus berkelahi dengan abang sendiri! Nangkaya kakanakan ja! Gara-gara rumah lanting kalian berkelahi. Masya Alloh…”
Kata-kata Uma’ membuat kepal tinjuku meregang, meski kobaran di dadaku tak berkurang.
“Ayja, Mansyah ay! Uma’ mengalah ja! Dari pada kalian ribut… Sudah! Gusur ja lanting tu! Beres!”
Aku terperanjat. Kutatap mata Uma’ untuk mencari kebohongan pada kalimatnya barusan.
“Tapi, Ma’! Ini kada adil Ma ay!”
“Sudah, Rul ay! Sudah! Uma’ uyuh!24” Uma’ bersungut kesal tanpa sedikit pun menatapku. Lalu, tergesa beliau menuju keran air, berwudhu, lalu beranjak menuju kamar.

Tatapanku beralih pada Bang Mansyah. Ia begitu santai menikmati pais pisang yang tersisa di meja. Puihh!! Abang macam apa beliau ini sebenarmya? Andai saja tadi tak dihalangi Uma’, mungkin sudah berpuluh lebam Kubuat diwajahnya. Tiba-tiba Aku benci kakak kandungku ini.
“Rul, Aku ni mendukung ja usaha Uma’. Mau berjualan.. Mau berbisnis.. Silakan ja! Tapi, kan tak harus di lanting. Lanting tu sudah kuno! Sekarang zamannya rumah apartemen, rumah di villa. Lanting tu cuma mengganggu lalu lintas sungai! Merepotkan kapal tongkang yang lewat!”

Kobaran di dadaku membesar kembali. Namun, segera Kubisikan istighfar agar Ia tak cepat merayapi emosi. Biarlah Kudengarkan saja ocehan Bang Mansyah yang menyebalkan ini.

“Hh.. Aku mau ke kantor lagi lah! Melaporkan kelanjutan soal rumah lanting ni”
Tep! Tep! Tep! Langkah tergesa Kak Mansyah berlalu begitu saja dari hadapanku.
“Oya, Rul! Ikam tenang ja! Masalah ganti rugi, Aku yang mengurusnya. Gampang ja tu! Mau lima kali lipat kah? Oke ja!” seru Bang Mansyah sebelum mencapai pintu.

Hah?! Omong kosong! Bila benar-benar mendukung, harusnya engkau  yang mengusahakan lanting itu tetap lestari. Tapi ini.. engkau malah menghalangi! Hatiku merutuk Abangku sendiri.
Sore itu…  Tersisa abu.. dijiwaku…
* * *

Ke hadapan sungai yang tak lagi berseri Aku meratap. Mengapakah risau Uma’ tak berkesudahan? Hingga impian-impian itu kian memudar bak tersaput rintik hujan.
* * *

Tak pernah Kulihat Uma’ terlelap kembali seusai subuh menyapa. Biasanya, Uma’ selalu tergesa menjerang air panas untuk menyeduh teh, teman untuk-untuk bagi sarapan beliau. Lalu jemari beliau yang keriput akan menceburkan pisang-pisang berselimut tepung pada minyak goreng yang telah panas di wajan. Sembari memotong kecil-kecil sisa pisang yang ada untuk dibuat jalabia, Uma’ akan membolak-balik gorengan pisang-pisang tersebut. Sesekali, Uma’ juga memeriksa dandang berisi pais pisang yang menanti diangkat. Bila telah usai, Uma’ akan meletakkan semuanya pada meja-meja panjang yang dikelilingi bangku-bangku sederhana dari plastik dan kayu, bersisian dengan kerupuk, kacang rebus, dan penganan lainnya.

Namun tidak di pagi ini. Entah mengapa sosok Uma’ masih lelap di pembaringan. Dengan mata yang tak sedikit pun terpincingkan.
“Ruuuul! Maaaaa’! Kenapa belum dirapikan jua lanting tu?”
Tiba-tiba suara Bang Mansyah telah membahana. Entah kapan beliau tiba? Rasa-rasanya tak Kudengar salamnya.
“Uy, Rul! Napang beungut ja!25 Uma’ mana? Cepat rapkan barang-barang di lanting tu! Sebentar lagi kapal pemilir tiba di sini!”
Jadi…. Ini kah hari dimana lanting Uma’ akan dimilirkan, digusur? Sungguhkah Uma’ merelakan lanting impian beliau direbut, digantikan dengan uang yang tak seberapa nilainya itu?

“Ma’! Bangun, Ma’! Lanting piyan, Ma’!”

Panik Aku berlari menuju kamar Uma’. Kuguncang-guncangkan tubuh beliau dengan hebat dan memanggil cepat-cepat, tak peduli pada tubuh Uma’ yang masih rehat. Dari jendela kamar, tampak orang-orang menautkan tali-tali tambang besar pada beberapa bagian lanting Uma’. Kak Mansyah dan orang-orang lain, yang tak satu pun Kukenali, hilir mudik memindahkan barang-barang dari lanting menuju pelataran belakang rumah kami.

Terdengar pula lengking omelan Amang Jamran dan orang-orang sekitar. Mereka pun tak rela bila lanting mereka tergusur. Beberapa jerit tangis, memecah kesunyian pagi nan segar. Namun entah mengapa, Uma’ tak jua tersadar dari tidur.

“Ma’! Bangun, Ma! Lanting piyan digusur Kak Mansyah, Ma’!”
Kepanikan membuatku hilang akal. Tak tahu harus apa dan bagaimana. Masih dari jendela kamar, terlihat kapal pemilir telah selesai menautkan rumah-rumah lanting milik Uma’, Gulu Jamran, Acil Rusdiah dan Amang Udin. Kini keempat buah lanting berjejer-bergandengan dengan rapi. Siap untuk ‘diseret’, dibawa oleh kapal pemilir.

Sejenak Aku berlari menuju pintu. Namun… Tidak! Uma’ harus tahu! Beliau harus lihat sendiri semua ini! Segera Aku kembali ke sisi Uma’.
“Uma’! Bangun, Ma’!”

Aneh! Aneh sekali! Tak sedikit pun tidur Uma’ terusik oleh tingkah panikku. Wajah keriput Uma’ tetap tenang dalam tidurnya. Perlahan, Kusentuh jemari keriput Uma’ yang penuh dengan uliran arteri di sana-sini. Begitu dingin.. begitu kaku..

Kuraba pergelangan Uma’. Terasa olehku denyut nadi yang amat lemah. Semakin lama.. semakin melemah. Entah mengapa, makin Kuhayati denyut itu, makin lemah pula detaknya. Tiap detik, denyut nadi Uma’ semakin memudar…  memudar…  dan memudar…  Hingga tak tersisa lagi, meski hanya satu… satu…
Tiba-tiba Aku teringat kalimat Uma’ dahulu :
“Uma’ tadi mimpi aneh. Tiba-tiba ja lanting Uma’ tiada”
“Hah? Tiada? Maksud Uma’… hilang?”
“Bukan hilang! Entah kenapa.. lanting Uma’ itu terlihat seperti mengabur. Tak tampak lagi. Aneh! Waktu Uma’ dekati, ia semakin mengabur. Apa jar urang tu? Pudar kah?”
Tanpa Kusadari airmata deras meleleh di kedua pipiku.
* * *

Kehadapan sungai yang tak lagi bening, Aku menggugat. Mengapa ia tak lagi bersahabat? Mengapa kini ia berkhianat? Hingga semua kenangan kejayaan indah masa lalu, memudar dilumat oleh waktu.

Banjarmasin, 2012/2013
Tuk banuaku : mari rebut impianmu kembali!

_Selesai_
Keterangan istilah dan Bahasa Banjar :
1ibu, mama
2buah-buahan khas Pulau Kalimantan (Gumbili : ubi madu.  Rambai : serupa duku/langsat, namun rasanya lebih asam, dagingnya lebih penuh dan tebal, dan lebih berair, kulit luarnya lebih kuning, lebih tebal dan tak banyak bergetah. Kapul : serupa manggis namun berwarna kuning muda dan kulitnya sangat tebal, pada ujung buahnya tak terdapat bentuk bintang, pada tangkainya juga tak terdapat mahkota)
3 perahu
4kue camilan berisi inti kelapa parut bergula merah
5sejenis pohon kayu yang banyak tumbuh di Pulau Kalimantan, sering juga disebut dengan kayu besi (Bahasa Latin : eusideroxylon zwageri)
6Hari ni piyan (panggilan untuk orang tua) tidak jualan ya?
7Saya berangkat ya
8Bosan juga Ibu pabila hanya bengong di rumah.
9Sudahkah kau tanyakan kepada Amang (sebutan untuk orang yang dituakan, Pak de : jawa)
10Iya (diucapkan kepada yang lebih tua/dewasa)
11  Sayur labu (biasanya menggunakan santan) yang serupa lodeh, dan ikan sepat kering
12Pokok kayu yang ditancapkan di dasar sungai, sebagai tempat tegak dan diikatkannya kayu gelondongan yang disebut ‘batang’ atau dermaga. ‘Batang’ biasanya terbuat dari kayu gelondongan yang diapungkan di atas air
13bagus juga kayu milik Anda ini ya, Julak (sebutan untuk orang yang dituakan, Buk le atau Pak le : Jawa)
14 bagaimana ya? Lihat saja nanti!
15perahu bermesin
16 kudapan-kudapan berbahan dasar pisang
17Nenek-kakek
18Akhir-akhir ini, Ibu sering sekali memimpikan kenangan masa lampau itu
19 Apa ya sebutan orang?
20 Tidak!
21 Beritahu kakakmu ini
22 Benarkah, Bu?
23Lebih senang orang lain bahagia, tapi ibu sendiri menderita, begitu ya?
24Ibu lelah
25kenapa bengong saja?

Comments

comments